Penulisan Frase Idiomatis

Kurnia J.R.*, KOMPAS, 1 Apr 2017

Bahasa Indonesia memiliki frase idiomatis angkat topi sebagai ekspresi penghormatan atau apresiasi. “Saya angkat topi untuk keberanian remaja itu menerobos api demi anak kecil yang terjebak di kamar”.

Bahasa Inggris menggunakan frase pay respect untuk mengungkapkan penghargaan, apresiasi, atau penghormatan yang dengan bahasa tubuh ditunjukkan dengan mengangkat topi sejenak, sedikit di atas kepala. Kesan visual itu kita rekam menjadi frase angkat topi. Beberapa frase idiomatis kita memang berasal dari rekaman visual budaya Barat, di antaranya angkat bahu.

Khazanah gestur khas Barat yang besar pengaruhnya secara global, antara lain, kita saksikan dalam film animasi Kung Fu Panda.Film berlatar budaya China klasik itu sarat dengan bahasa tubuh yang sepenuhnya Amerika. Apabila kita cermat memperhatikan, akan terasa sekelumit kejanggalan menyaksikan para tokoh hewan imut yang malang melintang di dunia persilatan China di film itu-diasumsikan mereka figur-figur China klasik- sesungguhnya tampil dalam sosok-sosok pribadi Amerika dengan ujaran-ujaran filosofis yang juga tipikal Amerika.

Nah, sebagai frase idiomatis, angkat topi tak bisa seenaknya ditulis “mengangkat topi”. Saya merasa perlu membahas soal ini setelah menemukan praktik penulisan demikian, yang juga dilakukan pada beberapa frase idiomatis lain, di sejumlah buku. Para penulis dan editor perlu mempertimbangkan kasus ini.

Ketika ditulis “saya mengangkat topi”, makna idiomatis frase angkat topi tidak lagi tajam; jadinya cenderung harfiah “mengangkat suatu benda”. Kendati memang menyodorkan visual memberi penghormatan, penulisan demikian menyia-nyiakan makna idiomatis angkat topi yang sudah jadi konvensi. Frase-frase yang hampir mirip, antara lain, angkat bahu, angkat bicara, angkat kaki, dan angkat tangan.

Mengenai frase angkat tangan, maknanya bukan lagi menyerah apabila ditulis “mengangkat tangan”, yang menggiring kesan pembaca ke konteks sebuah kelas, ruang kuliah, atau forum seminar. Seseorang mengangkat tangan sebagai isyarat meminta izin untuk bicara, misalnya.

Angkat kaki beda artinya dengan mengangkat kaki, bukan? Bagaimana dengan “mengangkat bahu”? Ini malah absurd jadinya. Kasus semacam ini cukup untuk memberi penegasan bahwa frase idiomatis tidak perlu ditambahi imbuhan atau pengembangan bentuk secara sewenang-wenang. Frase unjuk rasa sering ditulis “berunjuk rasa” oleh para reporter dan editor. Tidak ada yang merasa bahwa ini berlebihan, padahal penulisan unjuk rasa saja sudah memadai.

Ada beberapa frase idiomatis yang sudah dianggap lumrah ditulis dengan imbuhan. Meski tak seharusnya dilakukan, namun telanjur digunakan dalam waktu lama. Contohnya, frase banting tulang, lapang dada, dan jaga mulut. Kita kerap menulis dan membaca frase “membanting tulang” tanpa membayangkan secara harfiah ada seseorang membanting sepotong tulang. Kita tidak merasa asing dengan frase “melapangkan dada” karena meskipun ditulis demikian, tetap bermakna kiasan, yakni mengikhlaskan sesuatu yang hilang atau kemalangan yang menimpa. Kita pun dapat memaklumi frase “menjaga mulut” sebagai idiom yang searti dengan “menjaga perkataan” untuk “menjaga perasaan” orang lain, sebagai sikap awas, tanpa tergoda visualisasi tentang seorang penjaga gawang siaga mengawasi bola di kaki lawan, misalnya.

Bahasa hidup dinamis bersama penuturnya. Bukan sekadar benda mati yang kaku, membeku. Berpotensi plastis dan elastis, bahasa dituntut luwes mewadahi beragam ekspresi komunitas penutur yang terus berkembang dalam dinamika peradaban. Walaupun demikian, disiplin saat menuliskan frase idiomatis tetap berlaku. Misalnya, untuk frase bertukar pandang, berbagi rasa, campur tangan, gigit jari, lepas tangan, main mata, main tangan, dan lain-lain.

* Pujangga

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s