Pasca, Paska, Sesudah, atau Setelah?

Lucia Dwi Puspita Sari (KOMPAS, 21 Nov 2020)

Bentuk terikat pasca sering muncul dalam tulisan di media massa dan media lainnya. Kata yang bermakna ’sesudah’ atau ’setelah’ ini kadang muncul pula dalam bentuk lain, yakni paska-. Kata yang terakhir ini muncul karena mengikuti ujaran orang yang belum mengetahui asal-usul pengucapan kata pasca-.

Sebenarnya bagaimana penggunaan kata pasca dalam kalimat dan bagaimana penulisannya yang benar?

Berdasarkan Kamus Kata-kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia (2003) karya JS Badudu, kata pasca– berasal dari bahasa Sanskerta (Sanskrit) yang dilafalkan seperti /c/ dalam /beca/, bukan /k/, sehingga pasca– dieja dan dibaca /pasca/, bukan /paska/.

Kata pasca juga bukan berasal dari bahasa Inggris. Maka, penulisan dan pelafalannya pun bukan /paska/, melainkan /pasca/. Pengucapan pasca- tidak seperti pengucapan, misalnya, kata component dalam bahasa Inggris, yang kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi komponen.

Berdasarkan Ejaan Yang Disempurnakan, kata pasca merupakan salah satu bentuk terikat. Artinya, kata pasca– ditulis serangkai dengan kata yang diikutinya, seperti pascademokrasi, pascapanen, dan pascastroke. Bisa pula ditulis dengan tambahan tanda hubung apabila kata pasca diikuti oleh kata yang berhuruf kapital, misalnya pasca-Bom Bali.

Umumnya, kata yang ditambahi dengan pasca- berupa kata dasar dan berkelas kata benda (nomina), misalnya pascasarjana, pascatrauma, dan pascahaidSarjana, trauma, dan haid adalah kata benda.

Dalam kenyataan sehari-hari ditemukan pula kata pasca- yang diikuti kata jadian (pascakerusuhan), akronim atau singkatan  (pasca-PD II, pascapemilu), dan frasa nominal (pasca-kerusuhan Semanggi).

Selain itu, ditemukan pula kata pasca- yang diikuti oleh kelas kata lain. Contoh, pascalahir, pascakrisis, dan pascamodernLahir adalah kata kerja, serta krisis dan modern adalah kata sifat.

Barangkali karena pola-pola tersebut, dan mungkin juga karena para penulis bersifat pragmatis, di media massa kini kerap muncul kata pasca- yang ditempatkan di sembarang kata. Beberapa contoh menunjukkan kata pasca- diikuti oleh, misalnya, kata dasar dan kata jadian yang berkelas kata kerja. Ada pula kata pasca- yang diikuti oleh kata sifat.

Berikut contohnya.

  • Polisi: Pascabakar Gereja, Separatis Papua Melarikan Diri
  • Pasca membakar tubuh istrinya dan sempat buron sehari, Maspuryanto (47) akhirnya dibekuk Tim Resmob Polres Rembang pukul 17.45 WIB di Rembang, Jateng, Rabu (16/10/2019).
  • Keberadaan tersangka Asmar, buruh proyek berusia 18 tahun yang kabur pasca menembak mati rekannya, korban Ahmad Jaini, dengan mudah bisa diendus polisi.
  • Tindakan pasca operatif dilakukan dalam dua tahap, yaitu periode pemulihan segera dan pemulihan berkelanjutan setelah fase pasca operatif.

Perhatikan bahwa pasca– diikuti oleh kata dasar (bakar) dan kata jadian (membakar dan menembak) yang berkelas kata kerja. Dalam contoh terakhir, kata pasca– diikuti kata dasar dan berkelas kata sifat (operatif).

Dalam kalimat itu, kata pasca- tidak diikuti dengan kata yang tepat. Sebaiknya kata pasca– diganti dengan kata sesudah atau setelah (setelah membakar, setelah menembak).

