Memanjatkan Doa

Damiri Mahmud*, KOMPAS, 6 Mei 2017

Dalam koran dan majalah sudah jarang sekali kita membaca kontur “memanjatkan doa”, apalagi dalam media cetak di Medan. Frasa itu dihindari dan telah menjadi semacam tabu karena ulah seorang ahli bahasa yang sangat kondang suatu ketika. Logikanya begini: “Apakah doa itu sejenis beruk yang kita suruh memanjat pohon kelapa lalu sampai di atas memetik buahnya dan melemparkannya ke bawah lalu kita memungutnya?” (lihat: Kiliran Jasa Seorang Guru Bahasa, Depdiknas, Pusat Bahasa, Balai Bahasa Sumatera Utara, Medan, 2005, hlm 76). He-he-he, betul juga!

Maka, saya agak terperanjat ketika membaca kalimat penutup dalam ulasan Bahasa Anindita S Thayf: “Namun, sebelum hari itu tiba baiknya kita panjatkan doa semoga bahasa Indonesia diberi umur panjang” (Kompas, 24 Desember 2016). Ternyata frasa “memanjatkan doa” itu telah menasional dan bertahan cukup lama. Ahli bahasa itu tinggal di Medan, sementara Anindita tinggal di Yogyakarta.

Kalau kita pikir-pikir, kecaman atau sergahan ahli bahasa itu ada betulnya. Di kebun-kebun Sumatera memang selalu beruk (Macacus nemestrinus) yang disuruh memanjat untuk memetik buah kelapa. Membayangkan beruk memanjat batang kelapa yang tergeol-geol dengan pantatnya yang botak, lalu membandingkannya dengan doa, terasa lucu dan kita bisa tertawa sendiri. Akan tetapi, ketika sang beruk memetik dan melemparkan buah kelapa itu lalu kita memungutnya terburu-buru, akhirnya kita bisa menundukkan kepala: “Alangkah mengenaskan nasib dan harkat sebuah doa!”

Sebaliknya, apakah perbandingan yang dibuat oleh ahli bahasa itu sudah tepat? Frasa “memanjatkan doa” terasa ada usaha yang bersungguh-sungguh dan tertatih-tatih, sementara beruk tak perlu dipanjatkan. Beruk yang sudah dilatih, apabila disuruh tuannya memanjat, dengan serta-merta menunjukkan kemahirannya sehingga dapat menjadi tontonan yang menarik. Sementara pula doa bukanlah sekali-kali sebagai tontonan. Beruk bukan dipanjatkan, tetapi memanjat sendiri, bahkan dengan sigap menunjukkan keterampilannya.

Dalam hal ini ada makhluk lain yang terasa lebih tepat untuk dipanjatkan. Ibu-ibu, terutama di Sumatera, selalu punya kebiasaan tradisional mengunyah sirih. Dalam kebun-kebun kelapa mereka selalu ada sebatang dua yang hampir terbalut oleh akar, batang, dan daun sirih. Memang bukan pada pohon kelapa saja pohon sirih merambat. Pada perkembangan berikutnya, ibu-ibu membuatkan lanjaran atau junjungan tempat sirih itu merambat.

Lihatlah ibu-ibu yang menanam tanaman yang suka merambat dan memanjat itu. Sungguh diperlukan kesabaran yang tak sekejap. Bukan saja menunggu tanaman itu “pintar” merambat dan memanjat hingga berbulan, terlebih lagi gagang atau stek sirih yang baru dipindahkan kurang dapat bertahan dari kekeringan dan sengatan matahari. Maklum karena tanaman itu sejenis tanaman hutan dan untuk membudidayakannya perlu ketelatenan dan kesabaran. Di sini perbandingan memanjatkan daun sirih dan memanjatkan doa mulai tampak paralel.  Melantunkan doa perlu kesungguhan, kekhusyukan, dan kesabaran.

Pada tahap berikutnya tatkala sirih telah “cakap” merambat dan memanjat, daunnya yang hijau dan bujur itu akan berseri-seri menadah ke atas, seolah-olah tangan-tangan yang terentang menghadap langit. Namun, apabila kita cermati, gagang sirih yang merambat ke atas itu setiap buku atau ruasnya yang kerap dengan akar dengan kuat melekap pada batang kelapa atau lanjaran, seolah-olah menopang daun yang berkembang dan berseri itu jangan sampai terkulai jatuh

Dalam hal ini fenomena sirih ini sangat beda dengan beruk di atas. Kalau beruk melemparkan buah kelapa ke bawah sebagai imbalan atau buah dari doa, sirih hanya berharap keselamatan atas daunnya yang berkembang dan berseri-seri itu.

Secara konotatif “memanjatkan doa” dan “memanjatkan sirih” punya tautan yang kuat. Daun yang menadah ke atas dan  berkembang berseri jauh dari kecongkakan dan kesombongan. Bahkan, tampak sangat sadar sesewaktu dapat terkulai layu apabila terlepas dari dekapan batang. Sementara itu, beruk begitu kasar melemparkan buah kelapa sebagai imbalan dari doa.

Sirih sangat lekat kepada budaya yang mengayominya, hal ini terlihat dari ungkapan dan peribahasa yang begitu banyak dari kosakata sirih, begitu pula dengan doa. Sangat lekat kepada agama yang dianut oleh pemeluknya.

Kesimpulan: Anindita S Thayf sudah tepat memanjatkan doa, sementara ahli bahasa di atas keliru menautkannya ke beruk sehingga yang tinggal baginya adalah makna denotatif.

* Penyair, Esais

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s