(Laki-Laki) Feminis

Hendri Yulius*, Majalah Tempo, 1 Mei 2017

Bila Hari Kartini selalu identik dengan kesetaraan gender untuk perempuan, kini sudah saatnya untuk memulai percakapan tentang isu gender dan laki-laki. Tidak mengherankan bila selama ini isu gender selalu dipersamakan dengan isu “perempuan”. Sebab, beragam wacana gender yang beredar di ruang publik selalu berkisah tentang tuntutan perempuan atas representasi jenis kelaminnya di parlemen atau kebijakan khusus untuk melindungi perempuan dari kekerasan dan pelecehan seksual. Setidaknya itulah yang muncul ke permukaan umum, yang semakin lama memperkuat asumsi bahwa istilah gender sama dengan perempuan.

Akhirnya, ketika berbicara tentang feminis atau feminisme, bayangan yang muncul dalam kepala kebanyakan orang adalah stereotipe perempuan tanpa rias kosmetik yang mengumbar amarah dan tuntutannya untuk perlakuan yang setara antarjenis kelamin. Jarang sekali (atau bahkan nyaris tak pernah ada) potret segerombolan lelaki yang melabeli diri sebagai feminis terpantul saat kita berbicara tentang kesetaraan gender. Demikianlah. Gender dan feminis lagi-lagi selalu tentang perempuan.

Bertahun-tahun lalu, sebuah organisasi penyubur pengetahuan gender, Yayasan Jurnal Perempuan, sempat memulai sebuah diskusi tentang laki-laki feminis, meski kemudian gagasan ini tampaknya belum mentas untuk jadi populer. Salah satu gugatan “keras” yang sering saya dengar dan terima ketika berbicara tentang lelaki feminis adalah “bagaimana seorang lelaki yang notabene diuntungkan oleh budaya patriarki bisa ikut serta dalam perjuangan feminisme untuk meraih kesetaraan antarjenis kelamin”.

Untuk memulai diskusi dalam menjawab pertanyaan besar ini, siapa pun bisa memulainya dengan mengartikan kembali apa itu “gender” yang diperjuangkan oleh para feminis agar perempuan dan laki-laki setara. Istilah itu sendiri sebenarnya dapat diartikan secara ringkas (tanpa bermaksud menyederhanakan) sebagai atribut yang konstruksi sosial-budaya yang dilekatkan pada perbedaan biologis kedua jenis kelamin. Misalnya, manusia berpenis yang disebut laki-laki dididik untuk menjadi maskulin atau jantan tangguh, sementara perempuan sebaliknya. Karena itu, janganlah dipahami dengan terlampau sederhana bahwa gender adalah jenis kelamin atau kata benda-lelaki atau perempuan-seperti yang masih sering terdapat dalam kolom formulir.

Bila gender dilihat dan dipahami sebagai konstruksi sosial-budaya, kita bisa mulai merenggangkan asosiasi gender dengan perempuan. Sejak lahir, atribut-atribut gender ditanamkan dan dididik dengan semena-mena pada tubuh biologis manusia-dari perbedaan warna, cara berpakaian, berjalan, sampai bertingkah laku. Pelekatan beragam atribut ini kemudian memproduksi perbedaan sosial yang tampak pada tubuh laki-laki dan perempuan. Karena itu, meminjam pemikiran seorang ahli gender, Teresa de Lauretis, gender adalah sebuah “representasi” yang terus-menerus diproduksi oleh praktik-praktik institusi dalam kehidupan sehari-hari. Kita sering luput untuk menyadarinya. Sebagai contoh, keluarga, sekolah, dan media selalu berperan aktif membentuk apa yang dianggap laki-laki dan perempuan “ideal” lewat representasi gender. Namun perlu dipahami bahwa konstruksi ini bukan lahir begitu saja dari ruang kosong, melainkan dari budaya patriarki yang menempatkan penis dan maskulinitas (baca: laki-laki) dalam posisi superior.

Ketika kita memahami bahwa tubuh dan perbedaan sosial kita merupakan hasil dari konstruksi sosial-budaya, perdebatan apakah seorang lelaki bisa ikut perjuangan kesetaraan gender seharusnya bisa mencair. Bila ditelaah lebih dalam, budaya patriarki dan konstruksi gender sebenarnya tidak selalu menguntungkan laki-laki. Misalnya, laki-laki tak boleh menangis dan selalu “lebih”-lebih sukses, tinggi, kaya, dan pintar-daripada perempuan. Inilah yang disebut dengan beban gender. Bila tidak bisa menyanggupi itu semua, ia dianggap lelaki gagal atau tidak jantan. Padahal kita-para lelaki-ini juga memiliki keterbatasan dan tak selalu bisa memenuhi tuntutan figur “ideal” tadi. Ketika kita mengakui adanya beban gender yang juga mendudukkan lelaki sebagai “korban” dari budaya patriarki, laki-laki feminis seharusnya tidak lagi dipandang sebagai alien.

Konstruksi gender yang kaku yang kemudian mereproduksi ketidakadilan merupakan salah satu target utama sasaran para feminis. Bahwa feminisme hanya boleh untuk atau sama dengan perempuan adalah preseden yang sudah seharusnya ditinggalkan. Perbedaan sosial dan privilese (juga beban gender yang mengintai) antara laki-laki dan perempuan bukan sesuatu yang alamiah, tapi sebuah produk yang dibentuk. Dengan demikian, feminisme seharusnya merupakan arena terbuka bagi siapa pun-laki-laki, gay, biseksual, transgender, dan identitas-identitas seksual lainnya. Sebab, semuanya terkena dampak konstruksi rigid yang ada.

* Penulis Coming Out serta pengajar kajian gender dan seksualitas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s