Akronim Ramadan

Encep Abdullah* (Pikiran Rakyat, 28 Mei 2017)

Ramadan adalah bulan yang penuh berkah. Salah satunya berkah akronim. Akronim yang paling populer di telinga kita, antara lain kultum, sanlat, dan bukber. Barangkali Anda menemukan akronim lain, mohon kabari saya (encepabdullah@rocketmail). Siapa tahu tulisan ini masih bisa saya edit lagi. Bila tak ada, saya lanjutkan saja.

Sebagai tenaga pendidik, kerap kali saya disuguhi kegiatan sekolah bernama pesantren kilat atau biasa akrab dengan sanlat. Istilah ini barangkali sudah puluhan tahun digunakan (?). Pasalnya, sejak saya sekolah dasar, sanlat sudah ada. Sampai kini, meski zaman terus berubah, istilah pesantren kilat atau sanlat ini terbukti masih tetap bertahan. Artinya, ada kekonsistenan bahasa. Lalu, apakah benar penggunaannya?

Secara harafiah [harfiah], pesantren berarti ‘asrama tempat santri atau tempat murid-murid belajar mengaji’; ‘pondok’. Kata pondok di sini—dari sekian arti yang ada—memang berarti ‘madrasah’ dan ‘asrama’ (tempat mengaji, belajar agama Islam): sama dengan pesantren. Kata kilat—dari sekian arti yang ada— berarti ‘yang dikerjakan dalam waktu singkat’. Secara makna, pesantren kilat memang berterima: ‘kegiatan (mengaji) yang dilakukan sekilas saja, dua—tiga hari’. Hanya, memang agak sedikit rancu. Ada yang kurang menurut saya. Kalau saja diberi tambahan kata Ramadan di belakangnya, setidaknya sedikit lebih tepat. Meski memang, ada juga yang menggunakan istilah Pesantren Ramadan (saya kapitalkan saja huruf awal keduanya karena lebih jelas nama diri ketimbang pesantren kilat—yang saya tulis dengan huruf awal kecil). Namun, istilah Pesantren Ramadan bisa berarti umum: bisa jadi tidak sekilas seperti pesantren kilat—sedangkan istilah ini bisa saja terjadi di luar bulan Ramadan. Jadi, setelah dikaji dan dipertimbangkan, alangkah baiknya kegiatan itu di sebut dengan Pesantren Kilat Ramadan. Dengan begini bukankah terlihat lebih pas dan tak rancu?

Selanjutnya, selain istilah di atas, di bulan yang suci ini acap kali juga saya dengar istilah kultum atau kuliah tujuh menit. Barangkali, saya tanyakan kepada pembaca, yakinkah kuliah tersebut yang dilakukan dalam waktu tujuh menit? Ah, mungkin memang ada yang pas, mungkin ada pula yang nyeleweng. Namun, realitanya lebih banyak yang nyeleweng, bahkan lebih lama (bisa jadi tiga puluh menit). Apakah ini masih disebut dengan kultum? Kalau tiga puluh menit berarti kultipum, dong? Seharusnya, kalau Anda (penceramah) sudah tahu bahwa kultum itu tujuh menit, mengapa tak berusaha membatasi? Tetapi, adik saya—ustaz— pernah bilang begini: “Kultum itu ‘kuliah terserah antum’, Kang.” Saya pun tertawa (ada benarnya juga).

Istilah kultum ini—yang saya tahu—dipopulerkan oleh M. Quraish Shihab beberapa tahun silam yang disiarkan oleh salah satu stasiun televisi swasta menjelang berbuka puasa (Ramadan)—dan ini memang pas tujuh menit (yang saya tahu, juga dari youtube). Entah, apakah sekarang acara tersebut masih ditayangkan atau tidak (saya sudah lama tidak menonton televisi). Dalam bahasa Indonesia, istilah kultum ini mengalami generalisasi. Artinya, makna sekarang lebih meluas dibandingkan makna dahulu. Dalam KBBI, istilah yang barangkali dianjurkan adalah Kuliah Ramadan. Kata kuliah di sini bisa berarti ‘ceramah’. Artinya, tidak salah, sesuai dengan konteksnya: ceramah pada bulan Ramadan.

Istilah terakhir yang populer adalah bukber atau buka bersama. Memang, istilah ini bisa dipahami maknanya secara universal saat bulan Ramadan. Lain halnya bila diujarkan di luar bulan Ramadan. Istilah bukber atau buka bersama ini bisa menjadi umum maknanya: siapa tahu buka baju atau buka-bukaan yang lain, aih! Nah, biar lebih tepat, cantik, dan elegan, apa salahnya, sih, menambahi kata puasa di tengah-tengah kata tersebut, yakni [ber]buka puasa bersama—terlepas Ramadan atau bukan yang penting ada kata puasa.
Barangkali bahasan di atas memang rumit. Ya, bahasa Indonesia memang demikian, sulit dan rumit. Kita perlu tawakal seperti juga puasa yang berusaha berserah dan berpasrah diri kepada Allah swt., semoga puasa kita—sebulan ini— berkah seberkah akronim-akronim itu. Amin.

*Penulis adalah alumnus Untirta Banten. Bergiat di Kubah Budaya. Buku bahasanya yang sudah terbit Cabe-cabean (2015).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s