Salah

Eko Endarmoko (Kompas, 31 Mar 2018)

Media kita cukup sering memberitakan, tak jarang lengkap dengan gambar atau rekaman video berdurasi pendek, penjahat kelas kambing sedang digiring ke kantor polisi. Tanpa rompi oranye, mereka memperlihatkan bahasa tubuh yang menunjukkan ekspresi sangat malu dan digayuti rasa amat bersalah.

Kontras adalah sikap para koruptor yang punya status sosial jauh lebih tinggi. Boleh anda mual, tapi beginilah faktanya. Sangat sadar kamera, tokoh dengan rompi oranye tapi tanpa saraf malu seperti bermuka tembok itu tampil percaya diri di kantor Komisi Pemberantasan Korupsi. Tiap sebentar tersenyum sembari mengedarkan pandangan ke lensa-lensa kamera. Percaya diri dan banyak senyum, barangkali karena mengerti bahwa mereka (harus dianggap) ”tidak bersalah” sampai pengadilan nanti membuktikan kebalikannya.

Salah dalam ilustrasi di atas cukup jelas menunjukkan dimensi lain makna kata itu. Sebuah dimensi makna yang dapat kita lihat dalam ungkapan seperti ”rasa bersalah”. Salah yang bukan keliru ini memperlihatkan kepada kita penyimpangan terhadap apa yang dianggap normal, lurus, tertib, dan alim. Kata ini dekat berhubungan dengan urusan moral.

Agak berbeda adalah pengertiannya yang lebih jamak, yaitu ”tidak betul”, seperti salah pada jawaban hitung-hitungan perkalian, pertambahan, pengurangan, atau pembagian. Bisa juga salah yang ini berarti ”menyimpang atau berbeda dari yang seharusnya”, seperti salah sangka, salah ucap, atau salah jalan.

Keliru adalah kata lain untuk melukiskan pengertian yang sangat jamak dalam salah ini. Kita temukan pembelokan dari jalan logika atau prosedur yang lempeng lurus pada keliru. Seperti hasil kalkulasi matematika tadi, misalnya. Membawa korban kecelakaan lalu lintas yang memerlukan pertolongan segera ke gedung bioskop atau rumah makan tentu juga keliru. Atau minum obat dokter bukan tiga kali sehari, tapi sekaligus habis sekali tenggak. Sama kelirunya dengan pendapat atau anggapan bahwa aparat penegak hukum adalah manusia yang steril dari perbuatan lancung.

Dalam contoh terakhir, lebih jelas kita melihat beda salah dan keliru. Pendapat atau anggapan itu keliru, tapi perbuatan lancung di sana adalah salah (yang bukan keliru).

Dalam bahasa Indonesia arti kedua kata itu, salah dan keliru, sudah lama sangat lekat berdempetan. Salah bisa dengan gampang menggantikan keliru. ”Jawaban ujian dia banyak yang keliru/salah, ”Pandangan yang keliru/salah”, ”Banyak mitos yang terbukti keliru/salah”. Tapi, ”rasa bersalah”, tak bisa dinyatakan dengan ”rasa keliru”.

Begitulah. Sampai di sini mudah-mudahan menjadi cukup jelas bahwa secara konseptual, lewat bahasanya, orang Indonesia bukan tidak maklum akan adanya perbedaan antara salah dan keliru.

Bahwa ada yang berpikir perbedaan makna di antara keduanya kurang tajam, salah lebih berurusan dengan moral dan keliru menyangkut fakta yang tak ada hubungannya dengan moral, tidak berarti penuturnya tak memiliki kepekaan atau kesanggupan membedakan.

Atau, barangkali, ada yang berpikir mengganti leksem salah dalam bahasa Indonesia dengan dosa? Langkah begini bukan saja berlebihan, tapi juga melupakan kodrat bahwa makna sebenar-benarnya tiap kata terlihat dalam konteks.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.