Universalisme Eksklusif

Samsudin Berlian* (Kompas, 8 Jul 2017)

160418161006_1_900x600

Universalisme eksklusif saat ini hidup dan berkembang pesat di diri orang per orang, kelompok-kelompok masyarakat, dan bahkan masyarakat luas. Universalisme eksklusif dipikir-pikir, direnung-renung, ditimbang-timbang, kok terdengar seperti oksimoron. Ngomong-ngomong, oksimoron itu kira-kira seperti ungkapan ”harus mengundurkan diri” yang ditakuti banyak karyawan, atau ”rela mengantre seharian” yang dilakoni pemburu daging sapi harga diskon jelang Lebaran—kata-kata yang bermusuhan arti disandingkan seolah-olah pasangan sedang akad nikah. Padahal, kalau harus namanya dipecat; kalau mengantre artinya terpaksa. Contoh lain oksimoron adalah aksi ”pentung damai”, ”razia senyum”, atau ”operasi simpatik” terhadap warung yang buka siang hari pada bulan puasa. Nah, universalisme kok eksklusif? Eksklusif kok universal?

Baca lebih lanjut

Iklan

Zalimis

Samsudin Berlian* (Kompas, 3 Jun 2017)

Telah lahir pada hari ini istilah baru yang sangat perlu dipahami dalam diskursus sosial politik Indonesia kontemporer. Berikut lema dalam “Kamus Besok Bahasa Indonesia” dan satu kutipan pencerah.

za.li.mis

1. n orang atau kelompok yang zalim; pezalim

2. n orang atau kelompok yang (dianggap) sangat melampaui batas perikemanusiaan dalam bertindak zalim

3. n orang atau kelompok yang menganut, mendukung, membela, dan atau mengembangkan ideologi zalimisme dalam politik

Baca lebih lanjut

Secara Terpisah

André Möller* (Kompas, 27 Mei 2017)

Ketika saya membaca koran berbahasa Indonesia atau menonton TV Indonesia (mengapa RRI masih begitu susah disimak secara daring?), saya sering mendengar istilah secara terpisah. Biasanya si wartawan menghubungi seorang pakar dan setelah itu secara terpisah ia menghubungi seorang pakar lain yang mendukung ataupun membantah pendapat pakar pertama. Bisa juga, pakar pertama menyatakan sesuatu, dan secara terpisah pakar kedua menyatakan hal yang sama ataupun hal terbalik. Menurut saya, istilah secara terpisah ini memiliki dua masalah: secara dan terpisah.

Baca lebih lanjut

Belajar dari Bahasa Ibrani

Ibnu Burdah*, Kompas, 20 Mei 2017

Dari dalam maupun dari luar, bahasa Indonesia mengalami tekanan yang hebat. Tekanan dari luar berupa penetrasi bahasa-bahasa dominan dunia yang makin intensif dan masif di dunia nyata maupun virtual. Media baru memperdalam penetrasi ini. Bahasa-bahasa kuat itu dahulu adalah Arab dan Belanda, sekarang Inggris, mungkin sebentar lagi Mandarin. Bahasa India dan Korea juga berpotensi untuk itu. Dari dalam, bahasa Indonesia mengalami tekanan sangat besar pula dengan meluasnya penggunaan slang yang makin mendesak ranah bahasa Indonesia baku dan sikap bangsa ini terhadap bahasanya.

Baca lebih lanjut

Celoteh

Indra Tranggono*, KOMPAS, 13 Mei 2017

Celoteh atau ocehan kini mendapat istilah baru, yaitu cuitan atau kicauan (versi Twitter) dan status (versi Facebook). Celoteh atau ocehan merupakan istilah khas yang muncul dari praktik berbahasa dalam komunikasi konvensional alias tatap muka. Dalam dunia digital, komunikasi tatap muka sering disebut komunikasi luring, luar jaringan. Yakni, komunikasi langsung, nyata (lawan dari maya), dan autentik (lawan dari semu, palsu). Di sana pihak-pihak yang berkomunikasi hadir secara manusiawi, menyosok secara multidimensional, memiliki gagasan, berperasaan, berekspresi, dan beridentitas (bukan anonim).

Baca lebih lanjut

Memanjatkan Doa

Damiri Mahmud*, KOMPAS, 6 Mei 2017

Dalam koran dan majalah sudah jarang sekali kita membaca kontur “memanjatkan doa”, apalagi dalam media cetak di Medan. Frasa itu dihindari dan telah menjadi semacam tabu karena ulah seorang ahli bahasa yang sangat kondang suatu ketika. Logikanya begini: “Apakah doa itu sejenis beruk yang kita suruh memanjat pohon kelapa lalu sampai di atas memetik buahnya dan melemparkannya ke bawah lalu kita memungutnya?” (lihat: Kiliran Jasa Seorang Guru Bahasa, Depdiknas, Pusat Bahasa, Balai Bahasa Sumatera Utara, Medan, 2005, hlm 76). He-he-he, betul juga!

Baca lebih lanjut

Bacalah! Jangan!

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 29 Apr 2017

Sudah waktunya kita saling menasihati untuk jangan membaca terlalu banyak. Oh, ini bukan soal aktivisme. Baca melulu. Kerja kapan? Bukan, bukan itu. Sebagai pemalas besertifikat, penulis merasa bertanggung jawab menjelaskan bahwa sebagian besar, kalau bukan semua, aktivis merasa perlu, dan tampak, bekerja sangat keras superaktif sepanjang waktu karena mereka tidak bisa memikirkan cara mencapai hasil terbaik dengan tenaga dan waktu minimum. Ibaratnya, menulis kolom selama tujuh hari tujuh malam sebulan sebelum tenggat. Penulis yang cerdas akan mulai berpikir satu jam sebelum batas waktu. Hasilnya sama. Masuk koran. Esoknya dilupakan orang. Honor jumlah sama masuk rekening. Begitulah. Kolumnis rajin yang tersinggung sila pergi sana naik sepeda, biar aktif.

Baca lebih lanjut