Saya Pancasila

Yanwardi* (Kompas, 17 Jun 2017)

Curaian-ringkas ”saya Indonesia, saya Pancasila” sedang hangat di media sosial. Olehnya, seperti biasa, kita latah. Banyak orang beralih jadi ahli bahasa dadakan. Tokoh-tokoh politik mengkritik. Namun, ada pula yang setuju pada curaian-ringkas itu. Semua sah belaka.

Dunia multitafsir: setiap gejala berpaham plural di semesta. Siang dilengkapi malam, pagi, bahkan senja. Warna, apalagi, begitu banyak. Manusia menafsirkan tanda-tanda itu personal, selain dengan konvensi. Tidak berlebihan jika ada paham dalam linguistik modern yang menyebutkan bahwa makna ada dalam benak penutur—bergantung pada pengalaman, kepentingan, ideologi, dan lain-lain.

Tafsir atas ”saya Indonesia, saya Pancasila” juga demikian. Multitafsir. Dari sisi bahasa umumnya pengkritik terjebak ke dalam paham yang linier, struktural. Padahal, paham itu dalam dunia linguistik sejak 1960-an sudah ”dilengkapi” dengan paham pragmatik oleh Austin, Searl, dan kawan-kawan.

Austin melihat bahasa tidak melulu secara hitam putih atau literal. Mereka menyodorkan argumen, yang salah satunya bahwa banyak implikatur dalam bahasa. Menyuruh, misalnya, bisa dilakukan dengan tuturan pertanyaan dan pernyataan, selain dengan perintah. Konteks di luar bahasa pun menjadi sesuatu yang amat penting dalam penafsiran makna.

Secara sintaktis ”saya Indonesia, saya Pancasila” tidak bermasalah, terdiri atas dua klausa yang berpola ”S-P, S-P” dengan P sebagai nomina. Kedua klausa itu sepola dengan ”saya PNS, saya guru”. Secara semantis itu memang bisa didiskusikan. ”Pancasila” seharusnya ”pancasilais”. Tampak pemikiran ini linier dan referensial, harus melihat tanda (Pancasila) dengan referennya. Akibatnya, ”saya Pancasila” tidak logis.

Sesungguhnya sejak zaman Aristoteles pun, bahasa mengenal majas seperti metafora, metonimia, dan personifikasi. Ketika SMP, kita sudah mengenal metonimia ”membaca Kompas” dan ”makan Indomi” atau metafora ”dia lintah darat”. Dari contoh-contoh itu tampak bahasa tidak bisa ditafsirkan melulu linier. Karena kedekatan (ketercakupan) medan makna ”koran” (Kompas) dan ”mi” (Indomi), jenis entitasnya dilesapkan (elipsis). Teknik ini sangat umum digunakan dalam berbahasa sehari-hari maupun dalam penjudulan berita atau artikel koran. Tuturan ”makan Padang” dan judul buku ”Membaca Sapardi” adalah natural.

Metafora mengasosiasikan konsep yang mirip antara entitas satu dan entitas lainnya. Misalnya, sifat lintah dikaitkan dengan sifat orang yang suka meminjamkan uang dengan bunga tinggi. Itulah metafora. Pada dasarnya penutur ketika membuat tuturan selalu memperhatikan rekan bicaranya (petutur). Penutur menganggap petutur sudah memahami tuturan dengan tanpa bertutur secara literal pun. Majas-majas di atas kemudian dikembangkan oleh linguistik kognitif sekitar tahun 1960-an juga. Baik paham pragmatik maupun kognitif melihat bahasa dalam pemakaiannya secara fungsional.

Manusia saat berbahasa tidak pernah lepas dari majas-majas. Dari sisi komposisi, teknik penggunaan majas ini membuat bahasa natural dan tidak monoton. Dari sisi komunikasi, bahasa menjadi lebih mudah dipahami karena konsep yang sulit bisa diungkapkan dengan konsep yang lebih sederhana (metafora). Sementara itu, metonimia dan personifikasi, misalnya, bisa membuat efek yang dirasakan petutur lebih ”dahsyat”, ditambah lagi dengan permainan rima. Bandingkanlah ”dunia menangis” dengan ”warga dunia menangis”; serta ”saya Indonesia, saya Pancasila” dengan ”saya Indonesia, saya pancasilais”. Mana lebih berefek?

* Editor pada Yayasan Obor

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s