“Dikontrakan” atau “Di kontrakkan”

Eko Endarmoko* (Kompas, 19 Agu 2017)

Mungkin sekali cukup sering kita bersua dengan bentuk dikontrakan atau di kontrakkan. Kedua bentuk ini biasanya mengambil rupa plakat, tulisan di atas secarik kertas atau karton, dan ditempelkan di sisi depan sebuah rumah yang oleh pemiliknya hendak disewakan. Cara ungkap yang sebenarnya bermaksud kelak ditangkap oleh pembacanya sebagai disewakan itu, dengan segera kita tahu, keliru atau menyimpangi kaidah tata bahasa Indonesia. Persisnya keliru baik pada tataran gramatika (di kontrakkan) maupun pada tataran semantika (dikontrakan).

Ya, tentu saja mestinya ditulis dikontrakkan. Konstruksi ini berasal dari kata dasar kontrak yang mendapat awalan /di-/ dan akhiran /-kan/. Akhiran /-kan/ inilah penjelasan mengapa huruf /k/ di situ mutlak mesti ditulis dobel. Bandingkan dengan kata lain yang huruf di ujung belakangnya /k/, lalu beroleh akhiran /-kan/: menaikkan, mendesakkan, misalnya. Pasti sudah jelas jugalah, mengapa apabila huruf /k/ di sana cuma satu, dikontrakan, gampang kita bilang mencong, salah—manakala kata ini dimaksudkan membawa pengertian kurang lebih seperti arti kata disewakan. Sebab, dikontrakan otomatis menggiring kita berpikir bahwa konstruksi itu bermula dari bentuk dasar kontra, bukan kontrak. Berbeda dari di kontrakkan yang keliru secara gramatika, dikontrakan mencong lebih karena tidak membawa pengertian sebagaimana yang dimaksudkan oleh penulisnya. Ia cacat makna, bukan cacat bentuk.

Di sini dapat kita mengatakan konstruksi dikontrakan tak bisa lain berarti ’ditentangkan’, ’dilawankan’, bukan ’disewakan’. Namun, pada saat yang sama dapat juga kita mengatakan bahwa orang yang membaca kata itu pada plakat di sisi depan sebuah rumah tidaklah serta-merta akan mengartikannya sebagai ditentangkan atau dilawankan. Saya kira tidak sedikit dari para pembacanya akan mengartikannya (secara keliru) sebagai disewakan—persis seperti maksud penulis, sang pemilik rumah. Dan, inilah aspek kebahasaan yang ganjil bin ajaib, mereka sedikit pun tidak merasa ada masalah(!).

Berbeda adalah kasus penulisan konstruksi di kontrakkan. Salah bentuk ini jelas terletak pada penulisan /di/ yang semestinya menyambung, tidak berdiri sendiri: dikontrakkan. Mengapa harus menyambung? Sebab, di situ /di/ adalah awalan, bukan kata depan. Tidak ada dalam bahasa Indonesia kita awalan ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya: memakan, berkumis, pesuruh, perbesar, terangkat, kekasih. Dan tidak ada kata (depan) yang ditulis menyambung dengan kata yang mengikutinya: di kamar, dari kemarin, untuk kamu, hingga sekarang, hampir meninggal, demi Tuhan, atas nama. Pendek kata, /di/ sebagai awalan dan sebagai kata, punya perilaku gramatika yang sangat berbeda.

Tadi saya mengatakan bahwa dikontrakan otomatis menggiring kita berpikir bahwa konstruksi itu bermula dari bentuk dasar kontra, bukan kontrak. Bahwa kita otomatis tergiring ke situ, ini bukan hal yang sama sekali aneh sebab dalam batok kepala tiap orang sudah ada pola-pola bahasa yang meresap sedikit demi sedikit sejak seseorang sanggup berkomunikasi dengan bahasa. Pola itulah yang menjadi sebab kita berpikir bahwa dikontrakan bermula dari bentuk dasar kontra, bukan kontrak.

Lebih menggugah ingin tahu kita adalah, mengapa ada kecenderungan mengingkari pola-pola tersebut? Bagaimana bisa menerima atau menganggap benar sesuatu yang jelas-jelas diketahui salah?

* Penyusun Tesamoko, Tesaurus Bahasa Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.