Mini

Samsudin Adlawi*, Majalah Tempo, 13 Mar 2017

Pertamina dan Pertamini. Dua nama yang mirip sekali. Hanya beda satu huruf terakhir: “a” dan “i”. Tak aneh jika kita mengira keduanya memiliki “pertalian darah”. Apalagi setelah melihat sepak terjang Pertamini yang sangat lincah seperti Pertamina. Dalam waktu singkat, ia sudah bertebaran di mana-mana. Berdiri di pinggir-pinggir jalan. Setia menunggu kendaraan yang kehausan di tengah perjalanan. Menunggu sepeda motor dan mobil yang bahan bakar minyak (BBM)-nya menipis dan jarak ke stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) masih jauh. Atau si pemilik kendaraan malas pergi ke SPBU karena jarak rumahnya lebih dekat ke Pertamini.

Penampilan Pertamini boleh dibilang persis Pertamina. Jenis font yang sama. Logo dan warna tulisan yang mirip.

Namun ternyata Pertamini tak memiliki hubungan darah dengan Pertamina. Meski Pertamini menjual produk BBM, BBM itu tidak diperoleh langsung dari Pertamina, tapi dibeli dari SPBU.

Pertamini adalah evolusi dari kios-kios kecil penjual BBM di pinggir jalan yang lazimnya dilakukan di halaman rumah warga. Entah bagaimana dan siapa yang memulai, kios kecil BBM itu tiba-tiba menjelma menjadi Pertamini, yang parasnya lebih modern. Penampilannya sudah menyerupai SPBU. Sementara tangki stok BBM di SPBU ditanam di bawah tanah, tangki stok BBM Pertamini disimpan di dalam kotak paling bawah. Di atas tangki penampungan terdapat pompa manual. Jika tuas diputar, BBM dari tangki penampungan utama akan naik ke tabung penampungan berbentuk bulat transparan. Laiknya SPBU, Pertamini dilengkapi nozzle, yakni alat untuk mengalirkan BBM ke tangki sepeda motor atau mobil pembeli.

Dari sudut pandang komunikasi bisnis, penamaan Pertamini sangat mungkin bisa merusak image Pertamina sebagai perusahaan besar. Sebab, Pertamini menggunakan jenis font, warna tulisan, dan logo yang dipakai Pertamina. Kesamaan itu membuat khalayak langsung mengira Pertamini milik Pertamina. Dari perspektif bahasa, masyarakat makin tersesat. Mereka menganggap Pertamini itu sebagai Pertamina kecil. Sebab, dalam benak kebanyakan orang, yang namanya “mini” identik dengan sesuatu yang kecil. Membuat “format” mini dari Pertamina jelas salah kaprah karena itu adalah singkatan dari Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara. Jika “Mina” diganti “Mini”, kepanjangannya bukan lagi “Minyak dan Gas Bumi Negara”, melainkan “Minyak dan Gas Bumi Negari”.

Penggunaan istilah “mini” yang kurang tepat juga bisa ditemukan pada frasa “rok mini”. “Mini” lebih identik dengan “kecil’ dan “sedikit”. Istilah “minimalis” melukiskan hal yang kecil dan sedikit. Misalnya, laporannya terlalu minimalis. Maksudnya: terlalu sedikit dan ringkas. Untuk rok, lebih cocok menggunakan kata “pendek” daripada “mini”, sesuai dengan fakta fisiknya. Kita ketahui bahwa “rok mini” adalah rok berukuran pendek di atas lutut.

Orang Madura lazim menyebutnya “rok tinggi”. Kalau terlalu rendah, roknya bisa menyentuh tanah tak iye. Ingat cerita guyonan B.J. Habibie saat berkunjung ke Madura. Sambil menunjuk ke arah tiang bendera, dia bertanya kepada seorang murid di sana: “Coba kamu hitung, berapa panjang tiang bendera itu.” Dengan sigap si murid langsung merebahkan tiang bendera. “Kenapa kamu rebahkan tiang benderanya?” tanya Habibie. “Kalau tetap berdiri, pertanyaannya bukan berapa panjangnya, Pak Presiden, tapi berapa tingginya,” jawab si murid cerdas.

Orang yang tinggal di Jakarta pasti akrab dengan “metromini”, salah satu tipe bus di Ibu Kota yang berwarna khas: merah-oranye-biru dengan kombinasi garis putih di tengah. Istilah “metromini” perlu dilacak lebih teliti. Kenapa tidak memakai istilah “minibus” atau “bus mini” kalau pengertiannya adalah “angkutan umum, biasanya di dalam kota berupa bus kecil” (Kamus Besar Bahasa Indonesia)? Kamus Besar mengartikan lema “metro” sebagai “jaringan jalan kereta api di bawah tanah”. Dan di sejumlah negara di Eropa, “metro” memang merupakan moda angkutan massal yang punya rute khusus di bawah tanah kota setempat. Seharusnya, jika taat bahasa, metromini beroperasi menyusuri jalan di bawah tanah, bukan di atas permukaan aspal seperti yang ada saat ini.

Kata “mini” dalam Taman Mini Indonesia Indah (TMII) telah menyelamatkan penggunaan “mini”. Secara makna, “mini” dalam TMII merepresentasikan provinsi-provinsi di Indonesia. Bentuk fisik bangunan sampai detail ornamennya dibuat persis seperti bangunan asli dalam bentuk mini. Itu sebabnya TMII disebut sebagai miniatur Indonesia. Indonesia kecil. Bagi yang ingin banyak tahu tentang provinsi di Indonesia tapi tidak punya banyak waktu dan duit, cukup datang ke TMII.

* Wartawan Jawa Pos

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s