Yuk, Kurangi Istilah Asing

Intisari Nov 2008.

Masalah kebahasaan tidak terlepas dari kehidupan masyarakat penuturnya. Dalam hubungan dengan kehidupan masyarakat bahasa Indonesia, telah terjadi berbagai perubahan, terutama yang berkaitan dengan tatanan kehidupan dunia dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi. Kondisi itu telah menempatkan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, pada posisi strategis yang memungkinkan bahasa itu memasuki berbagai sendi kehidupan bangsa dan memengaruhi perkembangan bahasa Indonesia.

Baca lebih lanjut

Yang Berbahagia, Waktu, dan Tempat Dipersilakan

Intisari Mei 2007. Akhmad Saefudin.

Hampir setiap akhir pekan penulis menyimak acara di sebuah saluran televisi swasta. Dengan penuh rasa percaya diri, seorang pembawa acara tampil seraya mengucapkan kalimat: “Hadirin di studio dan segenap pemirsa di rumah, pada malam yang berbahagia ini kita akan menyaksikan penampilan ….” Pada acara lain, penulis menemukan kalimat serupa, yakni: “Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya akan menemani pemirsa di rumah 1/2 jam ke depan ….” Sekilas, frasa “malam yang berbahagia” dan “kesempatan yang berbahagia” pada kedua kalimat di atas terkesan baik-baik saja alias tak bermasalah. Namun, jika sedikit jeli, kita akan menemukan ketidaklogisan dari kedua frasa tersebut.

Baca lebih lanjut

Kecuali, Selain, dan Termasuk

Intisari Apr 2007. Lie Charlie.

Keputusan Mahkamah Konstitusi No. 005/PUU-IV/2006 menyuratkan bahwa hakim konstitusi tidak termasuk hakim yang berada di bawah pengawasan Komisi Yudisial. Dengan kata-kata lain dapat disimpulkan bahwa Komisi Yudisial (KY) berwenang mengawasi hakim, kecuali hakim Mahkamah Konstitusi (MK). Namun, ada juga media massa memberitakan bahwa “KY berwenang mengawasi hakim selain hakim MK.

Baca lebih lanjut

Disapa “Anda” Malah Tersinggung

Intisari Maret 2007. Idham Hamdani.

Suatu ketika di sebuah sekolah, seorang kepala sekolah dipusingkan oleh sebuah masalah. Satu orang tua siswa mengadu kepadanya tentang wali kelas anaknya. Dia merasa tersinggung oleh ucapan wali kelas itu. Kemudian kepala sekolah memanggil si wali kelas yang kebetulan guru bahasa Indonesia. Kepala sekolah merasa heran mengapa seorang guru bahasa Indonesia tidak terampil menggunakan bahasa yang baik sehingga membuat lawan bicaranya tersinggung. Dia berniat mempertemukan wali kelas dan orang tua murid itu.

Baca lebih lanjut

Kalimat Tanpa Objek atau Pelaku

Intisari Jan 2007. Lie Charlie.

Kalimat “Ibu Aminah sudah melahirkan” dianggap sempurna walaupun tidak mengandung objek. Kalimat ini malah akan terkesan lucu atau tersinyalir mengejek jika dibubuhi objek, “Ibu Aminah sudah melahirkan anak”, karena tidak lazim.

Objek adalah sesuatu yang mengalami atau menderita atas apa yang disebutkan oleh sebutan kalimat (predikat). Demikianlah definisi objek menurut tata bahasa tradisional. Bagi orang yang pernah belajar salah satu bahasa secara ilmiah, lebih afdol menyimak pula definisi objek menurut tata bahasa struktural, yaitu objek adalah apa/siapa yang pada kalimat pasif akan menjadi subjek. Ya, dalam hal ini kita memang diharapkan telah memahami perbedaan kalimat aktif dan pasif.

Baca lebih lanjut

Aditif Bukan Tambahan

Intisari Okt 2006. Lie Charlie.

