Belantara Makna

Eko Endarmoko (Kompas, 8 Des 2020)

Menghidu rupanya tergolong kata yang agak asing bagi sebagian penutur bahasa Indonesia. Seorang teman menemukannya dalam satu klausa di sebuah tulisan, ”menghidu aroma kopi”. Dia mengira itu tipo alias salah tik sebab ungkapan yang lebih tepat menurutnya adalah ”menghirup kopi”, analog dari ”menghirup udara segar”. Benar begitu?

Hidu, cium. Mari terlebih dulu kita tengok sedikit lebih dekat. Kata dasar menghidu bisa jadi mengingatkan kita pada hidung. Dan maknanya kebetulan juga menaut ke sana, yaitu ’mencium’, tetapi lebih spesifik menyangkut bebauan, yaitu ’membaui’. Ini bukan berarti mencium tak berurusan dengan bebauan, tapi bau di sini lebih dimaksud sebagai sesuatu yang lain: petunjuk, informasi, gelagat—seperti pada mengendus atau melacak. ”Fulan mencium aroma tak sedap dalam rapat barusan.” Kita lihat kata mencium dipakai sebagai bahan bahasa figuratif, bahasa kias.

Sebenarnyalah, berbeda dari menghidu, mencium tidak niscaya berkenaan dengan bebauan, seperti kata dari Jawa sunmengesun yang tidak mesti disertai hasrat mendapati bau tertentu. Kurang lebih seperti itu jugalah laku anak yang mencium tangan orang tuanya pada beberapa kesempatan spesial. Mobil bisa juga mencium, mencium bajaj, misalnya. Atau bajaj mencium pantat sedan. Namun, arti mencium yang ini tentu kiasan sebab bukan berkenaan dengan bebauan, melainkan mendekat ke arti lain dari kata mencium yang meresap ke dalam bahasa kita setelah ada kontak dengan bangsa Eropa. Ini adalah mencium bukan dengan hidung melainkan dengan bibir, sinonim mengecup. Ada persentuhan di sana. Begitulah cium menegaskan perbedaan dirinya dari hidu.

Menghidu menggambarkan perbuatan mencium dengan hidung. Bagian inti yang sekaligus menjadi objek kata menghidu adalah rujukan atau tautan berupa unsur bebauan. Maka, konstruksi ”menghirup kopi” dapatlah dikatakan kurang tepat. Namun, apa atau di mana ”salah” bentuk itu?

Hirup, isap, sedot. Menghirup, yang bersinonim dengan mengisap, menyedot (udara, cairan, lewat hidung atau mulut) tidaklah dibarengi niat mendapatkan informasi tentang aroma bebauan. Ini, sekali lagi, adalah aspek  yang membedakannya dari menghidu.  Tekanan terletak pada aksi menyedot, bukan membaui, sesuatu.

Dengan begitu, tidak ada yang ”salah” pada bangun atau konstruksi ”menghirup kopi”. Menghirup di sini tentu saja berarti minum atau lebih tepat, menyeruput kopi. Ungkapan ”menghirup kopi” bukan ”salah”, melainkan menyatakan hal berbeda dari ”menghidu kopi”. Tapi, bagi saya ada yang jauh lebih menarik.

Baru saja kira lihat, hirup punya kesamaan makna dengan isap dan sedot. Pada saat yang sama, sebenarnya masing-masing terus-menerus saling menampik disama-samakan dengan memancarkan makna sendiri yang boleh dibilang unik.

Ini dapat menjadi lebih jelas manakala kata itu sudah menduduki satu tempat di dalam konteks tertentu. Bisakah Nikita menghirup perhatian publik, misalnya? Di sisi lain, bisa Anda bayangkan ada usaha jasa hirup atau isap WC? Ah, belantara makna. Sudah agak jauh masuk ke tengah sana rupanya kita.

Satu komentar di “Belantara Makna

  1. Ping balik: Ember dalam Kamar Tidur | Rubrik Bahasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.