Becak, Becak

Samsudin Berlian* (Kompas, 3 Feb 2018)

Kredit Foto: Nino Citra Anugrahanto untuk Kompas

Ketika masih ditarik kuda, ia dalam bahasa Hokkien disebut bechia. Be berarti ‘kuda’. Chia ‘kereta’. Tapi, mengapa ketika kuda penarik sudah berganti jadi manusia pengayuh, ia tetap disebut becak? Mungkin karena telah terjadi dua hal. Pertama, makna asali becak sudah dilupakan; orang tidak lagi ingat bahwa be- di situ berarti ‘kuda’. Jadi, pengayuh, penumpang, dan pengamat becak tidak merasa heran, apalagi terganggu, tidak melihat kuda di sekitar mereka. Kedua, telah terjadi transposisi sempurna. Kereta yang dikayuh manusia mengambil alih fungsi kereta yang ditarik kuda secara lengkap, sementara keadaan-keadaan lain tidak berubah.

Bayangkanlah. Minggu pertama Januari: anda memanggil, ”Hai, Becak”; kereta dan kuda serta kusirnya datang; tawar-menawar; anda naik, duduk mengangkat kaki; tamasya keliling kota. Minggu pertama Februari: anda memanggil, ”Hai, Becak”; kereta dan manusianya datang; tawar-menawar; anda naik, duduk dengan aksi; melihat-lihat keramaian. Terjadi kontinuitas sempurna. Penumpang becak tidak merasakan perbedaan pelayanan, kuda atau tanpa kuda sama saja. Tidak ada alasan atau alangan yang menuntut penggantian nama becak.

Sementara itu, telah terjadi perbaikan yang menguntungkan dalam banyak hal. Kuda tidak perlu dibeli dan dipelihara dengan biaya tinggi, ongkos perjalanan menjadi lebih ringan, kotoran kuda tidak berserakan, jumlah becak yang tersedia menjadi lebih banyak dan tersebar, dan ruang yang dibutuhkan becak tanpa kuda jauh lebih kecil. Becak yang dikayuh manusia lebih efektif, fleksibel, dan ekonomis daripada becak yang ditarik kuda.

Di negeri asal istilah, transposisi serupa itu tidak terjadi. Bechia tetap berarti ‘kereta kuda’. Dalam bahasa Mandarin disebut mache. Bechia dan mache sama artinya. Tulisannya pun sama. Yang beda pengucapan, tergantung asal pengucap. Bechia terpakai di Indonesia karena banyak imigran Tionghoa dari Provinsi Hokkien. Lantas, apa kata untuk becak zonder kuda di sana? Sanlunche—kereta (che) roda (lun) tiga (san).

Pejabat Jakarta membikin-bikin alasan resmi yang terdengar sangat keren dan filosofis untuk menyingkirkan becak pada akhir abad ke-20: L’exploitation de l’homme par l’homme, penindasan terhadap manusia oleh manusia. Tidak ada yang melihat ironi bahwa kalau alasan itu memang real, mengapakah di luar Jakarta ”penindasan” yang sedemikian dahsyat boleh terus berlangsung dan bahkan didukung? Ungkapan itu sendiri selengkapnya adalah sinisisme yang diatributkan kepada juruwarta dan sutradara Perancis Henri Jeanson, Le capitalisme, c’est l’exploitation de l’homme par l’homme; le communisme? C’est le contraire; ”Kapitalisme adalah penindasan terhadap manusia oleh manusia. Komunisme? Sebaliknya.”

Cocok, bukan? Dibolak-balik sama saja. Membiarkan perbecakan adalah menindas penarik becak. Menyingkirkan becak adalah menindas pengayuh becak. Tertindas atau terentas, kepada pembecak tiada yang bertanya.

*Penggelut Makna Kata

2 thoughts on “Becak, Becak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.