Tetek Bengek

Bandung Mawardi*, Majalah Tempo, 6 Maret 2017

Di majalah Liberty edisi Mei 1931, pembaca bertemu dengan esai garapan Liem Khing Hoo berjudul “Menoelis Tjerita”. Alinea awal menerangkan sejarah cerita pendek berbahasa “Melajoe”. Liem Khing Hoo menulis: “Sampe pada limabelas taoen jang laloe, dalem pembatja’an Melajoe-Tionghoa orang amat soeka sama salinan tjerita-tjerita Tiongkok dan laen-laennja. Tapi sekarang roepanja orang berbalik gemar sama tjerita-tjerita jang meloekiskan kedjadian antara penghidoepan di Indonesia. Tjerita pendek poen moelai disoeka dengen dibarengin moentjoelnja banjak penoelis-penoelis tjerita.” Esai dua halaman dari masa 1930-an itu pantas jadi ingatan usaha mengajak orang-orang mengerti tata cara menulis cerita pendek.

Nasihat penting: “Menoelis tjerita dalem bahasa Melajoe tida haroes oeloer pandjang-lebar segala soal-djawab tetek bengek, kerna bahasa Melajoe ada bahasa miskin, begitoe sedikit kembang perkataan-perkataan moeloek dan jang bisa bawa terbang orang poenja soemangat seperti itoe bahasa Tionghoa, Inggris atawa Djawa dan laen-laennja.” Sebuah kalimat dengan mudah mampu membarakan polemik bahasa, sastra, dan bangsa. Tapi kita memilih untuk mengurus pilihan istilah dalam sebuah kalimat. Liem Khing Hoo menulis istilah “tetek bengek” berkaitan dengan penggunaan bahasa bagi penulis cerita pendek. Apakah arti “tetek bengek” sesugguhnya?

Puluhan tahun berlalu dari esai garapan Liem Khing Hoo, istilah “tetek bengek” menghuni Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952) susunan W.J.S. Poerwadarminta dan Kamus Moderen Bahasa Indonesia (1952) susunan Sutan Mohammad Zain. Tetek bengek masih awet dalam penggunaan secara lisan dan tulisan. Poerwadarminta mengartikan “segala hal jang remeh temeh” atau “kurang penting, tidak berguna, omong kosong”. Zain memberi arti “perkara ketjil-ketjil jang tidak berarti”. Di Jawa, istilah itu lekas mengingatkan tetek. Zain mengartikan tetek adalah “puting susu” atau “susu perempuan jang beranak”. Kapan tetek berpasangan dengan bengek? Kita tak bisa menuntut jawaban dari Poerwadarminta atau Zain. Dulu Liem Khing Hoo cuma menulis tetek bengek sebagai kelaziman berbahasa saja. Semula tetek itu tanda kemuliaan perempuan atau ibu. Tetek berpasangan bengek justru memunculkan arti melesat jauh dari mulia dan penting.

Setiap istilah terkadang meninggalkan sejarah pada masa silam, tak teraih nalar dan imajinasi. Pengguna dalam tulisan di urutan pertama mungkin bukan Liem Khing Hoo. Istilah tetek bengek sanggup melintasi tahun-tahun saat bahasa Indonesia semakin menggeliat ke pemodernan. Kamus-kamus setelah Poerwadarminta dan Zain masih memuat tetek bengek. Wojowasito dalam Kamus Bahasa Indonesia (1972) memberi arti “segala hal tak berguna”. Tetek masih berpasangan dengan bengek.

Kita terkejut saat membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001). Tetek diceraikan dari bengek. Perceraian tanpa keterangan. Tetek berarti “masalah yang kecil-kecil dan remeh-remeh” atau “kurang penting, kurang berguna”. Bengek tak ditemukan lagi, terusir dari kamus. Pasangan itu berubah nasib. Dulu pertemuan dan pemasangan tetek bengek tanpa ada penjelasan. Puluhan tahun berlalu, perceraian tetek dari bengek tetap saja tak disertai secuil keterangan. Penghilangan bengek agak menimbulkan penasaran dalam memahami contoh penggunaan kalimat di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kalimat pendek tapi aneh: “Masalah tetek di keluarga perlu juga diselesaikan.” Pembaca bisa menduga tetek itu susu atau masalah remeh-remeh. Kita tak perlu mendatangi kantor pembuat Kamus Besar Bahasa Indonesia untuk mencari bengek agar tak salah memahami kalimat mengandung tetek. Kamus tebal itu telah mengusir bengek, mengusir ingatan kebahasaan masa lalu.

Abad XX berlalu dengan kehilangan bengek. Apakah bengek masih bisa berpasangan dengan tetek? Jawaban ditemukan dalam tulisan Ahmad Fuadi di majalah Tempo edisi 26 September-2 Oktober 2016. Esai pengakuan berjudul “Belajar Jadi Orang Besar” memuat pertemuan lagi tetek bengek. Fuadi memulai belajar di Pondok Modern Gontor tanpa didampingi orang tua. Lelaki asal Sumatera Barat itu harus mengurusi diri sebagai santri tanpa kemanjaan pada orang tua. Fuadi mengaku: “… kini mengurus tetek bengek sendiri, dari mencuci, mengatur makan, sampai mengikuti kegiatan sejak subuh hingga pukul 10 malam.” Pengarang novel Negeri 5 Menara itu masih menganggap tetek bengek sebagai pasangan setia dan langgeng. Kita mungkin agak terganggu jika Fuadi menghilangkan bengek demi menuruti kemauan penggarap Kamus Besar Bahasa Indonesia. Fuadi bukan lelaki kelahiran masa 1930-an tapi masih mewarisi istilah tetek bengek, bukan tetek saja. Fuadi pun tak tega mengusir bengek.

* Pengelola Jagat Abjad Solo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s