Tambang Tarik, Ojek Taksi

Zen Hae*, Majalah Tempo, 8 Mei 2017

Taksi berbasis aplikasi, baik mobil maupun sepeda motor, adalah kelanjutan dari budaya sewa-menyewa dalam masyarakat kita. Di masa lalu, ketika sepeda motor dan mobil belum menjadi alat transportasi umum, orang di Nusantara menyewa bendi atau yang sejenisnya, bahkan perahu, untuk bepergian ke lain tempat. Istilah yang digunakan belum lagi “ojek” atau “taksi”, melainkan “tambang”. Dalam bahasa Indonesia dan Malaysia, tambang adalah nomina bermakna banyak. Terkait dengan transportasi, ia kurang-lebih bermakna “kendaraan yang disewakan untuk mengangkut orang atau barang”, “orang yang menumpang atau barang muatan”, dan “ongkos menumpang”.

Di Jakarta, hingga dasawarsa 1990, kata menambang, atau ragam lisan dialek Jakarta nambangin, masih kerap digunakan untuk pekerjaan menyewakan kendaraan buat ditumpangi atau membawa barang. Sekarang kata ini mungkin masih digunakan oleh penyedia jasa “eretan”, yakni sejenis perahu yang digunakan untuk menyeberangi sungai/kanal yang belum punya jembatan penyeberangan orang. Pekerjaan mereka biasa disebut sebagai “menambang eretan” atau “nambangin eretan”.

Demikian pula halnya dengan tarik. Kata ini juga digunakan untuk pekerjaan mencari uang dengan menyewakan becak atau mobil untuk ditumpangi atau dimuati barang. Namun kata ini masih lebih panjang usianya ketimbang tambang. Sampai hari ini pengayuh becak serta sopir angkutan kota (angkot) dan bus di Jakarta masih menggunakan bentukan narik untuk pekerjaan mereka dan tarik sebagai perintah sang kondektur kepada sopir agar mobil segera melaju karena penumpang sudah penuh.

Lain halnya dengan ojek dan taksi yang terus mencorong. Dua kata ini setidaknya muncul ketika mulai ada kegiatan sewa-menyewa kendaraan bermotor. Untuk ojek motor di Jakarta mungkin sejak 1970-an, terutama ketika motor-motor bikinan Jepang menjadi simbol status sosial yang penting di Jakarta, sementara ojek sepeda semestinya sudah lebih lama dari itu. Dalam Kamus Dialek Jakarta (1976), Abdul Chaer menguraikan ojek sebagai “sepeda atau sepeda motor yang di’taksi’kan dipakai mencari nafkah (seperti banyak terdapat di pelabuhan Tanjung Priok)–juga di Glodok.

Dari pengertian ini, jelas ojek sebagai moda transportasi sebenarnya hendak mengimbangi atau mengisi kekosongan pasar pengguna “mobil yang ditaksikan”–bahkan siasat atas penataan transportasi umum yang tak kunjung beres. Dari jenis kendaraan yang digunakan, yakni sepeda dan sepeda motor, tampak jelas pula perbedaan status sosial penggunanya. Ojek sepeda dan sepeda motor digunakan oleh masyarakat kelas menengah ke bawah, yang ingin lebih dinamis di tengah kemacetan dan gang-gang sempit tapi juga siap berbasah-basah ketika turun hujan. Bahkan kata ini juga digunakan untuk kegiatan sewa-menyewa payung ketika musim hujan: “ojek payung”.

Sementara masyarakat yang punya lebih banyak uang akan memilih taksi, terutama mereka yang hendak merasakan kenyamanan naik mobil ber-AC–apalagi dengan kehadiran mobil-mobil mewah yang kini ditaksikan belakangan ini. Kendati demikian, penumpang taksi akan lebih tidak berdaya ketimbang penumpang ojek ketika terjebak kemacetan. Sebab, sementara mobil yang ditaksikan terperangkap dalam kemacetan, si pengojek akan berselap-selip, menerobos trotoar dan jalur Transjakarta jika perlu.

Merebaknya taksi berbasis aplikasi, bahkan ketika variasi kata ojek digunakan sebagai merek dagang, sebenarnya upaya yang cukup revolusioner untuk membuat profesi “tukang ojek” naik kelas. Faktanya, naik ojek kini kian digemari masyarakat dan para pengojek mendapatkan penghasilan yang lebih dari cukup. Apalagi dengan pemandangan sejumlah pejabat negara, bahkan Presiden Joko Widodo, naik ojek demi menghindari kemacetan, makin kelihatan nilai penting ojek motor bagi kehidupan transportasi di Jakarta.

Kehadiran penyedia jasa taksi berbasis aplikasi–apalagi dengan promosi potongan harga–sebenarnya juga hendak menggedor citra taksi sebagai moda transportasi berbiaya mahal. Toh, dengan tarif yang lebih murah, mereka sudah cukup sukses membuat taksi konvensional kelimpungan. Namun kata taksi, pada dirinya sendiri, tetap tidak bisa merangkum pengertian “kendaraan roda dua yang disewakan untuk mengangkut barang atau orang”.

Mungkin pengguna pertama kata taxi (dan kita menyerapnya menjadi taksi), yakni orang Belanda dan Inggris, bisa menyebut semua kendaraan sewaan itu sebagai “taksi”, tidak demikian dengan masyarakat kita. Tiap kata punya penutur dan pengguna sendiri-sendiri, juga rujukan kendaraan yang digunakan. Demikianlah, tambang untuk perahu dan eretan; tarik untuk becak, angkot, dan bus; ojek untuk sepeda, sepeda motor dan payung; taksi untuk mobil.

Sementara itu, “mobil boks” atau “mobil bak terbuka” yang juga disewakan untuk mengangkut barang–bahasa Inggrisnya remover–belum punya sebutan khusus. Taksi bukan, ojek apalagi.

* Penyair dan Kritikus Sastra

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s