Anjing Tanah Anjing Bentala

André Möller (Kompas, 24 Mar 2018)

Beberapa waktu yang lalu sebagian orang Indonesia kembali merayakan Tahun Baru Imlek. Media, rumah makan, dan pusat perbelanjaan pun tentu saja ikut heboh guna ikut meraih untung, seperti pada perayaan-perayaan yang lain. Mengingat perayaan Imlek secara terbuka baru diperbolehkan kembali pada waktu Gus Dur menjabat sebagai presiden, dan baru dikukuhkan sebagai hari libur nasional di bawah kepemimpinan Megawati, maka kenyataan bahwa Imlek semakin hadir di Indonesia adalah hal yang baik.

Bahkan, bahwasanya perayaan ini diperbolehkan kembali saja patut dirayakan, seperti semacam kemenangan bagi pemahaman pluralis. Yang keberatan ikut merayakannya karena kuatir dicap macam-macam, saran saya bagi mereka adalah ikut makan-makan saja. Toh, tidak pernah ada salahnya.

Seperti diketahui, setiap tahun dalam kalender Tiongkok dikaitkan dengan satu hewan. Pada saat ini kita baru saja meninggalkan tahun ayam dan memasuki tahun anjing. Selain dua tahun ini, ada juga tahun tikus, sapi, macan, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, dan babi. Tambahan pula, setiap tahun juga dipertalikan dengan salah satu dari lima elemen berikut ini: kayu, api, air, logam, dan tanah.

Dengan demikian, lahirlah siklus yang lamanya 60 tahun (dua belas kali lima). Tahun macan logam, misalnya, terjadi pada tahun 1950 dan 2010 Masehi, dan baru akan berulang lagi pada tahun 2070. Tahun saya lahir, adalah tahun kelinci kayu. Barangkali lebih keren kalau lahir pada tahun naga api, tapi apa boleh buat? Lagi pula, saya tidak begitu mengerti filsafat Tiongkok.

Tapi, apa hubungan Imlek dan masalah bahasa? Seperti saya sebutkan di atas, kita sekarang baru saja memasuki tahun anjing. Kebetulan, elemen untuk tahun anjing kali ini adalah tanah, maka ini adalah tahun anjing tanah. Terakhir kali ini terjadi adalah pada 1958, ketika Piala Dunia (sepak bola) berlangsung di Swedia, Michael Jackson lahir, Charles de Gaulle dilantik sebagai presiden di Perancis, dan Sukarno masih berkuasa di tanah air ini.

Masalahnya bagi kita di sini adalah bahwa anjing tanah adalah hewan tersendiri dalam bahasa Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskannya (secara agak kurang jelas dan sedikit membingungkan) sebagai ‘binatang seperti jangkrik yang kepalanya besar dan keluarnya pada waktu malam’. Wikipedia edisi bahasa Indonesia, selain menerangkan bahwa orang Jawa menyebutnya orong-orong, menguraikan bahwa ini adalah ‘serangga berukuran sedang, berwarna coklat terang hingga gelap, memiliki kulit pelindung yang tebal yang hidup di dalam tanah, dengan sepasang tungkai depan termodifikasi berbentuk cangkul untuk menggali tanah dan berenang’. Walaupun penjelasan ini dapat menimbulkan kesan bahwa kulitnya hidup dalam tanah sedangkan serangganya sendiri hidup entah di mana, pembeberan ini dengan cukup jelas membuat kami mengerti bahwa anjing tanah ini sama sekali tidak terkait dengan anjing.

Sejauh yang saya lihat, kebetulan bahasa ini mungkin hanya terjadi pada tahun anjing tanah saja. Ada pula tahun ular kayu yang juga adalah hewan tertentu dalam bahasa Indonesia, tapi ini kan setidaknya masih sejenis ular dan bukan serangga atau anggota keluarga hewan lain. Terus, solusinya? Apakah mungkin elemen tanah ini disebut elemen bentala, seperti tahun anjing bentala? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia maupun Tesamoko, Tesaurus Bahasa Indonesia, tanah bersinonim dengan bentala.

Bagaimanapun juga, Gong Xi Fa Cai, semoga kita semua termasuk orang yang makmur lahir dan batin pada tahun baru ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.