Kalimat Sejajar dan Tidak Sejajar

Antonius Galih Rudanto (Kompas.id, 19 Des 2020)

Berbagai tulisan, baik visi-misi dalam kampanye, kutipan langsung dari narasumber, maupun slogan sebuah kota yang menjadi identitas, tidak lepas dari rincian. Rincian ini akan mudah dicerna dan tidak menyebabkan keambiguan apabila pedoman kesejajaran atau paralelisme diusahakan untuk diterapkan. Tidak sulit memahami rincian dalam sebuah kalimat, tetapi adakalanya ditemukan rasa bahasa yang agak aneh.

Sumber gambar: Kompas

Kompas.id pada 13 Oktober 2020 menulis tentang Kota Bandar Lampung dengan judul ”Merindu ’Tapis Berseri’ Jadi Kenyataan di Bandar Lampung”. Dari artikel berita itu diketahui, Bandar Lampung dikenal sebagai ”kota tapis berseri”, yang mencerminkan visinya untuk menjadi kota yang tertib, aman, patuh, beriman, sejahtera, bersih, sehat, rapi, dan indah.

Rincian visi di atas terasa mudah dipahami karena tertib, aman, patuh, beriman, sejahtera, bersih, sehat, rapi, dan indah masuk ke dalam kelas kata adjektiva (kata sifat).

Sementara itu, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mempunyai slogan Projotamansari, yang merupakan akronim dari produktif-profesional, ijo royo-royo, tertib, aman, sehat, dan asri.

Rincian slogan Kabupaten Bantul ini pun dengan mudah kita cerna karena tiap-tiap kata secara konsisten berkelas kata adjektiva meskipun terselip penggunaan bahasa daerah di dalamnya, ijo royo-royo, yang berarti lebih kurang ’hijau sekali dan teduh’.

Kota lain, seperti Kota Manado, dalam Manadokota.go.id, memiliki visi dan misi yang tersimpul ke dalam enam kata kunci dengan akronim CERDAS, yaitu Cendekia, Ekowisata, Religius, Daya Saing, Aman nyaman, dan Sehat sejahtera.

Ada kata yang berasa kurang pas dalam rincian CERDAS ini, yakni kata/frasa ekowisata dan daya saing. Sebab, kedua kata/frasa ini berkelas kata benda (nomina). Berbeda dengan rincian lain yang berupa adjektiva. Akan lebih mudah dipahami apabila kata-kata rincian tersebut berada dalam satu kelas, yakni adjektiva.

Karena itu, kedua kata benda tersebut ada baiknya diubah menjadi kata sifat demi menyesuaikan dengan rincian kata-kata yang lain. Ubahan itu, misalnya, kata elok untuk ekowisata dan dahsyat untuk daya saing sehingga terbentuk rincian yang sejajar: cendekia, elok, religius, dahsyat, aman nyaman, dan sehat sejahtera.

Kalaupun masih akan menggunakan kata ekowisata dan daya saing, bisa digunakan proses pembentukan kata sifat dengan deverbalisasi. Dengan demikian, rincian secara lengkap akan menjadi cendekia, berekowisata, religius, berdaya saing, aman nyaman, dan sehat sejahtera.

Adapun contoh lain: ahli perundang-undangan dari Universitas Jember, Bayu Dwi Anggono, mengatakan, ”Peristiwa ini menunjukkan ketidakcermatan, ketergesa-gesaan, dan tidak hati-hati dalam penyusunan RUU.

Akan lebih mudah dicerna apabila rincian dalam kalimat itu sejajar, yakni dengan cara memfrasabendakan. Dengan demikian, kalimat itu akan berbunyi, ”Peristiwa ini menunjukkan ketidakcermatan, ketergesa-gesaan, dan ketidakhati-hatian dalam penyusunan RUU.”

Definisi kelas kata

Lalu, apa bedanya adjektiva, nomina, dan verba?

Ada beberapa jenis kelas kata yang sering dipakai untuk rincian. Kelas-kelas kata tersebut, antara lain, mencakup kata kerja (verba), kata sifat (adjektiva), dan kata benda (nomina).

Dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (Ernawati Waridah, 2017), kata kerja didefinisikan sebagai kata yang menyatakan makna perbuatan, pekerjaan, tindakan, proses, atau keadaan. Kata sifat adalah kata yang menerangkan kata benda. Adapun kata benda adalah kata yang mengacu pada manusia, binatang, benda, dan konsep atau pengertian.

