Menerjemahkan atau Menjinakkan Kartini?

Joss Wibisono*, Majalah Tempo, 24 Apr 2017

Menerjemahkan sebuah naskah adalah mencari padanan kata, kalimat, atau ungkapan bahasa yang digunakan dalam naskah itu ke dalam bahasa lain. Padanan di sini mensyaratkan persamaan yang setaraf, yang berimbang atau berbobot sama. Lebih dari itu, penerjemahan juga mensyaratkan pemahaman nuansa sebuah tulisan; terjemahan yang berhasil akan berhasil pula menerjemahkan nuansa sebuah karya, apalagi kalau karya itu berbobot sastra.

Nuansa inilah yang sulit ditemukan pada terjemahan Sulastin Sutrisno atas surat-surat Kartini. Kartini menulis surat-suratnya dalam bahasa Belanda, sementara Sulastin Sutrisno, guru besar filologi Universitas Gadjah Mada, menerjemahkan surat-surat itu pada dua buku, masing-masing Surat-surat Kartini, Renungan tentang dan untuk Bangsanya, terbit 1979, dan Surat-surat kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri dan Suaminya, terbitan 1989. Buku terakhir lebih lengkap daripada buku sebelumnya. Terjemahan Sulastin bisa saja dianggap benar jika ditinjau dari setiap kata. Tapi, sayangnya, Sulastin tak begitu mementingkan bobot kata-kata pilihan Kartini. Tanpa nuansa, terjemahan surat-surat Kartini menjadi berbelit-belit dan sulit dipahami, apalagi oleh pembaca zaman sekarang.

Bahasa Belanda Kartini tidak hanya sempurna dan tanpa satu pun kesalahan, lebih dari itu dia juga menulis dalam gaya sastrawi. Banyak orang Belanda terheran-heran membacanya: bagaimana mungkin seorang gadis Jawa yang hanya berpendidikan HIS (sekolah dasar dengan bahasa Belanda sebagai bahasa kedua), ditambah les privat bahasa Belanda, bisa menulis begitu sempurna dan bergaya literer? Sampai pertengahan 1980-an, Profesor Andries Teeuw (almarhum), guru besar sastra Indonesia di Universitas Leiden, berpendapat bahwa “tidak dapat tidak bahasa Belandanya disunting, disempurnakan, dan disesuaikan dengan gaya khas literer oleh Tuan Abendanon, yang bertanggung jawab atas publikasi surat-surat itu” (lihat “Kartini dalam Bahasa Indonesia”, dalam Indonesia antara Kelisanan dan Keberaksaraan, 1994). Pada 1986, Profesor Teeuw “terpaksa meninggalkan praduganya” ketika membaca surat-surat asli tulisan tangan Kartini. Di situ terlihat bahwa “tak sepatah atau setitik pun tulisan Kartini diubah oleh Abendanon”. Teeuw mengakui bahwa Kartini memang dengan sempurna menguasai dan memanfaatkan bahasa Belanda gaya khas itu–sesuatu yang sangat dikaguminya.

Kartini adalah penulis bumiputra Hindia pertama yang menulis dalam bahasa Belanda sastra. Tak ada penulis bumiputra lain yang mendahuluinya. Justru tidak sedikit penulis yang mengikuti jejaknya, antara lain dua saudara sepupu Pakualaman, yaitu Noto Soeroto dan Soewardi Suryaningrat. Soewardi kemudian dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara. Dalam pamflet berjudul Als ik eens Nederlander was (seandainya dalam sekejap saja aku ini orang Belanda), Soewardi melanjutkan sinisme yang sudah dimulai Kartini ketika pada 1899 dari Jepara dia menulis “noem mij maar Kartini” atau “panggil saja aku Kartini”.

Bagaimana cara menerjemahkan bahasa sastra Kartini? Ini bukan perkara gampang. Sebagai contoh, berikut ini kalimat kedua pada alinea pertama surat pembuka (tanggal 25 Mei 1899) yang dikirim Kartini kepada Stella Zeehandelaar: “Ik gloei van geestdrift voor den nieuwen tijd en ja, ik kan wel zeggen, dat wat denken en voelen betreft, ik den Indischen tijd niet meeleef, doch geheel die mijner vooruitstrevende blanke zusters in het verre Westen.”

Terjemahan Sulastin: Hati saya menyala-nyala karena semangat yang menggelora akan zaman baru. Ya, bolehkan saya katakan, bahwa dalam hal pikiran dan perasaan, saya tidak turut menghayati zaman Hindia ini, tetapi saya sama sekali hidup sezaman dengan saudara-saudara saya perempuan berkulit putih di Barat yang jauh.

Terjemahan saya: “Aku membara terbakar hasrat zaman baru, dan ya, dapat kukatakan, tentang berpikir dan merasa, aku tak lagi hidup di Hindia, tapi sepenuhnya bersama saudari-saudariku kulit putih yang berpandangan maju di Barat nun jauh di sana”.

Membaca terjemahan Sulastin, kita layak bertanya, dari mana kata hati pada hati saya menyala-nyala? Kartini hanya menulis “ik gloei” yang saya terjemahkan sebagai “aku membara”; jelas tidak ada kata hati (bahasa Belanda hart) di situ. Kemudian mengapa gloei diterjemahkan sebagai “menyala-nyala” seperti lampu? Dan yang agak parah, ternyata Sulastin tidak menerjemahkan satu kata kunci: “vooruitstrevende” alias berpandangan maju. Teeuw menyebut omisi ini sebagai “kecerobohan kecil”.

Besar atau kecil, kecerobohan itu membuat Kartini berwajah lain dalam terjemahan Sulastin. Dia kehilangan gereget, kehilangan gelora, kehilangan tekad yang begitu membara. Kartini menjadi tidak langsung, bahkan berbelit-belit dan lebih berjarak. Memang Sulastin menghindari kata-kata modern, seperti korespondensi, pretensi, atau bahkan Anda, yang belum lahir ketika Kartini menulis. Tapi, dengan terjemahan yang begitu jinak, bahasa Kartini jelas sudah bukan lagi bahasa sastrawi, seperti tulisan asli karyanya.

Kartini sendiri tidak begitu gemar membaca terjemahan. “Walaupun terjemahan itu sudah begitu baik, tidak mungkin dia bisa seindah aslinya,” demikian Kartini menulis. Ketika nyaris tidak ada lagi publik pembaca Indonesia yang mampu membaca bahasa Belanda, penerjemahan kembali surat-surat Kartini menjadi pilihan yang mendesak, walaupun penulisnya sendiri tidak begitu menyukai penerjemahan.

* Penulis Saling Silang Indonesia Eropa

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s