Pelakor dan Misogini

Samsudin Berlian (KOMPAS, 30 Nov 2020)

Pelakor atau perebut laki orang berada di barisan istilah dan ungkapan yang—secara denotatif dan konotatif—menghinakan perempuan berkenaan dengan kedudukannya di dalam masyarakat bervisi laki-laki. Barisan misoginistik itu termasuk (tapi, tentu saja tidak terbatas pada) perusak rumah tangga, penggoda, janda kembang, gatal, penjual diri, dan ibu tiri.

Sumber Ilustrasi: Tribunnews

Misogini adalah manual seksisme. Seksisme adalah gagasan dan konsep. Misogini adalah teknik terapan. Misogini berasal Yunani, bentukan dari awalan miso– ‘benci’ serta kata gyne ‘perempuan’. Istilah pelakor sekarang telah menjadi salah satu senjata ampuh verbal misoginistik yang dipakai di dalam masyarakat seksis untuk menyudutkan perempuan; untuk mendudukkan perempuan pada tempatnya, yakni di bawah telapak laki-laki.

Istilah pelakor sering dipakai dengan penuh rasa marah dan dendam oleh perempuan yang suaminya terlibat dalam hubungan romantik dengan perempuan lain. Bisa dibayangkan bahwa si istri itu juga marah besar kepada suaminya. Namun, dalam banyak kasus ada perbedaan besar dalam tuduhan dan luapan kemarahan. Di dalam masyarakat tempat perempuan tanpa suami dianggap bercacat, banyak istri menganggap bahwa memiliki suami yang paling buruk dan brengsek pun masih lebih baik daripada tanpa suami. Jadi, si suami peselingkuh adalah miliknya, dan yang paling penting, masih ingin dia miliki. Sebaliknya perempuan pelakor itu adalah musuh yang ingin dia singkirkan dari hidupnya. Dengan demikian, paling tidak secara publik, si suami terbebas dari kecaman, sementara pelakor dijadikan sasaran total makian dan hinaan.

Istilah pelakor secara telanjang mempersalahkan perempuan yang berhubungan romantik dengan seorang laki-laki beristri. Dengan label penghakiman itu, pelakor per definisi adalah hina. Sangat jarang perempuan pelakor bisa membela diri. Perempuan itulah yang aktif merebut, memaksakan kehendak, seolah-olah laki-laki itu sekadar dompet pasif tersambar maling di pasar. Masyarakat mencibir pelakor amoral. Wartawan-wartawan bertanya ke sana ke mari penuh nafsu hendak membongkar borok dan busuk. Kapan pertama kali dia merebut suami orang? Laki-laki jenis apa yang sering dia incar? Apa yang biasa dia kerjakan setiap malam? Teknik dan strategi apa yang dia pakai untuk menggoda dan menjatuhkan suami orang yang sebetulnya saleh itu?

Istilah itu pun secara tidak langsung mempersalahkan si istri yang tidak pandai menjaga suaminya, gagal menyenangkan suami, tidak merawat diri, tidak pandai masak, tidak penurut, gagal melindungi suami dari godaan, bukan istri idaman; pendek kata, gagal sebagai perempuan. Maka, jatuhlah si suami yang polos itu tanpa rencana ke pelukan pelakor. Sekali memakai istilah, dua tiga perempuan dipukul.

Dalam masyarakat yang cenderung misoginistik, ekspresi publik perendahan terhadap perempuan mendapatkan gaung. Sekali muncul, istilah pelakor dengan cepat meluas populer ke dalam percakapan sehari-hari. Media sosial tanpa canggung menyebarluaskan pelakor sebagai istilah yang mengena di hati. Pengucap dan pendengar merasa puas karena istilah pelakor cocok dengan pandangan dunia mereka, bahwa perempuan itu harus bertanggung jawab atas bukan hanya tindakan dirinya sendiri, tapi juga tindakan laki-laki.

Pelakor adalah wujud bahasa dunia misoginistik di mana perempuan bertanggung jawab menjaga “kemurnian” syahwat laki-laki. Bila mata laki-laki membelalak dengan nafas mendengus, perempuan dan tubuh-wajahnya salah. Bila laki-laki memerkosa, perempuan dan pakaiannya salah. Bila laki-laki menyelingkuh, perempuan dan cintanya salah. Bila laki-laki membayar perempuan untuk seks, perempuan dan jualannya salah. Bila laki-laki menelantarkan istri dan anak-anaknya, perempuan dan ketidakcakapannya salah.

Di dunia di mana perempuan serba salah, laki-laki rebutan tertawa gembira. Bahkan pebinor, perebut bini orang, merasa bangga.

*Penggumul Makna Kata, Seorang Filoginis

Satu komentar di “Pelakor dan Misogini

  1. Ping balik: Pelakor dalam Perspektif Feminisme (SAP 11) – It's not about the writing, it's about the feelings behind the words.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.