Ahli bahasa lain, Harimurti Kridalaksana, dalam Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia (1986), mempunyai definisi terhadap ketiga kelas kata, masing-masing sebagai berikut.

Sebuah kata, antara lain, ”dapat dikategorikan verba dengan dilihat dari perilakunya dalam frase, yakni dalam hal kemungkinan satuan itu didampingi partikel tidak dalam konstruksi dan dalam hal tidak dapat didampinginya satuan itu dengan partikel di, kedari, atau dengan partikel seperti sangatlebih, atau agak. Sementara adjektiva adalah kategori yang ditandai oleh kemungkinannya untuk: bergabung dengan partikel tidak; mendampingi nomina; didampingi partikel seperti lebihsangatagak. Adapun nomina adalah kategori yang secara sintaksis tidak mempunyai potensi untuk bergabung dengan partikel tidak; tetapi berpotensi untuk didahului oleh partikel dari.

Teori dari satu ahli dengan ahli lain, dengan demikian, dapat disimpulkan saling melengkapi. Dengan demikian, kita dengan mudah dapat menentukan mana kata sifat, mana kata benda, dan mana kata kerja. Kalaupun kurang yakin dengan penentuan kelas kata berdasarkan analisis kita, tidak ada cara lain kecuali membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Contoh dalam kalimat

Contoh rincian yang kurang tepat terdapat pada kalimat berikut.

Mari kita menjadi insan yang profesional, integritas, kredibilitas, kerja sama tim, inovatif, dan responsif.

Rincian dalam kalimat tersebut akan mudah dipahami jika kita menyejajarkan kelas kata dengan kelas adjektiva. Karena itu, kalimatnya akan menjadi:

Mari kita menjadi insan yang profesional, jujur, kredibel, kolaboratif, inovatif, dan responsif.

Pertanyaannya, mengapa integritas menjadi jujur? Salah satu definisi atau sinonim integritas adalah kejujuran. Kejujuran adalah kata benda, sedangkan jujur adalah kata sifat. Sementara kerja sama dapat diganti dengan arti yang kurang lebih sama, yakni kolaboratif. Kalaupun masih ingin mempertahankan integritas dan kerja sama, rincian bisa menjadi ”…profesional, berintegritas, kredibel, mengutamakan kerja sama, inovatif, dan responsif”.

Contoh berikut ialah pengelompokan berdasarkan kelas kata/frasa benda:

Isu yang juga digarap lembaga ini adalah virus korona, keamanan pangan, keamanan perbatasan, dan memerangi disinformasi.

Pengubahan rincian yang dapat dilakukan adalah:

Isu yang juga digarap lembaga ini adalah virus korona, keamanan pangan, keamanan perbatasan, dan perang terhadap disinformasi.

Lalu, bagaimana dengan rincian yang berupa frasa verbal? Contoh di bawah ini dengan jelas menunjukkan rincian frasa verbal yang dengan mudah dipahami:

Lembaga ini telah bertindak sebagai sumber informasi yang dapat diandalkan bagi negara-negara Pasifik dalam perkembangan pandemi, termasuk memberikan rekomendasi masalah-masalah yang baru muncul, seperti menangkal informasi palsu, memastikan keamanan pangan, dan mengelola keamanan perbatasan. (Kompas.id)

Contoh lain:

Untuk itu, WEF menekankan pentingnya setiap negara menyediakan jaring pengaman yang lebih kuat bagi para pekerja, meningkatkan sistem pendidikan dan pelatihan, dan menciptakan insentif untuk investasi di pasar dan pekerjaan di masa depan.

Yuk, membuat rincian sederhana dengan diusahakan berkelompok berdasarkan satu kelas kata supaya rinciannya dapat dengan mudah dipahami. Kalaupun ditemui kesulitan untuk menjadikan kelompok kata itu dalam satu kelas kata, deverbalisasi bisa digunakan, seperti pada contoh integritas menjadi berintegritasdaya saing menjadi berdaya saing, dan kerja sama menjadi mengutamakan kerja sama.

Rincian verba berkelompok dengan kata sifat masih dapat diterima. Sebab, memang tidak semua kata mempunyai turunan ke dalam bentuk kelas kata yang lain. Sementara pengelompokan antara kata benda dan kelompok kata yang lain akan menimbulkan rincian yang harus ”mengernyitkan dahi” untuk memahaminya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.