Belajar dari Bahasa Ibrani

Ibnu Burdah*, Kompas, 20 Mei 2017

Dari dalam maupun dari luar, bahasa Indonesia mengalami tekanan yang hebat. Tekanan dari luar berupa penetrasi bahasa-bahasa dominan dunia yang makin intensif dan masif di dunia nyata maupun virtual. Media baru memperdalam penetrasi ini. Bahasa-bahasa kuat itu dahulu adalah Arab dan Belanda, sekarang Inggris, mungkin sebentar lagi Mandarin. Bahasa India dan Korea juga berpotensi untuk itu. Dari dalam, bahasa Indonesia mengalami tekanan sangat besar pula dengan meluasnya penggunaan slang yang makin mendesak ranah bahasa Indonesia baku dan sikap bangsa ini terhadap bahasanya.

Di tengah keterdesakan bahasa nasional kita, tak tersua upaya luar biasa untuk pengembangan dan penyelamatan identitas nasional kita itu. Kesadaran bahwa bahasa pemersatu kita dalam ancaman serius hampir tak ada dikalangan pengambil putusan, para ilmuwan, maupun masyarakat kita pada umumnya. Malah, para pengambil putusan di negeri ini bangga berbicara bahasa Indonesia baku bertabur kata-kata asing di depan publik dan disorot kamera meski padanan kata asing itu mudah diperoleh dalam bahasa Indonesia. Di kalangan ilmuwan setali tiga uang. Mereka justru pelopor penggunaan kosakata asing dengan alasan bahwa konsep itu tak bisa dicari padanannya dalam bahasa Indonesia.

Jiwa kebahasaan bangsa ini rupanya sedang sakit. Penyakit kebahasaan kita adalah membanggakan milik orang lain, mengaguminya, dan secara tak sadar terus meminggirkan bahasa kita sendiri dari kehidupan kita. Ini tragedi!

Kita perlu belajar kepada bangsa Israel untuk menunjukkan betapa penting upaya ekstrakeras membangun dan membela bahasa nasionalnya. Bahasa Ibrani telah mati dalam beberapa milenium. Ia sebatas bahasa teks suci, semacam mantra. Tak dipakai dalam kehidupan bertutur bangsa Yahudi pada umumnya. Orang-orang Yahudi diaspora menggunakan bahasa setempat: Arab untuk Yahudi Sephardi; Inggris, Perancis, Yiddish, dan Rusia untuk Yahudi Azkenazi. Namun, begitu mereka mencita-citakan berdirinya negara Israel melalui gerakan Zionisme, salah satu yang menjadi perhatian adalah menghidupkan bahasa ”purba” yang sudah mati itu.

Yang dilakukan para pelopor Zionisme itu pertama adalah mempromosikan kembali karya sastra Ibrani klasik untuk dipelajari. Luar biasa sulit ini dilakukan, tetapi mereka terus mengupayakannya demi terbentuknya bahasa nasional yang menyatukan mereka dan menjadi identitas kebanggaan mereka dan anak cucu mereka kelak. Di tengah kemampuan bahasa Ibrani yang masih minimal, setelah proklamasi 1948, konstitusi negara Yahudi itu segera menyatakan bahwa bahasa resmi negara ini adalah bahasa Ibrani. Tak pelak, seluruh organ negara yang dalam situasi perang juga harus menggunakan bahasa yang sebetulnya belum lama dihidupkan kembali itu. Sangat sulit, tetapi itu terus mereka dorong dengan kebijakan tegas dan kemauan keras.

Saat ini, belum genap 70 tahun usia Israel modern, bahasa Ibrani telah menjelma menjadi bahasa modern yang kuat. Bahasa ini memiliki kapasitas yang begitu mencengangkan. Tak hanya bahasa politik, pemerintahan, dan pendidikan di negeri itu, bahasa Ibrani jadi bahasa ilmu pengetahuan untuk semua bidang dan berbagai hasil peradaban. Kesusastraan dalam bahasa ini juga berkembang begitu pesat. Mereka telah membangun masa depan dengan pijakan identitas dan jati diri mereka: bahasa Ibrani. Itu tentu kebanggaan yang luar biasa bagi mereka dan anak cucu mereka nanti.

Belajar dari itu, bahasa Indonesia harus kita bela mati-matian mulai sekarang dengan kebijakan kuat dan tegas serta mengembangkannya secara heroik dalam segala sendi kehidupan, termasuk semua bidang ilmu dan hasil peradaban. Salah satu cara terpenting adalahmenggelorakan kembali kecintaan kita kepada bahasa Indonesia, terutama untuk anak-anak kita.

* Dosen Fakultas Adab, UIN Sunan Kalijaga

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s