“Hoax”

Samsudin Berlian* (Kompas, 2 Des 2017)

Ternyata bukan hanya penyebar-pertama atau sumber hoax yang sulit dicari. Kata hoax itu sendiri susah ditemukan siapa bidannya. Para pakar pun tidak tahu. Hipotesis: hoax kependekan hocus, bagian pertama dari hocus-pocus. Hocus Pocus adalah nama panggung pesulap ternama di Inggris pada abad ke-17. Menurut Oxford English Dictionary, ketika pentas, si pesulap suka berucap ”Hocus pocus, tontus talontus, vade celeriter iubeo”. Artinya? Kira-kira sama dengan sim-salabim atau abrakadabra, alias celoteh tanpa arti. Bunyinya dimirip-miripkan dengan bahasa Latin supaya terdengar rahasia dan sihiria, bikin orang terpesona. Oxford Advanced Learner’s Dictionary punya varian penjelasan, bahwa asal hocus-pocus itu adalah ”hax pax max Deus adimax”, maknanya sama saja, omong kosong.

Nah, ketika dipakai di luar konteks sulap, hocus-pocus mengandung arti tipuan untuk mempermainkan atau ”mengadali”, kebohongan yang dipakai untuk menyembunyikan kebenaran, untuk mengalihkan perhatian orang ke arah yang keliru. Pesulap memakai hocus-pocus untuk menghibur orang yang bahkan mau membayar untuk merasakan kenikmatan dan kesenangan ditipu dengan cara yang wah. Sebaliknya, tukang hoax dengan sengaja membikin sengsara orang, baik si korban yang perkataan dan perbuatannya dipelintir, maupun banyak orang yang berhasil diyakinkan, yang baru sadar tertipu setelah terlambat, atau tidak pernah (mau) sadar.

Varian penjelasan lain lagi adalah bahwa hocus-pocus itu tiruan asal-asalan kata-kata yang biasa diucapkan Imam Katolik dalam Misa: hoc est corpus meum (Inilah tubuh-Ku).

Kata hoax sangat luas dikenal dan dipakai sekarang. Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi terakhir yang bisa diakses di internet sudah memasukkan lema hoaks dengan makna cuma setengah lengkap ’berita bohong’. Kalau masalahnya cuma ”bohong”, hoax tidak sulit dilawan. Penelan hoax yang percaya hanya karena kurang pengetahuan dengan mudah bisa diyakinkan bahwa mereka keliru dengan menunjukkan pengetahuan yang lebih tepat dan lengkap.

Persoalannya, hoax menyasar kerinduan dan kebencian yang tertanam di dalam hati target hoax. Banyak penelan hoax percaya justru karena mereka ingin percaya. Secara emosional hoax itu memuaskan kehausan mereka, sangat sesuai dengan mimpi mereka, harapan mereka. Apa yang mereka inginkan, cita-citakan, dan rindukan, itulah yang dikabarkan dan ditawarkan hoax. Hoax juga membangkitkan dan memupuk prasangka dan kepicikan mereka. Hoax membengkakkan kesombongan primordial rasisme, agamaisme, seksisme, dan seterusnya. Orang yang menemukan kebahagiaan, semangat, dan pembenaran (semu) di dalam hoax akan menggenggam dan memeluk hoax erat-erat seperti balon tinggal empat. Rasanya nikmat seperti permen sakarin manis yang tak bergizi dan beracun. Seperti heroin yang memberikan kepalsuan dan kehancuran, tapi tetap dicari dan dinikmati pecandunya.

Sebagian hoax tidak secara langsung bersifat menjahati sasaran, tetapi lebih dimaksudkan untuk mengangkat nama dan prestise kelompok sendiri. Banyak theis misalnya masih senang mendengar hoax bahwa Einstein percaya kepada Tuhan karena kutipan ”Tuhan tidak berjudi dengan dadu”. Padahal, walaupun ”God does not play dice” memang benar pernah dituliskan Einstein, itu adalah bahasa berbunga dalam rangka penolakannya terhadap Mekanika Quantum; sama sekali tidak ada kaitannya dengan eksistensi Tuhan. Einstein sendiri mengaku secara tertulis bahwa dia meyakini adanya ”semacam” tuhan, tapi sama sekali bukan seperti yang diajarkan agama-agama mana pun. Hoax kisah Einstein semacam ini menyesatkan, tapi relatif tidak berbahaya.

Celakanya, bukan model hoax begini yang laris manis. Pada saat ini di negeri Pancasila ini, yang merajalela adalah hoax yang telah dipakai dengan efektif sebagai senjata politik massal yang dahsyat, sebagai instrumen untuk menghancurkan dasar dan tubuh negara, sebagai alat untuk merusak solidaritas dan pluralisme rakyat semesta, sebagai tameng para koruptor dan manipulator kekuasaan, dan sebagai landasan bagi pengadilan yang jorok dan keji untuk membungkam dan memenjarakan orang benar.

* Penggelut Makna Kata

Iklan

One thought on ““Hoax”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s