Ketidaktepatan terdapat pula pada contoh terakhir. Berbeda dengan contoh sebelumnya, bukan kata pasca- yang diganti, melainkan kata operatif.

Penggunaan kata operatif sebelum kata pasca– bisa jadi disebabkan ketidaktahuan si penulis mengenai arti dan bentuk kata operatif. Operatif berarti ’bersifat operasi’. Kata ini muncul jika didahului kata keterangan (adjektiva), misalnya sangat operatif atau tidak operatif. Jadi, kata sejenis operatif tidak bisa dirangkaikan dengan pasca-.

Barangkali yang dimaksud si penulis adalah pascaoperasi,  yang berarti ’berhubungan dengan sesudah menjalani operasi’.

Cara Membedakan

Apabila kita kesulitan membedakan penggunaan antara pasca– dan sesudah/setelah dengan tepat, cobalah mengganti kata pasca– dengan kata pra-. Jika antara kata yang didahului pasca– dan pra– paralel, kemungkinan besar hasil dari pembentukan tersebut tidak salah.

Kata pascasarjana (berhubungan dengan tingkat pendidikan atau pengetahuan sesudah sarjana), misalnya, paralel dengan prasarjana (berhubungan dengan tingkat pendidikan atau pengetahuan sebelum sarjana). Contoh lain adalah pascaproklamasi, pascasejarah, pascapemilu, dan sebagainya, yang paralel dengan bentuk praproklamasi, prasejarah, dan prapemilu.

Bandingkan, umpamanya, dengan pascamembakar dan pascamenembak. Kedua kata ini tidak paralel dengan pramembakar dan pramenembak.

Hal yang sama terjadi pada kata pasca– yang diikuti kata jadian yang berupa kata benda. Kata pasca- yang melekat pada kata kebakaran (pascakebakaran rumah susun itu…), misalnya, kurang tepat karena kata pascakebakaran tidak paralel dengan prakebakaran.

Selain itu, kata pasca- juga tidak bisa diletakkan di awal kalimat karena kata pasca- bukan kata sambung dan berkelas adjektiva. Karena itu, diperlukan sebuah kata di depan pasca-, misalnya Pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM menjadi Program Pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM.

Satu patokan lagi bisa dijadikan pertimbangan. Patokan ini dikutip dari buku Kalimat Jurnalistik (2010) karya A.M. Dewabrata, wartawan Kompas yang purnabakti pada 2004.

Kata pasca- diacukan ke ’waktu belakangan’. Bulan Mei 1998, katanya, terjadi kerusuhan massal di Indonesia. Bulan-bulan setelah kerusuhan itu disebut pascakerusuhan Mei 1998. Huru-hara Mei 1998 mengakibatkan kejatuhan Soeharto. Kejatuhan itu sudah berlalu, tetapi pengaruhnya masih panjang, reformasi tak habis-habis, maka bisalah digunakan pascakejatuhan Soeharto kalau konteksnya dengan kejatuhan itu ekornya panjang.

Jadi, berbeda dengan pascakebakaran rumah susun dalam contoh di atas, pascakerusuhan Mei 1998 dan pascakejatuhan Soeharto menimbulkan efek yang lebih luas. Ada nilai sejarah yang melekat pada bangsa ini sebagai akibat peristiwa tersebut.

Bahwa bentuk jadian yang melekat pada kata pasca- tersebut sama-sama berkelas kata benda, ada nuansa makna yang tidak sekadar ’sesudah’ atau ’setelah’ pada bentuk pascakerusuhan dan pascakejatuhan.

*Penyelaras Bahasa Kompas

Satu komentar di “Pasca, Paska, Sesudah, atau Setelah?

  1. Selamat pagi. Terima kasih saya selalu dikirimi Rubrik Bahasa. Rubrik ini sungguh memperkaya untuk selalu menyegarkan pengetahuan dan pemahaman tentang bahasa, meskipun saya sudah pensiun sebagai guru bahasa Indonesia. Apakah boleh rubrik bahasa ini dikumpulkan dan dibuat buku, sehingga tidak tercecer dan lebih tertata? Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.