Istri, Permaisuri, dll

L. Wilardjo* (Kompas, 17 Feb 2018)

Kredit Foto: Kompas/Aloysius B. Kurniawan

Awal Februari ini di media ramai orang membicarakan revisi kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Ini wajar sebab ada pasal-pasal dalam RKUHP itu yang dirasa penting dan masih kontroversial. Pasal-pasal kontroversial yang menghadap-hadapkan pihak yang pro dengan pihak yang kontra itu ialah yang berkenaan dengan penghinaan kepada presiden dan—terlebih-lebih lagi—yang mengenai perzinaan.

Sebagai orang awam, saya tak berani memasuki isu perzinaan. Secara hukum, moral, dan budaya isu ini terlalu sensitif dan pelik. Karena itu, hanya kata atau istilahnya yang diangkat di sini.

Pernikahan sah

Pasangan seorang pria dan seorang wanita yang saling mengikat-diri dalam pernikahan yang sah kita sebut suami-istri. Di Amerika dan di Inggris ada istilah bersama untuk suami dan istri, yaitu spouse. Sebaiknya di Indonesia pun (di)ada(kan) istilah bersama yang berpadanan dengan spouse .

Istilah-bersama itu ada dalam bahasa Jawa ialah garwa, semah, dan bojo, menurut tingkatan bahasanya. Kalau kata-kata dalam bahasa Jawa ini boleh kita pungut dan masukkan ke dalam kosakata Indonesia, sebaiknya kita bersikap ugahari (moderat) dan tidak memilih baik yang halus, maupun yang kasar.

Jadi kita pilih semah sebagai padanan spouse. Huruf ”e” dalam kata semah itu dilafazkan seperti bunyi ”e” dalam kata sate (satai).

Kumpul kebo

Di negara-negara Barat yang maju, ada warganya yang tetap berpegang pada tradisi dan menganggap pernikahan sebagai ikatan yang sakral. Namun, ada pula—dan makin banyak—yang tidak lagi menghargai secarik kertas yang disebut akad nikah atau sertifikat perkawinan. Mereka lebih mementingkan komitmen untuk hidup bersama, dengan cinta-mencintai serta bertanggung-jawab atas dan menyayangi anak-anak mereka. Istilahnya, dalam bahasa Jawa yang sudah (bisa dianggap) menjadi bagian dari kosakata Indonesia ialah kumpul kebo.

Istilah ini, menurut saya yang orang Jawa, kasar dan kurang tepat. Terlepas dari apa pun keyakinan keagamaan dan sikap moral-etis kita, manusia itu bukan (dan lebih mulia daripada) hewan. Sebaiknya kita cari kata/istilah yang terasa lebih pas.

Hubungan lain  

Di antara sesama warga masyarakat ada berbagai macam hubungan, baik hubungan profesional maupun relasi interpersonal. Sesama dokter, tak peduli apakah dokter umum, spesialis, konsultan, atau superspesialis, mereka adalah sejawat bagi satu sama lain. Saya tidak tahu, apakah di kalangan tenaga medis perawat/paramedik, bidan, dan teknisi (di laboratorium, misalnya) juga termasuk sejawat para dokter. Kalau tidak, apakah mereka boleh disebut (dan diakui) sebagai kolega?

Telah saya usulkan, di atas, penyebutan beberapa relasi. Yang ”baru” ialah semah. Semua itu hanyalah saran. Yang menentukan ”kata putus”, saya harap, bukan para munsyi/bahasawan di Badan/Pusat/Balai Bahasa, tetapi publik pengguna bahasa Indonesia, bahasa persatuan kita. Saya berpandangan bahwa dalam urusan kebahasaan, di bidang tata-bahasa kita preskriptif, dan kaidah-kaidahnya ditetapkan dengan ”resep” otoritas kebahasaan yang resmi. Sedangkan di bidang kosakata, kita deskriptif. Apa maunya mayoritas warga pengguna bahasa yang menentukan.

* Fisikawan, Pendekar Bahasa

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.