Tadarus

Samsudin Adlawi* (Majalah Tempo, 26 Jun 2017)

Selain berpuasa di siang hari, membaca Al-Quran adalah ibadah yang banyak dilakukan muslimin selama Ramadan. Setiap malam, begitu tarawih kelar, surau dan masjid tak pernah sepi oleh lantunan ayat-ayat suci Al-Quran. Kegiatan membaca Al-Quran di malam Ramadan bisa sampai tengah malam, bahkan ada yang baru berhenti sampai parak makan sahur.

Ramadan memang bulan membaca Al-Quran. Membaca seperti apa yang dilakukan selama ini? Bahasa Arab–sebagai bahasa Al-Quran–punya tiga istilah yang terkait dengan aktivitas membaca Al-Quran, yakni tadarus, qiraah, dan tilawah. Meski sama-sama membaca, secara substansial ketiga istilah itu berbeda.

Tadarus paling populer dibandingkan dengan tilawah dan qiraah. Di lingkungan tempat tinggal saya (Banyuwangi), yang penduduknya mayoritas suku Osing, tadarus disebut dengan istilah madrusan. Di tempat Anda bisa jadi lain lagi istilahnya, tapi artinya masih sama dengan tadarus. Khalayak memahami tadarus sebagai kegiatan membaca Al-Quran secara bersama-sama. Beberapa orang meriung di musala atau masjid, membaca Al-Quran secara bergiliran. Ketika yang satu khusyuk membaca, yang lain dengan saksama menyimak sambil mencocokkan bacaan yang bersangkutan dengan teks Al-Quran di hadapannya.

Sepintas, definisi seperti itu benar adanya. Apalagi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) telah melegitimasinya dengan mengartikan tadarus sebagai “pembacaan Alquran secara bersama-sama (dalam bulan puasa)”. Kejanggalan baru terasa manakala kita telusuri arti kata tadarus dalam bahasa asli: Arab. Ternyata tadarus merupakan kata bentukan (isim masdar) dari akar kata darasa yang berarti “belajar”. Dari akar kata yang sama, yakni darasa, lahir kata madrasah (tempat belajar: sekolah), juga mudarris (orang yang mengajar: guru). Nah, sekarang kita tahu, ternyata terjadi pergeseran makna tadarus dari “belajar” menjadi “membaca”. Demi kesempurnaan pemaknaan, sebaiknya KBBI merevisi arti lema tadarus yang semula sekadar “pembacaan Alquran secara bersama-sama (dalam bulan puasa)” menjadi “pembacaan yang bermakna memahami dan mempelajari”, atau KBBI menyempurnakan dengan versinya sendiri. Yang penting ada penekanan pada proses belajar memahami, bukan sekadar membaca secara bersama-sama tanpa berusaha memahami makna ayat-ayat yang dibaca.

Jika sekadar membaca secara bersama-sama, lebih tepat menggunakan istilah tilawah. Tilawatil Quran merupakan kegiatan membaca Al-Quran yang tidak terlalu menekankan pemahaman, tapi lebih menekankan cara membaca yang benar dan enak didengar–seperti yang sering kita dengar atau saksikan dalam acara lomba membaca Al-Quran, misalnya Musabaqah Tilawatil Quran. Namun, masalahnya, sering kita dengar selama malam Ramadan bacaan Qurannya kurang merdu. Cara membacanya juga kurang tepat. Bahkan ada yang membaca dengan cepat sekali. Jangankan memahami maknanya, mengetahui benar dan salah bacaannya saja kita kehabisan waktu.

Jika dilihat dari asal katanya, sepintas kata qiraah yang paling cocok untuk menamai kegiatan membaca Al-Quran di malam Ramadan. Qiraah terambil dari akar kata qaraa, yang artinya “membaca”. Namun qiraah memiliki makna lebih umum: tidak hanya membaca tulisan yang tekstual, tapi juga bisa bermakna membaca tanda-tanda alam. Membaca makna-makna yang tersirat dalam sebuah tulisan ataupun fenomena juga qiraah.

Meski sama-sama berarti membaca, qiraah berbeda dengan tilawah. Perbedaan di antara keduanya dijelaskan M. Quraish Shihab dalam bukunya: Tafsir Al-Mishbah, Volume 10, Bab Surat Al-Ankabut. Obyek tilawah, kata Quraish, adalah sesuatu yang agung, suci, dan benar. Kata tilawah pada mulanya berarti “mengikuti”. Seseorang yang membaca adalah seseorang yang hati atau lidahnya mengikuti apa yang terhidang dari lambang-lambang bacaan, huruf demi huruf, bagian demi bagian, dari apa yang dibacanya. Adapun obyek qiraah lebih umum. Mencakup yang suci atau tidak suci, kandungannya boleh jadi positif atau negatif. “Perintah membaca pada wahyu pertama adalah iqra (bacalah!) yang obyeknya dapat mencakup segala macam bacaan, termasuk wahyu-wahyu Al-Quran,” demikian kata Quraish. Mungkin itu alasan kenapa lomba membaca Al-Quran disebut Musabaqah Tilawatil Quran, bukan Musabaqah Qiraatil Quran.

Saya setuju dengan pendapat Agus Mustofa. Dalam sebuah percakapan, penulis buku serial Tasawuf Modern itu menegaskan bahwa Ramadan merupakan bulan membaca Al-Quran. Ada yang melakukannya sebagai tilawatil Quran, yakni membaca yang sekadar “benar dan enak didengar”. Ada pula yang membacanya sebagai qiraatil Quran, yakni kegiatan membaca yang diiringi dengan upaya memahami. Yang terakhir adalah tadarus Quran, yakni kegiatan membaca yang penekanannya lebih pada memahami lebih jauh serta mempelajari kandungan hikmah yang ada di dalam Kitab Suci. Itu sebabnya para orang tua dulu menyuruh anak-anaknya rutin melakukan tadarusan sepanjang Ramadan. Tujuannya tidak lain adalah agar kita tidak sekadar membaca Al-Quran secara bersama-sama, tapi juga memahami isinya.

* Wartawan Jawa Pos

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s