Promo KTP-el

Suprianto Annaf (Media Indonesia, 30 Apr 2017)

Pelabelan yang menyertai kartu tanda penduduk kian semena. Di awal peralihan ke sistem elektronik, pelabelan yang menempeli KTP terkesan keinggris-inggrisan. Masif benda itu disebut E-KTP (electronic KTP). Entah sekadar gengsi-gengsian, semua seperti lupa bahwa kata asing electronic telah lama diserap dan menjadi lema dalam KBBI. Artinya, tidak seharusnya KTP dilabeli E-KTP, tetapi langsung KTP elektronik.

Namun, belakangan ini pelabelan E-KTP mulai berjiwa nasionalis, menjadi KTP elektronik (disingkat KTP-E). Penamaan itu mendekati sempurna secara kaidah bahasa, yang seharusnya cukup KTPE (bisa juga KTP E), tanpa tanda pisah. Yang sejatinya tanda pisah itu berguna (1) untuk menghubungkan antara angka dan huruf, (2) menyatukan huruf kecil dengan huruf kapital, (3) pelekatan bahasa Indonesia dengan bahasa asing, serta (4) berfungsi dalam kata ulang.

Anehnya, pelabelan yang nyaris sempurna itu ditandingi penulisan baru, yakni KTP-el. Di salah satu koran nasional, penulisan ini semakin menjauh dari kaidah. Masyarakat pun semakin beragam menyebutnya: masih ada yang E-KTP, ada pula KTP-E, sekarang ada lagi KTP-el. Dari mana unsur -el dibentuk? Bukankah huruf awal elektronik ialah E bukan L (bunyi el)?

Secara kaidah, bentuk-bentuk pengurangan kata dapat dilakukan dengan cara (1) memendekkan, (2) menyingkat, dan (3) mengambil suku kata. Kita lazim menyebut kata dokter dengan sapaan dok, biasa pula memanggil bapak dengan panggilan pendek pak. Bahkan sering terjadi penyebutan bentuk pendek lebih masif jika dibandingkan dengan utuhnya. Sebagai contoh lihatlah kata promosi yang kalah bersaing dengan bentuk pendeknya: promo. Kita sering menemukan kata itu di selebaran iklan, seperti promo akhir tahun, promo besar-besaran, dll. Lumrah juga kata demo yang lebih sering disebut jika dibandingkan kata demonstrasi. Sebagai bukti persaingan kata itu, kita mendapati kata demo masak bukan demonstrasi masak. Yang secara suku kata, kata demo pun kurang tepat karena seharusnya demon.

Dalam kasus KTP-el, tidak ada satu pun didapati kaidah pendukungnya. Bila kata elektronik ingin mengikuti bentuk penyingkatan, tentu yang tepat KTPE. Begitu pun bila hendak memendekkan, yang tepat tentu saja KTP-elek atau KTP-elektro. Kata elek atau elektro merupakan suku-suku kata dari kata elek-tro-nik. Ini semata-mata merujuk secara sintagmatik pada kata promo dari pro-mo-si atau kata dok dari dok-ter, dan let dari letnan.

Sebagai pembenaran satu-satunya, kata el rupanya diadaptasi dari pelabelan bidang kehidupan dan bidang ilmu. Ini terjadi seperti halnya bentuk fil untuk filsafat, bentuk mek untuk mekanik, atau psi untuk psikologi. Namun, perlu diingat bahwa bentuk itu sebagai kode yang tidak digunakan dalam bentuk tersurat, seperti dalam koran, majalah, atau media sosial.

Dalam konteks ini, seperti kita sama tahu, KTP tidak ada sangkutan dengan bidang ilmu apa pun selain sebagai identitas. Bukan pula bidang kajian. Benda itu hanya sekadar petunjuk kependudukan. Karena itu, sebaiknya kita tetap menyingkat menjadi KTPE, tanpa ada kode el, elek, atau elektro. Bukankah pula bentuk umum seperti ini yang berterima dan mudah diucapkan sehingga tidak melilit seperti korupsi yang menyertai pengadaannya. Nah!

Iklan

One thought on “Promo KTP-el

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s