Aku (Bukan) Pancasila

Suprianto Annaf* (Media Indonesia, 17 Jun 2017)

Ekspresi kebangsaan tertebar tanpa batas. Media sosial, spanduk pinggir jalan, koran, dan televisi sesak dengan slogan. Pengirim pesan pun beragam, mulai Bapak Presiden hingga rakyat di kedai kopi. Semua lantang menyuarakan ’Aku Indonesia, Aku Pancasila’.

Tak ingin mengecilkan ekspresi itu. Hanya saja slogan ’Aku Pancasila’ berselisih dalam makna. Cikal bakalnya pun sederhana: hanya urus­an logika. Pemisalannya akan saya mulai dari slogan ‘Aku Indonesia’. Slogan itu hendak menyampaikan bahwa (1) pengirim pesan orang Indonesia, (2) mencintai Indonesia, dan (3) akan menjaga keutuhan Indonesia. Antara persona aku dan kata Indonesia dihubungkan berdasarkan asal atau tempat. Secara semantis, hubungan ini pun sah dan berlogika.

Namun, bagaimana dengan slogan ‘Aku Pancasila’? Rasanya mustahil bila dihubungkan seperti urutan persona aku dan Indonesia seperti di atas. Tidak satu pun warga negara kita berasal atau bertempat tinggal di Pancasila. Pun tidak mungkin persona aku menyandang status Pancasila seperti makna hubungan ‘aku mahasiswa’.

Sejatinya yang disampaikan lewat ‘Aku Pancasila’ ialah bahwa pesona aku berjiwa Pancasila. Ini berarti pula urutan slogan itu seharusnya ‘Aku Pancasilais’. Penambahan -is akan menunjukkan sifat atau jiwa penganut. Menjiwai Pancasila seperti itulah yang harus melekat dalam diri warga negara.

Selain itu, slogan ‘Aku Pancasila’ mengingkari tiga pilar yang lain: NKRI, UUD 45, dan Bhinneka Tunggal Ika. Mengapa tidak diungkapkan juga ‘Aku NKRI, Aku UUD 45, dan Aku Bhinneka Tunggal Ika’? Bukankah keempatnya menjadi pilar yang sama-sama diperjuangkan, dijaga, dan junjung tinggi? Apa tidak cukup slogan ‘Aku Indonesia’ saja, yang notabene mencerminkan keempat hal itu sekaligus?

Ekspresi kebangsaan lain yang gagal membawa pesan sempurna ialah Pancasila disebut pilar negara. Benarkah? Bukankah pilar itu berarti tiang, yang tak serupa dengan dasar? Selama ini yang selalu menjadi pengetahuan siswa di sekolah, Pancasila itu sebagai dasar negara. Bukan pilar negara? Kata dasar memiliki kemiripan dengan landasan atau fondasi, yang menjadi tumpuan cara pandang di negara ini. Secara rancang bangun, dasar atau fondasi dibentuk lebih dahulu daripada tiang. Dia pun harus kuat dan kukuh sebagai tempat berdirinya tiang. Karena itu, dasar tidak serupa dengan tiang. Mana yang benar, sebagai dasar negara atau pilar negara?

Satu lagi ekspresi kebangsaan yang hendak diluruskan. Ketika bom di Kampung Melayu terjadi, ramai-ramai aparat keamanan, pemangku kepentingan, atau masyarakat yang geram dengan aksi teror berujar ‘Kita harus tangkal teroris’, ‘…harus mengantisipasi teroris’, atau ‘Kita harus basmi teroris’. Ketika mendengar ujaran itu, saya hanya berbisik, “Semoga mereka bertemu terorisnya.” Kok begitu? Jawabannya karena teroris itu orang. Kalau hendak menangkal teroris, Anda harus bertemu teroris. Kalau hendak meng­antisipasi teroris, Anda harus tahu ke mana atau di mana dia akan beraksi. Kalau akan membasmi teroris, Anda harus hati-hati, khawatir dia bukan yang Anda cari. Sesungguhnya Anda sulit bertemu teroris karena teroris itu tidak nyata, terselubung, dan tersamar. Bukankah yang lebih nyata ditangkal, diantisipasi, dan dibasmi ialah terorisme, bukan teroris?

Dengan tulisan ini, saya hanya ingin bilang ‘Aku bukan Pancasila’ lagi, tetapi ‘Aku Pancasilais’ sejati.

* Redaktur Bahasa Media Indonesia

Iklan

One thought on “Aku (Bukan) Pancasila

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s