Servisifikasi

Arianto Patunru* (Majalah Tempo, 5 Jun 2017)

Istilah “transformasi struktural” jamak ditemukan dalam studi pembangunan. Generasi saya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia mengenal topik ini dari kuliah Profesor Arsjad Anwar. Salah satu referensi utamanya adalah buku Hollis Chenery dan Moises Syrquin berjudul Patterns of Development (1975). Beberapa literatur sebelumnya, seperti tulisan Allan Fisher (1935) atau Colin Clark (1940), juga membahasnya. Intinya, perekonomian akan beralih tumpuan dari sektor pertanian (termasuk peternakan, kehutanan, dan perikanan) ke sektor industri (terutama manufaktur, tapi juga mencakup pertambangan, konstruksi, dan “utilitas”–listrik, gas, dan air minum) dan lalu ke sektor jasa (meliputi jasa perdagangan, hotel, dan rumah makan; transportasi dan komunikasi; keuangan, perumahan, dan jasa usaha; serta jasa lainnya). Jadi umumnya, semakin berkembang suatu bangsa, kontribusi sektor jasanya semakin besar. Saat ini sektor jasa di Indonesia menyumbang sekitar 48 persen produk domestik bruto, diikuti sektor industri 40 persen, dan sisanya sektor pertanian. Di Australia, kontribusi sektor jasa adalah sekitar 70 persen, dan di Amerika Serikat 80 persen.

Namun William Baumol dari Princeton University, Amerika Serikat, memberi sudut pandang lain. Pada 1966, ia dan muridnya, Willian Bowen, mengingatkan bahwa sektor jasa bisa jadi penyebab melambatnya pertumbuhan ekonomi. Mereka menunjukkan bahwa produktivitas–diukur dengan produk atau output per pekerja–di sektor pertanian dan sektor manufaktur meningkat sejalan dengan peningkatan upah tenaga kerja di kedua sektor tersebut. Tapi tidak demikian dengan sektor jasa. Produktivitas di sektor ini sangat rendah tapi upah pekerjanya tetap naik. Berbeda dengan sektor pertanian dan industri, inovasi di sektor jasa jauh lebih lambat karena di sektor ini komponen manusianya lebih susah tergantikan oleh mesin atau teknologi. Tapi mengapa upah pekerjanya tetap tumbuh? Karena permintaan akan jasa tetap tinggi, didukung oleh pendapatan yang meningkat di sektor pertanian dan industri. Akibatnya, jasa menjadi relatif mahal. Jadi, Baumol menyimpulkan, sektor jasa akan mendominasi perekonomian tapi sekaligus menahan laju pertumbuhan. Ini yang dikenal sebagai cost disease alias “penyakit biaya”. Kepergian Profesor Baumol pada 4 Mei lalu mengingatkan kita kembali akan istilah ini.

Namun ada istilah baru yang menyeruak beberapa tahun belakangan ini: “servisifikasi”. Bisa diduga bahwa servisifikasi adalah proses mendominasinya sektor jasa dalam perekonomian meninggalkan kedua sektor yang lain. Namun, transformasi struktural dewasa ini sudah berbeda dengan transformasi yang diamati Fisher dan Clark. Sekarang garis batas antarsektor semakin hablur. Teknologi pertanian semakin erat dengan manufaktur, sementara manufaktur pun semakin terintegrasi dengan jasa. Hal ini semakin niscaya seiring dengan maraknya produksi berbasis rantai nilai global atau global value chain. Maka ada istilah “servisifikasi sektor manufaktur”. Karena peran sektor jasa lebih besar di negara maju, wajar jika literatur tentang servisifikasi ini juga mulai muncul dengan studi kasus negara-negara maju. Beberapa penulis memakai istilah servitization (Boddin dan Henze 2014 untuk kasus Jerman atau Crozet dan Milet 2015 untuk Prancis). Tapi saya kira servicification (Lodefalk 2015 untuk Swedia) lebih tepat, mengingat kata dasarnya adalah service. Lalu mengapa saya menggunakan “servisifikasi” dan bukan “jasanisasi”? Karena “jasa” mengandung konotasi yang jauh lebih luas (kita bayangkan “berjasa”, “atas jasa baik”, “biro jasa”, dan lain-lain). Dugaan saya, “servisifikasi” akan lebih mudah diasosiasikan dengan sektor jasa (dalam konteks transformasi struktural) ketimbang “jasanisasi”. “Servisifikasi” lebih khusus daripada “jasanisasi”, seperti “manufaktur” versus “pabrikan”.

Lantas apakah servisifikasi sedang terjadi di Indonesia? Benar bahwa sumbangan sektor jasa saat ini semakin besar, dilihat dari output dan kesempatan kerja domestik. Tapi tidak demikian halnya dalam ekspor. Ekspor sektor jasa menyumbang 11 persen lapangan kerja, sementara pertanian 65 persen. Selain itu, komponen impor dalam ekspor jasa jauh lebih kecil dibanding komponen impor dalam ekspor manufaktur dan pertanian. Ini berarti servisifikasi di Indonesia masih mencerminkan transformasi struktural gaya lama; ia belum masuk ke pemanfaatan rantai nilai global ketika komponen jasa dalam manufaktur memegang peran penting. Penyebab utamanya adalah masih rendahnya produktivitas: nilai tambah yang dihasilkan tidak sebanyak peningkatan jumlah tenaga kerja yang dipakai.

Servisifikasi gaya lama lebih rentan terkena penyakit biaya. Untuk meminimalkannya, produktivitas perlu ditingkatkan. Berita baiknya, kita mulai melihat kecenderungan inovasi di sektor manufaktur merambat ke sektor jasa. Contoh paling jelas datang dari teknologi informasi. Perkembangan aplikasi telepon seluler, misalnya, membuat jasa pengiriman semakin mudah dan murah. Ya, ada kekhawatiran lain bahwa inovasi (dan sekarang robotisasi) mengancam banyak lapangan kerja untuk manusia. Sebagian kekhawatiran itu berlebihan, seperti ketika peradaban mulai mengenal mobil dan kulkas. Niscaya, selalu ada bidang usaha yang tetap membutuhkan sentuhan manusia. Saat ini Anda bisa berhemat dengan membeli perabot rakit-sendiri. Tabungannya Anda pakai untuk makan di restoran. Tapi maukah Anda makan di restoran yang disaji oleh robot? Polisi robot, hakim robot?

* Anggota ANU Indonesia Project, Canberra

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s