Mudik

Fariz Alniezar* (Kompas, 24 Jun 2017)

Mudik adalah lema yang sekali setahun jadi buah bibir di Indonesia. Kata itu selalu kita jumpai memadati sekaligus menghiasi pemberitaan-pemberitaan media massa, terutama menjelang bulan puasa berakhir.

Secara pribadi, saya pernah melakukan riset kecil tentang lema mudik. Riset itu saya maksudkan untuk membedah perilaku semantik seseorang. Teknik riset yang saya gunakan: membisikkan satu lema saja kepada responden. Saya mendaulat lema mudik sebagai obyek penelitian. Hasilnya, respons yang keluar dari bibir responden ketika kepadanya dibisikkan lema mudik adalah (secara berurutan): jalan pantura, macet, dan kampung halaman. Ketiganya merupakan lema yang amat kerap diucapkan responden saat menjawab pertanyaan yang saya lontarkan.

Saya mulai berpikir bahwa kecurigaan Pramoedya Ananta Toer dalam novel Arus Balik (1995) tentang arus balik peradaban bangsa ini memang benar-benar terjadi. Yang dimaksudkan Pram adalah arus balik pola pikir manusia Indonesia yang terlahir sebagai manusia maritim, tetapi berpola pikir darat. Bagi Pram, ini pertanda yang sangat berbahaya. Kerugiannya besar sekali.

Merujuk kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi IV, mudik diartikan sebagai ‘berlayar atau pergi ke udik (hulu sungai, pedalaman)’ dan ‘pulang ke kampung halaman’. Dua arti yang tersua di sana, tetapi yang populer dan dominan dalam keseharian orang Indonesia pada umumnya adalah arti yang kedua. Padahal jelas, makna kedua lahir belakangan setelah makna pertama dibakukan.

Pada makna pertama, mudik berasa kemaritiman. Bukti bahwa lema mudik sejatinya merupakan lema yang lahir dari peradaban maritim atau laut bisa dicek pada peribahasa-peribahasa yang kita miliki. Antara lain belum tentu hilir mudiknya yang berarti belum tentu keputusan atau kesudahan suatu hal atau perkara. Ke mudik tentu hulunya, ke hilir tentu hulunya yang artinya suatu maksud atau niat hendaklah merupakan wujud tujuannya. Mudik menyongsong arus, hilir menyongsong pasang yang berarti sebuah usaha yang mendapatkan rintangan yang hebat, tetapi tetap diteruskan juga.

Ketiga peribahasa itu sangat berkait erat dengan tradisi maritim dan laut. Tak ada hubungannya dengan pulang ke kampung halaman. Ini adalah bukti sahih bahwa lema mudik merupakan lema yang berasal dari tradisi orang-orang maritim.

Makna berlayar jauh meneguhkan kepada kita bahwa bangsa kita memang bangsa maritim, yang sejatinya karib dengan laut dan samudra. Sementara itu, pada makna kedua, mudik diartikan sebagai pulang ke kampung halaman dan itu setali tiga uang dengan jalan macet, perbaikan jalan, dan pantai utara (pantura). Gejala mudik dengan arti kedua ini lahir setelah ada urbanisasi besar-besaran akibat ketidakmerataan pembangunan.

Hal demikian sesungguhnya sangat patut disayangkan sebab itu membuktikan betapa orang-orang kita sudah demikian hilang ingatan bahwa dirinya adalah manusia maritim yang tradisi, budaya, bahasa, dan peradabannya berorientasi maritim pula.

Lema mudik membuka lagi mata betapa bahasa merupakan pilar utama pola pikir manusia. Bicara mudik berarti kita bicara jalan macet, hiruk-pikuk perbaikan jalan. Entah sampai kapan.

* Pengajar Linguistik Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Jakarta

Iklan

One thought on “Mudik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s