Agar Jaga Jarak Aman

Samsudin Berlian (Kompas, 3 Mar 2018)

Pesastra memperkaya dan memperluas kata dan budaya. Pefilsafat memperdalam dan memperuncing ungkapan dan makna. Pebahasa memolakan dan mempertajam sistem dan tata. Imajinasi dan logika, tradisi dan sistemisasi, semua berperan besar dalam evolusi bahasa yang hidup. Semakin aktif dan kreatif para pebahasa cerdas berhikmat, semakin efektif dan memesona bahasa itu menjadi. Tapi, karya berjuta cerdik cendekia dan bijak bestari tiadalah arti dibandingkan dengan sebaris sabda birokrat pada rakyat semesta.

Sudah bertahun-tahun ratusan kalau bukan ribuan plang elektronik “Agar jaga jarak aman” terpajang di sepanjang jalan-jalan tol. Makna yang disampaikan mudah ditangkap dengan tepat. Tapi, setiap pedant dengan gemas dan geram akan menyatakan bahwa kalimat itu “merusak” bahasa Indonesia. Kolom ini (Kompas, 20 Februari 2009 dan 16 September 2011) juga sudah pernah mengkritiknya tanpa tanggapan.

Bayangkanlah, setiap detik, 3.600 detik per jam, 24 jam sehari, 365 hari setahun, sepanjang waktu tanpa putus tanpa henti, jutaan pengendara dan penumpang menatap maklumat itu berulang-ulang pagi siang malam-ketika kenyang dan ketika lapar, ketika terkantuk dan ketika segar, ketika macet dan ketika lancar. Dari mata turun ke hati, merasuk ke tulang sumsum, menusuk ke jantung sukma. Tidak ada karya sastra sehebat itu. Tidak ada kajian filsafat sedalam itu. Tidak ada pelajaran tata bahasa secespleng itu.

Oke, oke. Yang di atas ini hiperbol. Perkembangan bahasa tidak ditentukan satu meme. Tapi, yang satu ini, oleh ulah satu atau segelintir orang, yang “kebetulan” diberikan kekuasaan atas segaris hajat bahasa orang banyak, berdampak tak terperikan. Sempit, hanya satu ungkapan. Luas, mencapai jutaan orang.

Ada dua hal yang tidak biasa pada amanat itu. Pertama, berkenaan dengan bentuk, ia sebetulnya potongan kalimat. Agar umum dipakai sebagai kata penghubung, misalnya, “Jagalah jarak aman agar selamat” atau “Agar selamat, jagalah jarak aman”. Ada dua anak kalimat-satu berisi tindakan dan satu lagi tujuan-yang dihubungkan dengan agar. Nah, di situ, anak kalimat kedua berisi tujuan “selamat” dihilangkan. Terciptalah kalimat buntung. Kedua, berkenaan dengan isi, ia memindahkan anak kalimat yang biasanya berada di depan agar ke belakangnya. Dengan demikian, “jaga jarak aman” telah sekaligus menjadi tindakan dan tujuan. Akrobatik dahsyat!

Dalam pesan itu, tampaknya agar menggantikan fungsi -lah. “Jagalah jarak aman”, misalnya, sudah terasa jelas dan efektif sebagai ajakan, seruan, panggilan, desakan. Barangkali, selera ewuh berperan di sini. Dengan mengobrak-abrik pemakaian “agar” hingga tercipta kalimat tidak lengkap yang sungsang, justru timbul kesan bahwa ada ajakan yang bersifat tidak langsung, tidak terang-terangan, tidak menyuruh-nyuruh, dan dengan demikian tidak main paksa, tidak ngebos, alias sopan. Paling tidak, lebih sopan daripada -lah yang biasa dipakai dalam satu kalimat perintah yang lugas dan tegas.

Apakah pemakaian agar serupa itu “baik dan benar” atau tidak biarlah para polisi bahasa memerkarakannya. Tapi, janganlah-maaf-agar jangan heran, kalau suatu hari nanti, Anda akan mendengar anak-anak Anda berseru kepada cucu-cucu balita Anda yang sedang berhantam ria untuk mencoba memisahkan mereka: “Agar jaga jarak aman!”.

Jargon lalu lintas “jarak aman” sendiri ada rumusannya; disebut juga aturan dua-detik. Jarak mobil Anda dengan mobil di depan Anda harus Anda tempuh dalam waktu paling sedikit dua detik. Kurang dari itu berarti terlalu dekat, tidak aman. Kalau Anda pengemudi kurang cekatan, agar jadikan aturan tiga-detik.

One thought on “Agar Jaga Jarak Aman

  1. Ping-balik: Jeli | Rubrik Bahasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.