Ngakak Cetar Membahana

Kurnia J.R.*, KOMPAS, 22 Apr 2017

Di panggung lawak Srimulat ada adegan suami memanggil istrinya, “Mami!” Lalu muncullah perempuan jadi-jadian seraya tergopoh-gopoh bertanya, “Ada apa, Pipa?” Sang suami kaget, “Lo, kok, Pipa?” Istri yang montok, tapi berangasan itu menjelaskan dengan centil, “Kalau Papi kecil. Pipa kan besaaar.”

Terserah penonton mau mengasosiasikan dengan apa tentang yang kecil dan besar itu. Yang jelas, bunyi vokal dalam bahasa Indonesia dan sebagian bahasa daerah, pada suku kata akhir sebagai penekan makna, lazim diasosiasikan dengan arti kecil dan besar untuk sejumlah hal. Jika pentil berasosiasi dengan sesuatu yang kecil, ada pentol yang menurunkan kata pentolan untuk tokoh besar dalam suatu kelompok.

Bahasa Sunda dan Jawa juga mengasosiasikan bunyi /i/ dengan sesuatu yang kecil, misalnya leutik, alit, dan cilik untuk kecil; agung, ageung, dan ageng untuk besar. Akang atau kakang untuk saudara tua, rayi untuk saudara muda. Abang artinya kakak dalam bahasa Betawi dan adek adalah pelafalan untuk adik.

Istilah Betawi untuk terbahak ialah ngakak, maka ada istilah cekakakan. Ada ngikik buat tawa terkikik, tertawa kecil, tawa tertahan di kerongkongan, jadi ada cekikikan. Keduanya selevel dalam hal rasa tergelitik. Bedanya, yang satu eksplosif-terbuka, yang lain konspiratif-tertutup.

Mungkin karena jemu dengan yang ada, seseorang di media sosial menulis ngekek-mungkin ini untuk tawa terkekeh, tetapi sukar mencari asosiasinya. Andai tokek bisa ketawa, bolehlah ngekek diasosiasikan ke tokek. Sudah ada ngakak, ngikik, dan ngekek, kita tinggal menunggu ngokok, kalau ada pembosan istilah yang sampai hati melontarkan kata itu di ruang publik.

Bahasa memang bersifat arbitrer, mana suka. Sekalipun tak selalu tertulis dan formal, toh, ada sistem yang mengatur produksi dan reproduksi kata dan derivasinya. Setiap komunitas bahasa secara intuitif menyadari konvensi itu. Tentu, dengan kelonggaran ruang bagi pemberontakan kreatif untuk memenuhi kebutuhan akan istilah baru.

Spontanitas adalah sumber kreativitas yang otentik dalam dinamika bahasa. Untuk interjeksi orang berujar aduh, yang lazim diikuti tanda seru. Ada juga idih buat menyuarakan rasa heran atau kurang sreg atas sesuatu. Kalau aduh bersifat eksplisit dan mencakup aksentuasi maskulin sekaligus feminin, idih cenderung implisit-feminin. Idih biasanya diungkapkan pria kepada wanita atau dari wanita ke sesamanya. Ketika idih diungkapkan lelaki kepada lelaki juga, kesannya mungkin idih banget!

Ledakan di angkasa akibat pergesekan awan bermuatan listrik positif versus negatif disebut petir, tapi tak ada petar. Bisa dibilang petir bukan versi kecil bagi petar. Sinonim petir adalah halilintar, geledek, geluduk, guruh, guntur, tetapi tak ada gelidik, girih, gintir. Jika petir dan bom meledak, untuk kompor, Benyamin S bilang meleduk. Semua kata itu berasosiasi dengan bunyi lantam dan berpotensi bahaya, yang pada umumnya merupakan onomatope.

Syahrini adalah selebritas yang sangat menyadari potensi bahasa bagi strategi komersial. Dia menciptakan slogan “cetar membahana” sebagai merek dagang personal. Dahsyat bunyinya. Seakan-akan terngiang di telinga, bunyi cambuk yang dikibaskan ke udara atau dilecutkan ke bumi. Bahkan bulu matanya dia bilang “anti-badai”. Dia selalu tampil mewah di muka publik sebagai kode asosiatif bahwa dia terlalu “wah” untuk diganda kelingking, diremehkan. Begitu maunya. Begitu mestinya, di bisnis hiburan.

* Pujangga

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s