Online Bersaing

Meirisa Isnaeni* (Media Indonesia, 9 Apr 2017)

Perkembangan internet yang begitu cepat telah berdampak pada semua aspek kehidupan, mulai pendidikan, budaya, sosial, hingga ekonomi. Dalam bidang pendidikan, misalnya, ada ujian nasional berbasis komputer atau dikenal sebagai ujian online. Dalam bidang sosial, ada ojek online dan taksi online yang saat ini menimbulkan kontroversi. Bidang ekonomi pun tidak mau ketinggalan, yaitu ada belanja online yang saat ini kian banyak pelakunya. Secara perlahan, pelayanan pada beberapa bidang itu pun berpindah dari dunia nyata ke dunia maya, dari offline ke online.

Pergeseran itu pun akhirnya berpengaruh terhadap bahasa baik secara langsung maupun tidak langsung, yang akhirnya menimbulkan fenomena bahasa, yakni menjamurnya pemakaian kata online. Fenomena kebahasaan itu bisa dengan mudah ditemukan di media. Misalnya, “Sopir Angkot dan Ojek Online Saling Serang” (Kompas.com, Senin 20/3), “Toko Online Menjamur, Pedagang Pasar Tanah Abang Waswas” (Detik.com, Selasa 4/4), “200 Situs Belanja Online Ramaikan Harbolnas 2016” (Tempo.co, Senin 12/12/2016), “SIM Online Mudahkan Masyarakat Perantauan” (Metrotvnews.com, Rabu 25/1), dan “Perpustakaan Online Tel-U Publish Karya Ilmiah” (Antaranews.com, Jumat 30/9/2016).

Kata online yang berhamburan pun akhirnya sangat akrab dan familier di telinga kita sehingga sering dirangkai layaknya kata dalam bahasa Indonesia, misalnya ojek online, belanja online, perpustakaan online, kamus online, dan kencan online. Jika ditelaah lebih lanjut, ternyata gabungan tersebut salah karena struktur frasa bahasa Indonesia berbanding terbalik dengan bahasa Inggris.

Lazimnya, bahasa Indonesia menggunakan hukum diterangkan-menerangkan yang disingkat dengan hukum DM, sedangkan dalam bahasa Belanda dan bahasa Inggris yang berlaku justru kebalikannya, yakni hukum menerangkan-diterangkan (hukum MD).

Contoh penerapan hukum ini, misalnya, pada kata media sosial dan buku baru. Dalam frasa media sosial, kata media diterangkan kata sosial. Demikian juga dalam frasa buku baru, kata buku diterangkan kata baru. Jika dalam bahasa Inggris, frasa media sosial menjadi social media. Pun pada frasa buku baru menjadi new book.

Pada kasus ojek online, struktur yang tepat seharusnya menjadi online taxi bike. Online (unsur M) dan taxi bike (unsur D), sesuai dengan hukum MD dalam bahasa Inggris. Namun, jika diubah ke bahasa Indonesia, frasa itu diganti menjadi ojek daring. Ojek (unsur D) dan daring (unsur M), mengikuti kaidah hukum DM. Begitu pula toko online seharusnya menjadi online shop atau toko daring, dan perpustakaan online menjadi online library atau perpustakaan daring.

Pada kasus itu, alangkah lebih baik jika kata online yang bercampur dengan bahasa Indonesia diganti dengan kata yang sudah ada di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yaitu kata daring. Dalam KBBI Edisi V, daring mempunyai arti ‘dalam jaring(an), terhubung melalui jejaring komputer, internet, dan sebagainya’.

Penyimpangan hukum DM pada konteks seperti itu kerap muncul karena penerimaan terhadap bahasa asing, utamanya dari bahasa Belanda dan bahasa Inggris, digunakan apa adanya tanpa melakukan penyerapan, pemadanan, dan pengurutan kata. Padahal, itu dapat diperbaiki dengan menggali kosakata asli bahasa Indonesia dan taat pada hukum diterangkan–menerangkan (DM).

* Staf Bahasa Media Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s