Lenyap

Mulyo Sunyoto* (Kompas, 10 Jun 2017)

Kulenyapkan kau!”; “Mereka sudah melenyapkan musuh kita.”; “Lenyapkan dia!”; “Sudah lenyapkah bajingan itu?” Itulah beberapa penggalan dialog yang terdengar lewat sulih suara dalam drama seri yang diimpor dari India, Turki, yang ditayangkan sejumlah saluran televisi swasta.

Lenyap, setidaknya dalam tiga tahun belakangan, melenyapkan bunuh atau bantai dalam dialog di sinema elektronik yang adegannya berbumbu air mata dan darah. Tak jelas dari siapa gagasan penggantian atau pengubahan diksi yang bermakna ‘menghilangkan nyawa manusia lewat jalan kekerasan itu’ muncul. Boleh jadi inisiatif penulis teks sulih suara, atau mereka yang berkiprah di Komisi Penyiaran Indonesia.

Argumen penggantian itu bisa ditebak: mungkin bermaksud mengurangi, kalau bukan menghilangkan, anasir kekerasan verbal di ruang publik tempat anak-anak, remaja, dan orang dewasa (berkecerdasan rendah) mencerna hiburan selera massal. Dipikir sekilas, argumen itu cukup masuk akal. Anak-anak atau orang kebanyakan tak boleh disuguhi bertubi-tubi verba membunuh, membantai. Juga terasa tak bijak menggantinya dengan padanan denotatifnya: menembak, menyembelih, atau menggorok. Lalu dipilihlah sinonim konotatifnya: melenyapkan, alih-alih menghabisi, yang sebelumnya acap digunakan untuk menyatakan makna membunuh.

Pertanyaannya: betulkah lenyap tak mengandung fitur makna yang kurang bengis ketimbang bunuh? Dalam sejarah kekerasan, entah di ranah sosial, politik, entah keimanan, justru diksi lenyap itulah yang memunculkan citra kekejian tak terbayangkan. Sampai sekarang tak seorang pun yang tahu pasti di mana jasad mereka yang lenyap atau dilenyapkan, seperti Rasul Paulus, Dipa Nusantara Aidit, dan Widji Thukul. Mereka lenyap bukan cuma jiwa, tapi juga raga.

Seorang jenderal di era otokratis mengancam reporter dengan kata-kata kurang lebih begini: “Ingat baik-baik. Berani tulis lagi, kulempar kau ke laut dari heli.” Ancaman pelenyapan! Di jagat kemafiaan, pelenyapan itu bisa dilakukan dengan modus operasi terkejam di antara kekejaman: menenggelamkan jasad korban ke dalam drum penuh air keras, jenis cairan yang belum lama ini disiramkan oleh durjana atas perintah dalang yang lebih durjana ke wajah penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi Novel Baswedan. Pada akhirnya, pilihan lenyap pun tak mengurangi elemen maknawi yang beraroma kekerasan.

Lalu bagaimana mengatasi inti persoalan itu? Jawabnya: dimulai dari hulu. Artinya, para kreator seni hiburan, di layar lebar atau layar kaca, melahirkan karya-karya yang menampilkan sisi kekerasan manusiawi, dengan sesedikit mungkin, kalau bukan tanpa sama sekali, mengungkapkannya secara visual. Mungkinkah? Di tangan sineas cemerlang itu semua sangat mungkin. Itu sama mungkinnya dengan menggubah kisah percintaan yang romantis-erotis-memabukkan dalam novel tanpa deskripsi vulgar kegemaran pengarang picisan. Dalam God of Small Things, Arundhati Roy dengan memesona melukiskan episode percintaan membara mendidih antara janda Ammukuty dan jejaka Velutta tanpa lukisan adegan persetubuhan.

Sineas masyhur yang pelit mengumbar adegan kekerasan pun, lewat kemahiran sinematografinya, sanggup menyuguhkan kedalaman pedih perih penonton atas adegan penyiksaan figur antagonis terhadap anak-anak tanpa memvisualkan kekejaman itu. Begitulah jalan berliku lewat kerja berpeluh yang mesti ditempuh untuk meminimalkan adegan kekerasan visual maupun verbal di medium penyiaran, di ruang publik. Bukan cuma ikhtiar enteng tinggal mengganti bunuh dengan lenyap lalu habis perkara!

* Wartawan, Magister dalam Pendidikan Bahasa

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s