Arti Sebuah Nama

Qaris Tajudin*, Majalah Tempo, 3 Apr 2017

Ketika saya menggelar akikah untuk anak pertama, seorang kerabat bertanya kenapa saya tidak menamai anak saya dengan nama Islam. Nama anak saya, Inez Sang Pelangi Senja, memang tidak berasal dari bahasa Arab.

Saya hanya tersenyum saat ada keluarga yang menyampaikannya. Pertanyaan itu tidak langsung disampaikan kepada saya, maka saya tidak menanggapinya. Bagi saya, Islam atau bukan tidak ditentukan oleh bahasa asalnya, tapi lebih oleh maknanya. Setiap nama yang baik-entah dari bahasa Arab, Inggris, Indonesia, entah dari bahasa lain-adalah nama yang islami. Tidak ada kewajiban dari teks agama kami untuk menamai anak dengan bahasa tertentu.

Semangat untuk menamai anak dengan nama yang islami inilah yang membuat belakangan ini pemakaian nama asli Indonesia sedikit berkurang. Di sekolah tempat anak saya belajar, 80 persen nama wali murid adalah nama asli Indonesia, tapi 80 persen nama murid berasal dari bahasa Arab. Tentu saja tidak ada yang salah dalam hal ini, karena 100 persen nama itu memiliki makna yang baik.

Tapi apakah nama Indonesia itu?

Indonesia termasuk unik, karena meski agama menjadi faktor dalam penamaan, tidak selalu nama bisa menunjukkan agama yang dipeluknya. Banyak Wisnu yang beragama Islam, misalnya. Orang Minang juga senang menamai anak mereka dengan nama Eropa, meski mereka penganut Islam yang taat.

Ada kejadian menarik saat seseorang dari Indonesia mendaftar untuk belajar di Universitas Al-Azhar di Mesir. Ia sempat ditolak karena dianggap seorang Nasrani. Setelah ditelusuri, ini karena namanya: Iskandar. Orang Arab menganggap Iskandar (pengaraban dari Alexander) adalah nama Nasrani. Setelah diterangkan bahwa nama itu lazim dipakai oleh muslim di Indonesia, baru mereka bisa mengerti.

Sebaliknya, nama yang dianggap islami, seperti Umar atau Omar, di Timur Tengah tidak selamanya dipakai oleh muslim. Omar Sharif adalah penganut Kristen Koptik. Demikian juga Fairuz, penyanyi Libanon yang berasal dari Gereja Maronit.

Agama adalah salah satu faktor dalam pemberian nama, selain asal suku, budaya, kekaguman kepada seseorang, waktu, dan tempat. Begitu banyak faktor hingga bisa dikatakan Indonesia merupakan salah satu negara yang penduduknya amat kreatif dalam memberikan nama untuk anak-anak mereka. Bahkan beberapa nama berbahasa asing (Arab, Latin, Sanskerta, dan sebagainya) akan susah ditemukan di negara selain Indonesia. Nama saya sendiri, misalnya. Sangat susah, bahkan bisa dikatakan mustahil mendapati orang Arab bernama Qaris yang artinya dingin sekali.

Begitu kreatif dan beragamnya latar belakang penamaan di Indonesia hingga kita agak kesulitan merumuskan aturan yang baku dalam penyebutan nama. Di sebagian besar negara, orang dipanggil dengan nama keluarganya. Orang Eropa, Arab, dan Jepang, misalnya, meletakkan nama keluarga di belakang, seperti Hillary Clinton dan Haruki Murakami. Hal yang sama berlaku di sejumlah suku di Indonesia, seperti Batak (T.B. Simatupang), Minang (Andrinof Chaniago), dan Maluku (Andre Hehanusa).

Ada juga suku, seperti Aceh, yang kerap memakai daerah asal sebagai nama belakang. Tjik di Tiro berasal dari Tiro (Pidie). Sebagian orang Arab memakai cara ini juga untuk nama belakang. Untuk kedua kategori ini, kita bisa memanggil mereka secara resmi dengan nama belakang: Nyonya Clinton, Tuan Silalahi, Tuan Murakami, atau Tuan Tiro.

Kerap orang Indonesia memiliki nama dengan lebih dari satu kata, tanpa satu pun yang merupakan nama keluarga. Dalam kasus ini pun masih sah memakai kata paling belakang untuk memanggilnya.

Beda kasusnya dengan orang-orang yang memakai nama ayah mereka sebagai nama belakang. Mereka tidak bisa dipanggil dengan nama belakangnya. Abdurrahman Wahid tidak bisa dipanggil Wahid, karena Wahid adalah nama ayahnya. Sama seperti saya. Jika ada yang memanggil Pak Tajudin, yang akan menyahut adalah ayah saya. Bentuk asli dari nama-nama seperti ini memakai bin (putra) atau binti (putri): Abdurrahman bin Wahid bin Hasyim atau Qaris bin Tajudin.

Panggilan dengan nama belakang juga tidak bisa dipakai untuk nama Tionghoa atau Korea. Nama panggilan resmi untuk mereka adalah nama keluarga yang diletakkan di depan, seperti Tuan Lim untuk Lim Swie King. Ketika memakai nama Eropa, baru nama keluarga diletakkan di belakang, seperti Jacky Chan atau Jet Lee.

Keunikan lain dari nama Indonesia adalah memakai nama yang seharusnya merupakan nama belakang sebagai nama depan. Misalnya Thontowi Yahya atau Sayuti Melik. Aslinya, di Mesir, Thontowi berarti orang Thonto (Tanta) dan Sayuti atau Suyuti adalah orang Asyut. Thontowi, Sayuti, Sanusi (orang Sanus), Bukhari (orang Bukhara, Uzbekistan), dan Masri (orang Kairo) di Arab dipakai sebagai nama belakang, seperti kasus pada beberapa nama orang Aceh yang memakai daerah asal sebagai nama belakang.

Keunikan lain adalah kita kerap memakai gelar sebagai nama, baik nama depan maupun belakang. Misalnya Efendi, yang merupakan gelar kebangsawanan di Turki, atau Siti, yang sebenarnya adalah peringkasan dari sayyidati (my lady, puanku). Walhasil, nama di Indonesia amat unik, karena kita amat beragam. Bahasa Indonesia harus lebih fleksibel dan tidak bisa menerapkan satu aturan yang sama pada keberagaman ini.

* Wartawan Tempo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s