Pascakebenaran

Samsudin Berlian (Kompas, 7 Apr 2018)

Ketika nyawa-Nya sedang ditimbang di ujung tanduk, antara bebas dan mati, Sang Guru ditanya sang hakim, “Apakah kebenaran itu?” Sang Guru diam saja. Mungkin Dia tahu, apa pun jawaban yang diberikan tidaklah berarti sebab keputusan, yakni keputusan politik, sudah selesai dijatuhkan sebelum pengadilan dimulai. Mungkin Sang Guru mafhum, di mata sang hakim dan massa penuduhnya, yang penting bukanlah kebenaran, melainkan pascakebenaran.

Kebenaran memiliki makna yang kompleks berkabut. Dalam bahasa Indonesia ia adalah apa yang ada atau jadi, itulah makna eksistensialnya, realitas di dunia luar kepala. Ia adalah apa yang seharusnya ada atau jadi, tidak peduli apakah memang ada atau tidak ada; itulah makna etisnya, keharusan, keutamaan, dan cita-cita kebaikan perikemanusiaan. Ia adalah apa yang ada atau jadi, tidak peduli apakah ia seharusnya ada atau tidak ada; itulah makna teologisnya, ketika kehendak para dewa terjadi, entah logis atau tidak logis, baik atau tidak baik, berguna atau tidak berguna; dengan kata lain, kebetulan. Ia adalah apa yang dinginkan ada atau jadi, tidak peduli apakah pernah ada atau akan ada, apakah baik atau tidak baik, apakah logis atau tidak logis; itulah makna teleologisnya, pencapaian suatu keinginan dan harapan, entah berupa kebahagiaan atau kehancuran, entah wujud keselamatan atau kerakusan. Kompleksitas keluasan dan kedalaman makna ini mendapatkan manifestasi khimerik di dalam KBBI, misalnya: benar mendapatkan arti-gabungan eksistensial dan etis di dalam satu definisi “sesuai sebagaimana adanya (seharusnya)”. Demikianlah asap ditambahkan ke dalam kabut.

Truth, kata yang dikenal Inggris sejak zaman kuno, mengandung sifat-sifat kesetiaan, ketepercayaan, keajekan, keberprinsipan, keimanan, kejujuran, kelurusan, ketepatan, keaslian, keternyataan. Truth dilawankan dengan kesalahan, kecurangan, kepalsuan. Truth ada pada jiwa mulia seorang ksatria dan menjadi ideal fondasi dan perekat luhur kehidupan sosial.

Orang Romawi sangat mengagungkan Veritas, Dewi Kebenaran. Kadang-kadang dia berpakaian putih lambang kemurnian dan kesucian. Kadang-kadang Dewi yang sering dipatungkan sebagai Perawan Rupawan itu digambarkan telanjang. Dari situlah kita kenal ungkapan “kebenaran yang telanjang”, the naked truth, kebenaran yang sebenar-benarnya terbuka di mata semua orang tanpa keraguan tanpa kerancuan. Bukan hanya telanjang, Sang Dewi pun memegang cermin. Ketika seseorang mengenal dan mengenali kebenaran yang telanjang pada dan dalam dirinya sendiri, itulah kebenaran ilahi, benarnya benar.

Setelah tidak perawan lagi, Veritas adalah ibu Virtus, Dewa Keberanian dan Keperkasaan. Kebenaran adalah ibu kandung Keberanian. Indonesia sebagai bangsa menangkap dan menjunjung keutamaan ini di dalam ungkapan “berani karena benar”. Berani mati karena kebenaran. Berani hidup di dalam kebenaran.

Orang Yunani menyebutnya Aletheia. Lethe berarti keadaan tertutup, tersembunyi, tak terlihat, tak teringat. a- berarti tidak. Aletheia berarti keadaan tidak tertutup, tampak, termengerti, tak tersembunyi. Begitulah kebenaran. Ia nyata dan tampak ada. Di dalam politik Indonesia, Aletheia adalah antitesis lobi. Apabila suatu proses perdebatan menuju keputusan di DPR dihentikan sementara untuk memberikan kesempatan kepada peserta melakukan lobi terhadap satu sama lain, itulah cara resmi para pewakil rakyat itu menyelubungi dan menyelimuti Aletheia dari mata rakyat Indonesia.

Yang dipanggil kebenaran itu tidak selalu benar. Itulah pintu masuk pascakebenaran ke dalam dunia politik. Ia bukan hanya kebohongan; ia adalah penyesatan. Ia bukan hanya menunjuk ke arah yang keliru; ia menunjuk ke jurang kehancuran dan kesengsaraan. Ia adalah kebenaran teleologis sang egois dan sang populis. Ia ada pada jiwa antiksatria Raksasa dan Sengkuni. Ia adalah Aletheia di bawah tukup dan tudung kepalsuan. Ia adalah Veritas berjubah kekotoran berkudung kegelapan. Dari pascakebenaran lahirlah wajah singa hati tikus. Pascakebenaran adalah kebohongan politik, otak-atik di belakang layar, rantai perbudakan yang diikatkan oleh para pengecut yang dengan gagah berani mengorbankan kehidupan, kebahagiaan, kesejahteraan, dan masa depan rakyat.

Tidaklah heran Sang Guru memilih diam. Tapi, ssstttt. Dengarlah. Sang Guru berbisik dari kesunyian sekalian alam: “Kebenaran akan memerdekakan kamu.”

One thought on “Pascakebenaran

Tinggalkan Balasan ke Luqman Syarief Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.