Genangan

Rainy M.P. Hutabarat* (Kompas, 6 Jan 2018)

KOMPAS/RIZA FATHONI
Sejumlah pengguna jalan memperlambat laju kendaraan dan menghindari genangan di jalur lambat Jalan Ahmad Yani, Jakarta Timur, Selasa (12/12/2017). Sejumlah genangan terjadi saat hujan melanda sebagian besar Jakarta dan menimbulkan kemacetan lalu-lintas.

Banjir dan genangan adalah dua kata yang selalu muncul di media massa saat musim hujan. Perbedaan kata ini pernah ramai dibahas tahun 2015 saat Djarot, wakil gubernur DKI waktu itu, mengatakan bahwa banjir setinggi 70 sentimeter di Kampung Arus RW 02, Kramatjati, Jakarta Timur, hanyalah genangan. Warganet pun tersentak dan riuh. Masak air setinggi 70 sentimeter disebut genangan?

Masyarakat, termasuk media massa, sebenarnya tak ambil pusing ihwal perbedaan banjir dengan genangan. Genangan yang diakibatkan oleh air yang meluap dari kali atau selokan, ya banjir itu sendiri. Apalagi, seperti kata Sutopo Purwo Nugroho dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), baik banjir maupun genangan sama-sama merugikan masyarakat. (Detik.com, 21/2/2017)

Dinas Tata Air DKI, BNPB, dan Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI mendefinisikan genangan secara berbeda, tentu saja dari perspektif instansi masing-masing. Menurut Dinas Tata Air DKI, ketinggian genangan adalah 40 sentimeter dan air surut paling lama dua jam. Dari segi dampak, genangan baru bisa disebut banjir jika menyebabkan pengungsian. (Kompas.com 27/12/2015)

Buku Dinas PU DKI memaparkan bahwa banjir merupakan keadaan aliran air dan atau elevasi muka air dalam sungai atau kali atau kanal yang lebih besar atau lebih tinggi dari normal. Genangan yang timbul di daerah rendah sebagai akibat yang ditimbulkannya termasuk dalam pengertian ini. Genangan sendiri diartikan sebagai peristiwa terhentinya air atau air tidak mengalir. Bisa saja di satu lokasi ada genangan meski tinggi muka air di sungai masih di bawah rata-rata.

Artinya, genangan bisa disebabkan oleh banjir dan bisa juga masalah lainnya; genangan air tak selalu berpaut dengan banjir.

Selokan yang penuh sampah dan pasir, sementara permukaan jalan yang lebih rendah, sering mengakibatkan genangan air di jalan saat musim hujan bahkan kemarau. Jalan yang berlubang-lubang menjadi kubangan air di musim hujan. Tesamoko (Eko Endarmoko, Edisi Kedua) memadankan genangan dengan kubangan. Kubangan air di jalan-jalan adalah genangan. Kubangan berkata dasar kubang, diartikan sebagai ’tanah lekuk yang berisi air dan lumpur tempat kerbau berendam diri atau berguling-guling’ (KBBI Edisi IV Pusat Bahasa). Arti yang jauh dari bencana banjir dan justru menerbitkan kerinduan terhadap alam pedesaan. Atap rumah yang bocor mengakibatkan genangan air di lantai saat hujan lebat walau ketinggiannya hanya 1-2 sentimeter. KBBI IV mendefinisikan danau sebagai ’kumpulan genangan air yang luas yang dikelilingi oleh daratan’.

Bagi kanak-kanak, genangan di jalanan adalah surga tempat bermain. Bagi yang terjebak kemacetan di jalan-jalan di DKI saat hujan deras, genangan yang tingginya ”hanya” 30 sentimeter dan baru surut empat jam merupakan neraka jahanam. Bagi politisi busuk, genangan adalah bahan kampanye untuk menjelek-jelekkan kandidat X. Kata peribahasa, tempat rendah menjadi genangan air. Genangan di sini tak berurusan dengan banjir atau limpahan air selokan yang hitam dan bau, melainkan menunjuk kepada ”pemimpin yang baik yang mampu menjadi sandaran bawahannya”.

Pembedaan banjir dan genangan tentu diperlukan bagi penanggulangannya oleh instansi-instansi terkait. Namun, satu hal pasti: banjir dan genangan terjadi karena alam dan atau lingkungan yang rusak.

* Cerpenis dan Pekerja Media

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s