Gerakan Disiplin Korektif

Kurnia J.R. (Kompas, 22 Jul 2017)

Penulisan kata depan di yang ditulis rapat dengan sebutan tempat seperti “disini”, “dikanan”, “dibawah”, merupakan salah satu kekeliruan yang kian banyak terlihat di instansi pemerintah, di stasiun kereta, bandar udara dan laut, pada papan reklame di ruang publik, kawasan bisnis-komersial dan wisata, hingga lembaga pendidikan, terlebih-lebih di jejaring sosial.

Pemerintahan Jokowi ditunjang oleh banyak pemimpin muda di berbagai daerah yang peduli pada reformasi pelayanan publik. Mereka bukan sejenis birokrat lembam yang teralienasi dari ide-ide intelektual. Kompetensi mereka patut didayagunakan untuk menerapkan disiplin dalam berbahasa nasional lisan dan tulisan di ruang formal agar kelak berimbas ke konteks informal.

Kebijakan pemakaian bahasa nasional di dalam undang-undang untuk tujuan praktis mungkin sudah memadai, namun apalah guna hal  itu jika tidak diterapkan di lapangan. Tugas siapakah penertiban teks informasi dan lain-lain, minimal di kota-kota besar? Jangan bayangkan ribuan petugas PLN atau PDAM yang keliling dari rumah ke rumah untuk mengecek angka meteran sebagai basis tagihan bulanan.

Jangan pula berpikir tentang sanksi atas aparatur yang melakukan kesalahan penulisan papan pemberitahuan atau keterangan untuk berbagai bidang layanan publik. Cara pandang bangsa yang menganggap manusia seumpama hewan yang dicambuk agar tak berbuat salah biasanya tak efektif, pun tidak edukatif. Ancaman dan insentif dalam gerakan disiplin berbahasa dalam komunikasi publik aparatur negara tidak relevan diterapkan. Disiplin dalam berbahasa adalah soal kesadaran yang ditumbuhkan dari dalam, bukan kebiasaan mekanistis yang dikondisikan dengan rangsangan dari luar bermodus materi.

Pemerintah harus membuat program menumbuhkan kesadaran dan meningkatkan kompetensi bahasa nasional yang berkesinambungan, hingga hal itu berjalan dengan sendirinya. Aparatur pemerintah hingga pejabat setingkat menteri harus diwajibkan memenuhi standar kompetensi kebahasaan, yang diperhitungkan dalam  penilaian prestasi berkala.

Di samping itu, fungsi dan peran Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dioptimalkan. Tak kalah penting peran media elektronik dalam kampanye disiplin berbahasa nasional untuk memberi panduan praktis bagi toko, restoran, wahana rekreasi, bisnis jasa, properti, dan lain-lain. Panduan yang diulang-ulang setiap hari di layar TV akan lebih cepat dan kuat melekat di benak khalayak segala lapisan. Dalam masyarakat kita, TV menyala nyaris 24 jam sehari!

Kenyinyiran sebagian orang di media sosial dapat didayagunakan. Kalau ada penyuluhan atau kampanye bahasa yang memancing sinisme pihak tertentu, maka hal itu akan memicu diskusi publik yang panas, sedikit nekat, namun asyik. Di media sosial orang cenderung ingin terlihat pintar. Rasa bangga karena bisa berbahasa Inggris membuat banyak orang kritis dan korektif atas kesalahan bahasa Inggris orang lain ketimbang kesalahan dalam berbahasa Indonesia. Ini menunjukkan rendahnya kebanggaan atas bahasa sendiri.

Idealnya, manakala kesadaran berbahasa nasional secara disiplin bagi keperluan formal telah bersemi di tengah masyarakat, kita akan saksikan koreksi publik yang sigap terhadap aparatur pemerintah atau swasta yang ketinggalan kereta gerakan disiplin. Koreksi dan sanksi sosial di dunia maya biasanya lebih efektif, tak jarang bahkan eksesif, ketimbang sanksi administratif.

* Pujangga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.