Kepunahan Bahasa Daerah Bisa Dicegah dengan KBBI

M. Paschalia Judith untuk Kompas

Penyerapan kata-kata dari bahasa daerah ke Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI dapat mencegah kepunahan. Akan tetapi, penyesuaian pelafalan dan jumlah editor kamus menjadi tantangan strategi ini.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Indonesia Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah memverifikasi 652 bahasa daerah di tanah air.

Baca lebih lanjut

Iklan

Kasar atau (Sok) Akrab?

André Möller* (Kompas, 13 Jan 2018)

Ketika saya mulai belajar bahasa Indonesia, disampaikan bahwa kamu hanya bisa dipakai dengan kerabat atau saudara yang amat dekat atau dengan anak kecil. Segala penggunaan yang lain dianggap kurang sopan, dan dengan jelas akan memperlihatkan kenyataan bahwa kami, para pelajar, belum memahami bahasa asing ini. Kami disuruh memakai kata Anda atau kata panggilan yang tepat, seperti mbak, mas, bu, pak, dan seterusnya. Kalau kita berkonsultasi dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia, ajaran ini sepertinya bisa dikatakan tepat. Kamu diartikan sebagai ’yang diajak bicara; yang disapa (dalam ragam akrab atau kasar)’. Bagian terakhir ini yang penting: akrab atau kasarAnda, di lain pihak, diartikan KBBI sebagai ’sapaan untuk orang yang diajak berbicara atau berkomunikasi (tidak membedakan tingkat, kedudukan, dan umur)’. Dengan demikian, lebih amanlah memakai kata Anda.

Baca lebih lanjut

Genangan

Rainy M.P. Hutabarat* (Kompas, 6 Jan 2018)

KOMPAS/RIZA FATHONI
Sejumlah pengguna jalan memperlambat laju kendaraan dan menghindari genangan di jalur lambat Jalan Ahmad Yani, Jakarta Timur, Selasa (12/12/2017). Sejumlah genangan terjadi saat hujan melanda sebagian besar Jakarta dan menimbulkan kemacetan lalu-lintas.

Banjir dan genangan adalah dua kata yang selalu muncul di media massa saat musim hujan. Perbedaan kata ini pernah ramai dibahas tahun 2015 saat Djarot, wakil gubernur DKI waktu itu, mengatakan bahwa banjir setinggi 70 sentimeter di Kampung Arus RW 02, Kramatjati, Jakarta Timur, hanyalah genangan. Warganet pun tersentak dan riuh. Masak air setinggi 70 sentimeter disebut genangan?

Baca lebih lanjut

“Hoax”

Samsudin Berlian* (Kompas, 2 Des 2017)

Ternyata bukan hanya penyebar-pertama atau sumber hoax yang sulit dicari. Kata hoax itu sendiri susah ditemukan siapa bidannya. Para pakar pun tidak tahu. Hipotesis: hoax kependekan hocus, bagian pertama dari hocus-pocus. Hocus Pocus adalah nama panggung pesulap ternama di Inggris pada abad ke-17. Menurut Oxford English Dictionary, ketika pentas, si pesulap suka berucap ”Hocus pocus, tontus talontus, vade celeriter iubeo”. Artinya? Kira-kira sama dengan sim-salabim atau abrakadabra, alias celoteh tanpa arti. Bunyinya dimirip-miripkan dengan bahasa Latin supaya terdengar rahasia dan sihiria, bikin orang terpesona. Oxford Advanced Learner’s Dictionary punya varian penjelasan, bahwa asal hocus-pocus itu adalah ”hax pax max Deus adimax”, maknanya sama saja, omong kosong.

Baca lebih lanjut

NYIA

André Möller* (Kompas, 15 Jul 2017)

Bandar-bandar udara di Indonesia sering diberi nama yang mencerminkan—atau setidaknya mengingatkan tentang—sejarah, budaya, atau keajaiban alam setempat. Sebut saja Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin di Makassar, Bandar Udara Komodo di Labuan Bajo, dan Bandar Udara Internasional Minangkabau di Padang. Bandara paling ramai di Indonesia pun memiliki nama dengan makna bersejarah dan nasionalis (Soekarno-Hatta), dan orang-orang Yogyakarta pun tidak mau kalah dengan memberikan nama seorang pahlawan nasional kepada bandara mereka (Adisutjipto).

Baca lebih lanjut

Universalisme Eksklusif

Samsudin Berlian* (Kompas, 8 Jul 2017)

160418161006_1_900x600

Universalisme eksklusif saat ini hidup dan berkembang pesat di diri orang per orang, kelompok-kelompok masyarakat, dan bahkan masyarakat luas. Universalisme eksklusif dipikir-pikir, direnung-renung, ditimbang-timbang, kok terdengar seperti oksimoron. Ngomong-ngomong, oksimoron itu kira-kira seperti ungkapan ”harus mengundurkan diri” yang ditakuti banyak karyawan, atau ”rela mengantre seharian” yang dilakoni pemburu daging sapi harga diskon jelang Lebaran—kata-kata yang bermusuhan arti disandingkan seolah-olah pasangan sedang akad nikah. Padahal, kalau harus namanya dipecat; kalau mengantre artinya terpaksa. Contoh lain oksimoron adalah aksi ”pentung damai”, ”razia senyum”, atau ”operasi simpatik” terhadap warung yang buka siang hari pada bulan puasa. Nah, universalisme kok eksklusif? Eksklusif kok universal?

Baca lebih lanjut