Bahasa Menunjukkan Harga

Samsudin Adlawi* (Majalah Tempo, 8 Jan 2018)

Bahasa menunjukkan bangsa. Peribahasa itu sangat karib dengan telinga kita. Maklum, ia sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Bahkan dulu guru saya di sekolah dasar mendoktrinkan jiwa nasionalisme kepada muridnya dengan peribahasa itu. Walhasil, kami hafal di luar kepala, sekalian artinya: baik-buruk sifat dan tabiat orang dan/atau bangsa dapat dilihat dari tutur kata atau bahasanya.

Seperti banyak peribahasa lain, kini “Bahasa menunjukkan bangsa” dikreasi menjadi “Bahasa menunjukkan harga”. Mengikuti fenomena mutakhir, terutama yang berkaitan dengan komunikasi bisnis, sekarang harga tidak hanya dipengaruhi merek dan logo. Dulu harga barang berselirat dengan merek. Makin terkenal mereknya, makin mahal harga barangnya. Bisa membeli barang bermerek terkenal menjadi kebanggaan tersendiri. Setidaknya itu terkonfirmasi oleh perilaku si empunya. Mereka yang di pinggangnya melingkar sabuk berkepala huruf “H” atau “LV” cenderung memasukkan bajunya ke dalam celana panjang. Bagian baju depan lurus kancing akan dijaganya dengan ketat agar tidak sampai modol alias tertarik ke atas sehingga menutupi kepala ikat pinggang berlogo “H” atau “LV”. Pengagum merek-merek terkenal lain idem ditto.

Bahkan, maaf, yang dilakukan sebagian perempuan lebih atraktif. Bukan hanya ikat pinggang dan jam tangan koleksinya yang ditunjuk-tunjukkan. Cara membawa tas mahalnya juga berbeda dengan cara menjinjing tas belanjaan di pasar. Tidak sekadar membimbit, mereka berusaha menjaga agar posisi merek atau logo tas mahalnya selalu berada di bagian depan sehingga bisa dilihat orang lain.

Sekarang kecenderungannya mulai bergeser. Harga barang juga berkelindan dengan bahasa. Mulai marak penamaan barang jualan menggunakan bahasa Inggris. Padahal, sebelumnya, barang tersebut sudah berada di pasar dengan nama Indonesia. Penggunaan nama barang jualan dengan bahasa Inggris bukan sekadar untuk gaya-gayaan, seperti penilaian orang dulu, melainkan untuk menaikkan nilai jual juga. Buktinya, setelah menggunakan nama berbahasa Inggris, harga barangnya melambung.

Ketika bepergian dan masuk ke salah satu kafe, saya mengamati daftar menu yang disodorkan pramusaji. Mata saya terbetot pada tulisan black coffee lengkap dengan harganya, yakni Rp 15 ribu. Karena penasaran, saya pun memesannya. Saat menyeruputnya, saya langsung teringat pada kopi ireng di warung Pak Min, langganan saya dan orang-orang di kampung saya di Banyuwangi. Meski harga secangkirnya hanya Rp 2.000, kopi ireng Pak Min tidak kalah nikmat rasanya. Warnanya juga sama: hitam.

Setelah minum kopi di kafe itu, saya memesan cold drink untuk menggelontor kopi agar cepat larut di perut. Gila, harganya Rp 8.500. Padahal, di warung Pak Min, harga bayu adem hanya Rp 500. Malah Pak Min sering memberi bayu adem dengan cuma-cuma. “Ora usah mbayar, Mas, mung bayu adem ae, kok (Tidak usah bayar, Mas, hanya air dingin, kok),” kata lelaki setengah abad itu.

Dari minuman, kita pindah ke makanan. Rata-rata harga ayam goreng di warung kuliner Banyuwangi Rp 4.000-5.000. Tapi, ketika sudah berganti nama menjadi fried chicken di restoran cepat saji, harganya melambung menjadi Rp 25 ribu, bahkan bisa lebih. Harga pecel bernasib sama. Sampai sekarang, masih banyak warung pecel di sekitar tempat tinggal saya menjualnya dengan harga Rp 7.000-10.000, tergantung lauknya. Tapi, setelah disulap menjadi salad with peanut sauce oleh kedai pizza, banderol harganya naik menjadi sekitar Rp 22 ribu.

Setelah kenyang makan dan minum, mari kita melakukan relaksasi dan perawatan. Kebetulan, hampir sebulan sekali saya mengundang tukang pijat ke rumah untuk melemaskan otot dan melancarkan aliran darah. Sekali pijat selama sejam lebih, saya membayar Rp 50 ribu. Tukang pijat langganan lama saya itu mengatakan banyak pelanggan lain membayar hanya Rp 30 ribu. Ternyata ongkos pijat yang saya bayarkan itu masih jauh lebih murah dibandingkan dengan tarif pijat di hotel. Dengan nama yang mentereng, massage, sekali pijat kita harus merogoh kocek Rp 250-300 ribu.

Harga tempat tinggal dan permakaman yang diinggriskan juga naik drastis. Rumah susun di pinggir sungai masih banyak yang ditawarkan seharga Rp 70 juta. Tapi, setelah rumah itu dijual dengan konsep modern bernama Riverside Apartment, harganya menjadi Rp 650 juta, bahkan bisa lebih mahal, tergantung lokasinya. Sementara itu, mengubur warga di kampung saya sama sekali tak ada tarifnya. Sedangkan di San Diego Hills, konon, harga tanahnya sudah mencapai Rp 65 juta per unit.

Dengan bahasa asing, barang yang dijual terangkat derajatnya.

Harganya menjadi mahal dan disukai orang kaya karena sesuai dengan gaya hidupnya. Tapi, sebagai orang ndeso, saya lebih suka membeli barang bernama asli Indonesia. Harganya lebih murah, sesuai dengan isi kantong baju dan celana. Saya pun lebih suka memekikkan “Bahasa menunjukkan bangsa” daripada “Bahasa menunjukkan harga”.

* Wartawan Jawa Pos

Iklan

4 thoughts on “Bahasa Menunjukkan Harga

  1. ujungnya kita hanya bisa meratapi tanpa bisa mengubah. karena pemikiran orang ekonomi dengan orang bahasa berbeda. ini berlaku di negara lain tidak hanya di Indonesia. perlunya cinta bahasa indonesia perlu ditanamkan sejak sekolah dasar dengan didukung dengan kurikulum yang memadai

  2. Ah, jadi ingat dulu aku pernah baca (atau lihat televisi) dokumenter mengenai merek-merek di Amerika Serikat yang sengaja menggunakan nama-nama dari Eropa (biasanya bahasa Perancis) agar tampak mewah dan mahal. Ternyata tidak beda dengan di sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s