Bacalah! Jangan!

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 29 Apr 2017

Sudah waktunya kita saling menasihati untuk jangan membaca terlalu banyak. Oh, ini bukan soal aktivisme. Baca melulu. Kerja kapan? Bukan, bukan itu. Sebagai pemalas besertifikat, penulis merasa bertanggung jawab menjelaskan bahwa sebagian besar, kalau bukan semua, aktivis merasa perlu, dan tampak, bekerja sangat keras superaktif sepanjang waktu karena mereka tidak bisa memikirkan cara mencapai hasil terbaik dengan tenaga dan waktu minimum. Ibaratnya, menulis kolom selama tujuh hari tujuh malam sebulan sebelum tenggat. Penulis yang cerdas akan mulai berpikir satu jam sebelum batas waktu. Hasilnya sama. Masuk koran. Esoknya dilupakan orang. Honor jumlah sama masuk rekening. Begitulah. Kolumnis rajin yang tersinggung sila pergi sana naik sepeda, biar aktif.

Membaca itu seenaknya saja. Selama nikmat, bacalah. Dongeng, sejarah, sains, komik, gosip, filsafat, hoax, apa saja yang enak syur dari mata turun ke hati. Jangan lupa selfie sambil pegang kamus besar dan pasang kacamata besar rangka tebal, dengan latar belakang asap hitam mengebul dari kompor agar teman Facebook dan Instagram yang tidak pernah bertemu merasa kagum dan hormat. Dikagumi dan dihormati itu adalah kenikmatan tambahan yang penting dari kegiatan membaca. Jadi, perlu. Eh, apa, filsafat? Ada apa dengan filsafat? Oh, itu. Percaya atau tidak, ada lo orang yang merasa nikmat baca buku filsafat. Memang, sih, rada aneh sikap dan omongan mereka. Cuekin aja.

Membaca itu secukupnya saja. Untuk mencapai tujuan. Misalnya, dipaksa dosen. Apa boleh buat. Jalani saja. Itu ujian kehidupan. Baca semua yang disuruhkan sampai lulus sarjana. Setelah itu tersedia jalan pintas untuk membaca banyak dengan membaca sedikit. Serius. Tidak bohongan. Jadilah dosen. Paksa mahasiswa baca buku baru dan artikel panjang yang susah-susah. Kalau diprotes, dalihkan bahwa itu bagian dari cita-cita luhur mengajak semua orang terbiasa membaca. Suruh bikin ringkasan sebagai bukti sudah membaca. Jangan pernah memberi nilai A. Nilai B dijatahkan untuk satu mahasiswa saja setiap semester. Kepada mahasiswa yang bertanya aneh-aneh-biasanya setelah baca buku filsafat-hadiahkan nilai Z. Kemudian pakailah ringkasan itu sebagai bahan kuliah untuk mahasiswa baru. Praktis efektif sekaligus puas melampiaskan dendam kesumat kepada dosen lama yang menjengkelkan itu. Dihormati dan ditakuti adalah bukti sukses dosen ideal. Apalagi pasti ada mahasiswa yang rajin menjilat sedap. Ah, nyamannya hidup.

Suruhan membaca berasal dari zaman ketika bacaan masih sedikit, orang buta huruf banyak, dan buku-buku sebagian besar berkualitas tinggi. Kertas mahal. Tinta mahal. Buku pun mahal. Penulis mahal dan sulit didapatkan. Semua kemahalan itu berdampak terhadap kualitas isi tulisan yang juga rata-rata supermahal pada zamannya.

Karena buku mahal, membaca adalah kemewahan. Jadi, nasihat menyuruh baca itu sangat masuk akal. Bermewah-mewahlah. Efek sampingnya juga tidak jelek-jelek amat. Bertumbuh jadi manusia berpengetahuan banyak, semoga belajar bijaksana pula. Belum lagi raja dan petinggi kesengsem. Kalau beruntung disuruh kawin dengan gadis bangsawan mantan pacar pangeran mahkota yang agak terlalu cepat menggendut. Masa depan pun terjamin sampai mati.

Tapi, zaman sekarang tidak banyak barang yang lebih murah daripada tulisan. Bacaan di mana-mana, di kertas dan di kain dan di kaca dan di plastik. Isinya? Dari berlian sampai belatung melimpah ruah. Padahal, waktu baca sangat terbatas. Maka, perlulah literasi baru: kemampuan menentukan, sebelum membaca, apakah suatu tulisan layak dibaca. Tidak. Ini bukan lelucon. Setiap pembaca kronis tahu belaka bahwa ada jurus dan teknik, diasah dengan pengalaman panjang, untuk menguasai ilmu ini. Apa jurusnya? Nah, buku yang mengajarkan jurus dan teknik ini pasti layak baca. Carilah!

* Penggelut Makna Kata

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s