Sangga Membonceng Sanggah

Kurnia J.R.* (Kompas, 21 Okt 2017)

Seorang mahasiswa ekonomi berdarah penyair sedang jatuh cinta. Dia jadi gandrung kosakata langka untuk menanggulangi defisit leksikon di benaknya yang mendadak romantis. Dia tidak peduli walau terjadi inflasi kata arkais dalam statistik mingguan yang selalu memuncak setiap Sabtu malam yang puitis.

Ada puluhan ribu kata dalam suatu bahasa, tetapi yang sering digunakan mungkin tak sampai seperempatnya. Selebihnya hanya terkodifikasi sebagai khazanah budaya. Itu pun kalau tidak ada kata-kata yang dihilangkan dari kamus setiap kali cetak ulang melalui proses revisi.

Revisi kadang kala tidak memperkaya isi, justru mengurangi. Lema yang dinilai ketinggalan zaman dibuang. Padahal, sastrawan dan pencipta lagu biasanya menyukai kata-kata nan antik untuk keperluan estetika, seperti rima dan diksi. Kata arkais adalah harta karun bagi seniman.

Lantaran tak belajar linguistik, sang mahasiswa perlu diberi tahu bahwa kata-kata yang jarang digunakan rentan disalahpahami maknanya. Saldo masalah masih dapat diseimbangkan kalau yang melakukan kekeliruan hanya satu-dua orang dan terkoreksi. Problem mulai serius ketika kekeliruan dilakukan orang banyak-laba disebut rugi, surplus dibilang defisit-dan itu diterima sebagai kebenaran. Kata-kata yang sering dijungkirbalikkan maknanya, antara lain, sangga dan sanggah.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memerikan sangga sebagai sesuatu yang digunakan untuk menyangga atau menopang. Kata ini sering dipakai untuk arti yang sebaliknya. Seperti kalimat ini: “Sang mahasiswa cemas si gadis akan menyangga kesaksian temannya bahwa dia tampan.” Tak masuk akal jika dikatakan si ganteng cemas gadis idamannya bakal mendukung kesaksian temannya. Seharusnya ditulis, “Sang mahasiswa cemas si gadis akan menyanggah kesaksian temannya bahwa dia tampan.” Dalam KBBI sanggah berarti ‘bantah; menyanggah: membantah, tak mau menerima, menyangkal, melawan, menentang, memprotes, mempunyai pendapat berbeda dalam diskusi’.

Di akun Facebook mahasiswa ini ada kutipan dari kitab Al-Luma’, mahakarya Abu Nashr as-Sarraj: “Adab itu sandaran penyanggah bagi orang fakir dan hiasan bagi orang kaya.” Boleh jadi, penerjemah dan editor khilaf. Bagaimana mungkin sandaran dan penyanggah, dua kata yang kontradiktif dalam semantik, dipersandingkan demi motif kesetaraan makna?

Kata yang juga sering disalahartikan adalah bonceng. Kita tak berharap sang mahasiswa yang tengah kasmaran menulis dibonceng, padahal maksudnya membonceng: “Kalau jadi pacarku, setiap pergi kuliah dia tak perlu lagi dibonceng dengan motor bapaknya.” Berdasarkan makna kata dasarnya, bentukan dibonceng tak bisa diterima. Kamus Poerwadarminta hanya memuat kata terbonceng yang maksudnya ‘diboncengkan, disertakan (tidak sengaja)’. Calon ekonom ini mestinya menulis, “Kalau jadi pacarku, setiap pergi kuliah dia tak perlu lagi memboncengbapaknya.” Kita juga harus membayangkan sang mahasiswa betul-betul punya sepeda motor.

Menurut KBBI, bonceng berarti ‘ikut (naik kendaraan beroda dua)’. Membonceng juga berarti ‘memanfaatkan kekuasaan (pengaruh, kewibawaan) orang lain untuk mencapai tujuan sendiri’. Pemboncengadalah orang yang membonceng atau pihak yang ikut ambil bagian dalam suatu pergolakan (gerakan atau peristiwa) yang diprakarsai dan dilaksanakan oleh pihak lain yang dianggap menguntungkan pihaknya. Berboncengan adalah naik sebuah kendaraan bersama-sama. Tentu saja yang membonceng duduk di belakang sang pengemudi, bukan sebaliknya. Jangan sampai keliru: siapa membonceng siapa.

* Pujangga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.