Selalu saja ada orang yang melontarkan kritik bahwa penutur bahasa Indonesia lebih suka mengindonesiakan ejaan kata bahasa asing daripada memakai kata padanan “yang sama maknanya” dalam bahasa Indonesia. Beberapa kata yang dimaksud antara lain “aditif”, “komparatif”, atau “kumulatif”. Ketiganya merupakan hasil penyesuaian ejaan dari kata-kata bahasa Inggris “additive“, “comparative“, dan “cumulative“. Mengapa tidak mempergunakan kata “tambahan”, “bandingan”, dan “gabungan” saja?

Baca lebih lanjut

Rusak Bahasa, Rusaklah Pemikiran

Intisari Sep 2005. Faiz Manshur.

Orang sering tidak paham tentang kesaktian yang terkandung dalam bahasa. Bahasa merupakan satu perkara dengan dunia pemikiran dan cita rasa. Kalau orang itu kacau pikirannya, bahasanya juga kacau. Bahasa dan hidup, dunia pemikiran dan dunia rasa itu satu. Nah, kita bisa saksikan karena pendidikan bahasa dalam sistem pendidikan sekarang ini kurang, maka cara mereka berpikir juga kacau. Caranya menghayati, merasakan juga ikut kacau.

Jangan lupa, Republik Indonesia ini merdeka sampai diakui oleh dunia internasional itu karena pemikiran dan memakai bahasa, bukan memakai bedil (senapan). Orang sering mengira bahwa negara kita merdeka karena bedil, itu kurang tepat. Coba pikirkan, andaikan Soekarno-Hatta tidak melakukan diplomasi, juga seandainya Sutan Sjahrir ulu di PBB tidak bisa membela rakyat Indonesia di depan Dewan Keamanan, kabeh arep opo …? Nggowo bedil? (Semua mau apa …? Bawa senapan …? — Red.) Tidak bisa!” (Romo Mangun Wijaya, 1982).

Baca lebih lanjut

Bahasa Lokal Kita yang Direndahkan

Intisari Juni 2005. Lie Charlie.

Dirjen Ditjen Bina Produksi Departemen pernah menembuskan sepucuk surat kepada Kepala Lembaga Bahasa Indonesia. Isinya berhubungan dengan penggunaan istilah “lokal” (yang dinilai bercitra kurang positif atau inferior) untuk memaknai produk buah-buahan hasil kebun Tanah Air sendiri.

Baca lebih lanjut

Betulkah Bentuk Mengkritisi?

Intisari Mar 2005. J.S. Badudu.

Menggunakan bahasa secara tepat dan benar tidaklah mudah. Tentu saja diperlukan pengetahuan tentang bahasa itu melalui pelajaran khusus. Pengetahuan berbahasa secara alami saja tidak cukup. Di sekolah, guru mengajarkan kepada murid-muridnya bagaimana bahasa yang benar tentang makna kata, bentuk kata, dan susunan kata dalam kalimat.

Baca lebih lanjut

Sekali Lagi, Peluluhan Fonem

Intisari Nov 2004. J.S. Badudu.

Bahasa sebenarnya bunyi yang mengandung arti atau makna. Itu bahasa yang primer. Bahasa lain adalah bahasa tulis dan bahasa isyarat. Keduanya masuk bahasa sekunder. Dalam menggunakan bahasa, bunyi yang satu dengan bunyi yang lain saling mempengaruhi. Misalnya, bunyi- bunyi yang tidak bersuara dapat menjadi bersuara karena pengaruh bunyi yang mendahului atau mengikutinya. Misalnya, bunyi /t/ tidak bersuara, tetapi berdekatan dengan /n/ yang bersuara, bunyi /t/ dapat berubah menjadi bunyi bersuara seperti pada kata `pantai`, `menonton`. Bunyi- bunyi yang tajam seperti /k,p,t,c/, dan bunyi desis `s` biasanya luluh bila diberi prefiks `meng-`. Contohnya, `meng-kais` menjadi `mengais`, `mem-pukul` menjadi `memukul`, `men-tangkap` menjadi `menangkap`, `meny-cari` seharusnya dalam bahasa Indonesia (BI) seharusnya menjadi `menyari`, tetapi menjadi `meny-cari` yang kita tuliskan secara ortografis menjadi `mencari`.

Baca lebih lanjut