Lebih dari …

Pamusuk Eneste* (Kompas, 30 Sep 2017)

Kadang-kadang kita merasa sudah betul menggunakan kata tertentu, tetapi orang lain bisa saja menafsirkannya berbeda. Ini bisa terjadi dalam percakapan lisan, terlebih dalam tulisan. Data berikut menunjukkan hal itu.

Kita ambil contoh artikel “Krisis Venezuela” yang dimuat Kompas edisi 5 Agustus lalu. Si penulis dua kali memakai ungkapan lebih dari dalam tulisan itu. (1) “Untuk mendukung kebijakan ini, pemerintah mengambil alih lebih dari 1.200 perusahaan swasta”. (2) “Korban demonstrasi hingga kini mencapai lebih dari 100 jiwa, dengan ribuan orang luka-luka dan ditahan”.

Untuk si penulis artikel, mungkin jelas apa yang dia maksud dengan “lebih dari 1.200 perusahaan swasta” dan “lebih dari 100 jiwa”. Namun, bagi orang lain, termasuk saya, “lebih dari 1.200 perusahaan swasta” dan “lebih dari 100 jiwa” belum jelas. Persisnya berapa yang dimaksud? “Lebih dari 1.200 perusahaan swasta” bisa saja berarti 1.500, atau 2.000, atau bahkan 10.000 perusahaan swasta. Lantas, “lebih dari 100 jiwa” bisa saja berarti 1.000 jiwa, 2.000 jiwa, atau 10.000 jiwa, bahkan tidak terhingga. Maksud penulis pastilah bukan seperti itu karena ia merasa sudah memberi batasan.

Begitu pula dengan berita “Warga Sunda Wiwitan Butuh Perlindungan” (Kompas, 11 September 2017). Dalam berita itu, kita bersua dengan kalimat, (3) “Lebih dari 1.000 orang turut serta dalam acara adat setahun sekali tersebut”. Untuk si wartawan barangkali sudah jelas apa yang dimaksudkannya, tetapi bagi pembaca belum tentu. Saya, misalnya, masih bertanya-tanya apa maksudnya “lebih dari 1.000 orang”. Apa yang dimaksud 2.000 orang, 10.000 orang, atau 100.000 orang? Bukankah kesemuanya ini “lebih dari 1.000 orang”?

Dengan konstruksi yang berbeda sedikit, tetapi maknanya serupa, Franz Magnis-Suseno (FMS) melalui artikel “Perang Melawan Rakyat?” (Kompas, 6 September 2017) menulis, (4) “Sekali lagi: melarang lima juta lebih pemakai sepeda motor menggunakan poros-poros utama lalu lintas di DKI tak kurang merupakan pernyataan perang terhadap masyarakatnya yang sederhana”. Untuk FMS mungkin sudah jelas maksud kalimat itu, apalagi sudah disebut angka lima juta pengguna sepeda motor. Namun, kita masih bisa bertanya, “lima juta lebih pemakai sepeda motor” itu persisnya berapa?

Menurut saya, “lima juta lebih” bisa ditafsirkan enam juta, tujuh juta, sepuluh juta, bahkan tidak terbatas. Saya yakin, pasti bukan itu maksud FMS.

Di satu pihak, para penulis di atas memang sudah memberikan angka pembatas. Namun, angka pembatas itu ternyata sangat longgar dan jauh dari pasti. Di pihak lain, mereka sebetulnya hanya memberi “batas bawah” (“1.200 perusahaan swasta”, “100 jiwa”, “1.000 orang”, dan “lima juta”), sedangkan “batas atas” tidak ada. Itu sebabnya, “batas atas” bisa saja tak terbatas atau tak terhingga.

Nah, apabila para penulis di atas tak tahu atau tak menyebut “batas atas”, tentu lebih baik apabila ungkapan lebih dari pada kalimat (1)-(3) dan kata lebih pada kalimat (4) diganti dengan kata setidaknya. Jadi, (1) “setidaknya 1.200 perusahaan swasta”, (2) “setidaknya 100 jiwa”, (3) “setidaknya 1.000 orang”, dan (4) “setidaknya lima juta pemakai sepeda motor”.

Kata setidaknya lebih memperjelas berapa jumlah yang dimaksud ketimbang lebih dari atau lebih. Tentu saja kita pun, kalau mau, bisa memakai sinonim setidaknya, yaitu sedikitnya atau paling sedikit.

* Pengajar di Teknik Grafika dan Penerbitan PNJ Depok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.