Universalisme Eksklusif

Samsudin Berlian* (Kompas, 8 Jul 2017)

160418161006_1_900x600

Universalisme eksklusif saat ini hidup dan berkembang pesat di diri orang per orang, kelompok-kelompok masyarakat, dan bahkan masyarakat luas. Universalisme eksklusif dipikir-pikir, direnung-renung, ditimbang-timbang, kok terdengar seperti oksimoron. Ngomong-ngomong, oksimoron itu kira-kira seperti ungkapan ”harus mengundurkan diri” yang ditakuti banyak karyawan, atau ”rela mengantre seharian” yang dilakoni pemburu daging sapi harga diskon jelang Lebaran—kata-kata yang bermusuhan arti disandingkan seolah-olah pasangan sedang akad nikah. Padahal, kalau harus namanya dipecat; kalau mengantre artinya terpaksa. Contoh lain oksimoron adalah aksi ”pentung damai”, ”razia senyum”, atau ”operasi simpatik” terhadap warung yang buka siang hari pada bulan puasa. Nah, universalisme kok eksklusif? Eksklusif kok universal?

Konsep oksimoron hanya punya bobot kalau orang berusaha obyektif menatap realitas. ”Oh, gitu toh, ternyata dalam kenyataan gak nyambung.” Tapi, seperti telah diungkapkan oleh filsuf-filsuf pertama 2.600 tahun lalu, obyektivitas tidak mudah digapai; bahkan banyak pemikir yang tak enggan menyatakan bahwa obyektivitas tidak bisa ditangkap oleh pemikiran manusia, yang per definisi selalu subyektif. Itulah sebab para juru jual universalisme eksklusif kontemporer di seluruh dunia tidak memusingkan diri dengan kontradiksi inheren di dalam kata-kata mereka, bukan hanya karena realitas obyektif sulit atau mustahil digenggam, melainkan terutama karena mereka memang sama sekali tidak berusaha berjalan di atas realitas obyektif.

Mereka semata-mata berdaya-upaya oksimoronis di ranah bahasa karena bahasa bersifat arbitrer dan plastis; bukan karena tidak tahu, melainkan dengan sengaja. Realitas obyektif boleh saja tidak memihak mereka, tapi dengan bahasa universal eksklusif yang ditembakkan secara sistematik, terstruktur, dan masif, mereka bisa—dan telah terbukti berhasil—menciptakan realitas alternatif yang berdampak nyata, efektif, berkekuatan besar, dan, yang paling penting, menang besar di alam realitas obyektif.

Di dalam lingkup bahasa, fakta dan data alternatif yang bersifat universal eksklusif pun tidak tampil telanjang sebagai oksimoron, melainkan justru berbungkus bling-bling mencorong dan menyilaukan sebagai kebenaran dan kepastian. Ia adalah kenyataan bernilai negatif yang terang-terangan bersembunyi dengan sukses di dalam slogan-slogan popular yang terdengar bernilai sangat positif. Univer … sebentar, hei … stop! Ini lagi ngomong apa, sih? Sabarlah, sayang. Semua akan jelas pada waktunya.

Universalisme eksklusif dipropagandakan melalui kata, istilah, dan konsep yang secara instingtif menghadirkan nilai positif, membangkitkan semangat, mengharukan, meyakinkan, menyenangkan, dst, dengan memanfaatkan kata-kata yang ditinggikan umum seperti Tuhan, pembangunan, kesejahteraan, pemberantasan kemiskinan, surga, dsb. Saat yang sama, ada ekstrakata-kata luhur seperti setia, taat, cinta, pasrah, berani mati, dll.

Tapi, yang menjadi kunci adalah kualifikasi atau batasan yang, hebatnya, juga menggunakan kata-kata universal seperti kita, seluruh, semua, rakyat, bangsa, umat. Di sini patgulipat universal eksklusif terjadi—ketika kata-kata universal dipakai secara eksklusif hanya untuk diri dan golongan sendiri; ketika universalitas tercapai bukan dengan memperluas wawasan dan atau merangkul kepelbagaian, melainkan mempersempit definisi.

Tertulis ”seluruh bangsa Indonesia”, tapi di pikiran mereka Indonesia tidak mencakup ”kalian yang adalah keturunan asing dari utara”. Tersurat ”kita seluruh umat”, tapi umat didefinisikan secara diam-diam sebagai ”golongan yang paling murni saja, yakni kami”. Yang digembar-gemborkan ”demi kesejahteraan manusia”, tapi dibisikkan bahwa ”kalian atau mereka hanyalah manusia kelas tiga”.

Yang diperjuangkan ”rahmat bagi seluruh alam”, tapi yang dimaksud ”seluruh alam” terbatas pada ”kami, keluarga kami, dan orang yang sepaham dengan kami”. Yang dijadikan argumen adalah ”membela agama” tapi yang dilakukan adalah ”menyerang agama lain” sebab ”agama” hanya punya satu arti: ”agama kami”; bahkan lebih sempit lagi: ”mazhab kami”. Demikianlah tersamar, bagaikan gajah buduk hamil tua menari ardah di puncak emas lingga Monas, eksklusivisme yang pahit kecut berbungkus sakarin universalisme yang manis dan menyakitkan perut.

* Penggelut Makna Kata

Iklan

One thought on “Universalisme Eksklusif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s