Lewah alias Lebay

Eko Endarmoko* (Kompas, 2 Sep 2017)

Sudah lama juga rupanya, bahasa kadang tanpa disadari dipakai secara berlebihan. Beberapa contoh sederhana: naik ke atas, turun ke bawah, berbisik pelan, berteriak keras-keras. Padahal jelas, sudah cukup naik, turun, berbisik, atau berteriak saja.

Dahulu kasus kebahasaan semacam itu, yaitu pemakaian bentuk lewah atau mubazir, mendapat stigma salah kaprah. Inilah, menurut pandangan dahulu itu, kesalahan subversif yang sudah sedemikian meluas dan teramat sering muncul sehingga tidak lagi terasa keliru. Maka, ”gejala tak sehat” ini perlu, bahkan mesti, diberantas atau setidaknya diluruskan—seolah-olah dengan kasus lewah itu, bahasa kita jadi ripuk.

Perbincangan pendek ini bukan bermaksud mengulang soal usang tersebut sembari tidak ingin tergesa-gesa menganggap semua bentuk seperti itu salah, subversif, apalagi sampai tak termaafkan.

Dua alasan mengapa kita tak perlu ikut-ikutan memberi stigma salah secara sepihak. Pertama, sudah lama kita mengenal gaya bahasa yang umurnya saya kira setua bahasa, setua umat manusia. Gaya bahasa adalah siasat, muslihat di dalam berbahasa demi mendapatkan efek tertentu. Ini amat lazim dalam ragam bahasa sastra, tetapi tidak khusus menjadi milik atau hak kalangan sastrawan. Keempat contoh kasus di atas bisa saja kita anggap sebagai gaya yang bermaksud mempertegas, mengeraskan, kata kuncinya. Efek yang sampai ke kita bukan saja kadar intensitas yang lebih besar, tetapi juga pemahaman yang lebih luas, lengkap, dan lebih jelas.

Kedua, benar belaka bahwa bentuk lewah dalam tanda kurung berikut dapat dibuang tanpa mengubah arti: naik (ke atas), turun (ke bawah), berbisik (pelan), berteriak (keras-keras). Dua kata kerja yang pertama, naik dan turun, pada dirinya sudah menunjukkan arah tertentu yang jelas pasti. Dalam pada itu, volume suara orang berbisik sudah pasti pelan, dan suara berteriak tentu keras. Saya bertanya, di mana persisnya letak kesalahan pemakaian bentuk-bentuk lewah dalam tanda kurung di atas? Lewah itu salah?

Dalam tata makna atau semantika, masing-masing dari keempat kata tadi, sudah saya katakan, menyertakan makna lain secara implisit di dalam dirinya. Dan kesertaan makna atau pengertian lain itu niscaya. Pada empat contoh di awal tulisan, naik sudah menyertakan pengertian ke atas, dan seterusnya. Ini agak mirip dengan kata sering, yang bermakna banyak kali atau berkali-kali, tetapi tak jarang masih juga ditambah kata kali: sering kali. Atau kata duda, yang menyertakan pengertian berjenis kelamin laki-laki (tetapi tak pernah kita jumpai duda lelaki).

Bagi saya, lewah pada dua contoh terakhir di atas agak berbeda dari lewah pada empat contoh kasus sebelumnya. Dua bentuk lewah ini tak punya alasan yang cukup untuk berada di sana. Dan tidak kita rasakan ada efek tertentu dalam pencerapan, yaitu pertanda bahwa bentuk pengucapan itu tergolong gaya bahasa. Lewah macam ini rasanya lebih tepat kita sebut lebay.

* Penyusun Tesamoko, Tesaurus Bahasa Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.