Bahasa Lepas Konteks

Bambang Kaswanti Purwo*, KOMPAS, 18 Mar 2017

Manakala menjumpai kata yang tidak diketahui maknanya, ada jalan keluar: buka kamus. Misalnya, makna kata mengeak pada terdengar olehku suara anak mengeak (novel La Hami, Marah Rusli) dapat ditelusuri pada Kamus Badudu-Zain (1994). Tercatat di situ kata ngeak berasal dari bahasa Minang dengan makna ’suara bayi yang baru lahir’.

Bagaimana dengan makna kalimat? Tidak tersedia ”kamus kalimat” sebab tak terbilang jumlah kalimat yang dapat dibuat di dalam bahasa. Lain halnya dengan kata, jumlahnya terbatas dan tetap dapat dihitung, meskipun terus berkembang jumlahnya dari masa ke masa.

Dalam perkembangannya dari masa ke masa, ada kata yang memunah, tidak lagi digunakan oleh penuturnya, ada pula kata-kata baru yang muncul. Kata rakit (mobil rakitan Indonesia), misalnya, muncul pada akhir tahun 1970-an sebagai padanan dari assembling. Pada masa itu belum ada kata canggih, padanan dari sophisticated, apalagi kata gawai (padanan dari gadget), yang baru beredar akhir-akhir ini.

Jadi, lain halnya dengan kalimat, kata dapat terus dicatat seiring dengan perkembangan jumlahnya. KBBI Edisi IV merekam 90.049 kata (lema) dan KBBI Edisi V, yang diluncurkan pada Hari Sumpah Pemuda tahun lalu, memuat sejumlah 127.036.

Meskipun tidak tersedia kamus kalimat, makna kalimat dapat ditangkap apabila terpahami makna kata yang terdapat di dalamnya. Namun, tidak sesederhana itu ihwal makna kalimat, sebab makna kata yang diurai pada kamus dapat lebih dari satu (istilahnya ”polisemi”).

KBBI menoreh delapan makna kata muka, tetapi mengapa penutur bahasa saat menjumpai atau menggunakan kata muka, misalnya, saat kata itu digunakan di dalam kalimat, tidak terpeningkan dengan pilihan makna yang bisa banyak itu? Rupanya kata cenderung bermakna satu manakala dipakai dalam rangkaian dengan kata lain. Sebagai contoh, makna kata muka pada membasuh muka berbeda dengan muka pada berdiri di muka rumah; lain pula muka pada daratan di muka bumi.

Tidak hanya kata yang ketersediaan maknanya bisa banyak. Kalimat pun pilihannya juga bisa banyak, juga terbuka kemungkinannya apabila dilepaskan dari konteks penggunaannya. Siapa pun yang disodori hanya satu kalimat, kemudian masing-masing diminta menjelaskan makna dari kalimat yang sama dan yang hanya satu itu, akan muncul berbagai makna kalimat.

Satu kalimat ”Aku bangkit menerimanya.” dilayangkan di Facebook ”bambang kaswanti” 8 Maret 2017 dengan pertanyaan ”Apa makna kalimat ini?” Alhasil, penanggap Facebook menuliskan makna kalimat masing-masing, mengikuti daya kreatif dan imaginatifnya menciptakan konteks. Ada yang mengartikan –nya sebagai ’sesuatu’, sebagai ’hadiah’, ’penghargaan’, ’hasil ulangan (di kelas)’, ’obat (di apotek)’, ’minuman herbal’, ’surat pemecatan tugas’, ’perintah atasan’, ’tantangan’, ’kenyataan’, ’lamaran (dari kekasih)’, ’vonis terkena kanker’, ’kejadian pahit’, ’apa adanya’.

Penjelasan makna menerima pada kalimat itu pun dibumbui macam-macam rasa hati: ’dengan terpaksa’, ’dengan positif’, ’ikhlas’, ’kecewa (karena terluka hati)’, ’legawa (lapang dada)’, ’pasrah’. Macam-macam pula gambaran tindakan bangkit: ada yang dari duduk, tiduran, dari kegagalan, keterpurukan. Ada yang mencoba menduga-duga: kalimat itu diambil dari novel terjemahan. Kalimat itu dikutip dari tulisan asli bahasa Indonesia, Tuyet: Kisah dari Negeri Perang (Gramedia, 1978), oleh Bur Rasuanto, yang mengisahkan masa petualangan tokoh ”aku” dalam cerita di Indocina. Konteksnya begini: ”Pada saat itu tiba-tiba telepon berdering. Aku bangkit menerimanya. Ternyata Thi yang berbicara di ujung sana. Dia menanyakan kabarku dan kapan aku bisa mulai mengajar kembali.” (Tuyet, 97)

* Guru Besar Linguistik Unika Atma Jaya Jakarta

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s