Hari Ibu Bukan Mother’s Day

Mariana Amiruddin*, Majalah Tempo, 21 Des 2015

Ilustrasi: Kongres Perempuan Indonesia I, 22 Desember 1928 (Mindtalk)

Setiap bulan Desember, terjadi pengulangan perdebatan apa yang disebut Hari Ibu atau Hari Perempuan. Kita perlu mengecek kembali konteks sejarah ataupun makna kata ibu. Sejarah mencatat bahwa Hari Ibu lahir dari peristiwa perjuangan kaum perempuan menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib perempuan yang dikeluarkan melalui Dekrit Presiden Sukarno pada 22 Desember 1959 untuk mengenang diselenggarakannya Kongres Perempuan pertama pada 1928 di Yogyakarta.

Baca lebih lanjut

Impor Kata

Sapardi Djoko Damono*, Majalah Tempo, 14 Des 2015

Ilustrasi: iStock

Nama saya Sapardi. Seandainya kakek saya bukan Jawa, mungkin saja nama saya Syafardi, diimpor dari bahasa Arab. Dalam hanacaraka tidak ada aksara ef atau fa; adanya pa. Sya juga tidak ada; adanya sa. Syafar itu bulan kedua dalam kalender Islam, kalender bulan. Nama itu diberikan oleh kakek dari garis ibu. Itu sebabnya kakek yang satu lagi, dari garis ayah, mau ikut menyumbangkan nama. Maka masuklah nama Damono, yang ditaruh di belakang. Maka saya pun bernama Sapardi Damono. Bapak tidak bisa menerima situasi yang menyudutkannya. Beliau merasa tidak diberi hak untuk memberi nama, padahal beliaulah yang telah menghasilkan saya. Diam-diam ditambahkanlah kata Djoko dijepit di antara kedua nama pilihan kakek ini dan kakek itu. Maka terciptalah nama yang bak kereta api, ada tiga gerbongnya. Sapardi jelas asal-usulnya, tapi Damono? Baru jauh kemudian saya tahu bahwa nama itu juga barang impor, dari India asalnya, dari kisah wayang sumbernya.

Baca lebih lanjut

Bahasa Media Bahasa Kita

Bagja Hidayat*, Majalah Tempo, 7 Des 2015

Ilustrasi: MarionSpeaks

Pada akhirnya bahasa Indonesia adalah himpunan berbagai bahasa daerah, bukan hanya bahasa Melayu yang menjadi akarnya ketika ditetapkan sebagai bahasa persatuan 87 tahun lalu. Jika dilihat dari jumlah penuturnya, bahasa Jawa dan Sunda paling banyak mempengaruhi bahasa Indonesia. Dari 6.000 lebih bahasa di dunia, jumlah penutur bahasa Jawa menempati urutan ke-11.

Baca lebih lanjut

Komedi Tunggal

Ahmad Sahidah*, Majalah Tempo, 30 Nov 2015

Ilustrasi: MetroTV

Ivan Lanin, pengamat bahasa, menyebutkan bahwa “komedi tunggal (komtung)” acap digunakan untuk persamaan kata majemuk stand-up comedy. Sementara itu, Bagja Hidayat, wartawan majalah ini, menganggap “melawak berdiri” kurang tepat, seraya mengusulkan kata “jenakata” yang dipopulerkan Komunitas Salihara dan Goenawan Mohamad. Betapapun demikian, televisi kita masih menggunakan stand-up comedy untuk nama program tayangannya. Boleh dikatakan, acara lawakan tersebut baru semarak pada tahun-tahun belakangan ini, meskipun dalam sejarahnya telah bermula pada abad ke-18.

Baca lebih lanjut

Ubah versus Rubah

Seno Gumira Ajidarma*, Majalah Tempo, 23 Nov 2015

Ilustrasi: Kronotsky Reserve

Salah satu kata yang hampir selalu diucapkan salah, sehingga bisa dicatat oleh Museum Rekor-Dunia Indonesia (Muri), adalah ubah, karena terucapkan sebagai rubah, yang disebut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai: binatang jenis anjing, bermoncong panjang, makanannya daging, ikan, dsb; Canis vulpes (Pusat Bahasa, 2008: 1186). Dengan konsekuensi bahwa merubah adalah “menjadi rubah” dan dirubah adalah “dijadikan rubah”, dibakukanlah kata-kata mengubah dan diubah, tapi berubah tidak pernah berubah lagi—mungkin karena konsekuensi menjadi bengubah atau beubah akan terdengar kelewat ajaib.

Baca lebih lanjut

Kurs

Arianto A. Patunru*, Majalah Tempo, 16 Nov 2015

Ilustrasi: Yexplore

Ketika seseorang dari Indonesia melancong ke luar negeri, misalnya ke Amerika Serikat, kemungkinan besar ia melakukan satu dari dua hal ini: menyiapkan sejumlah dolar selagi di Jakarta atau membelinya di bandar udara Amerika begitu ia sampai. (Tentu ia bisa menggunakan kartu kredit, tapi prinsipnya sama: ada konversi mata uang di dalam transaksinya.) Maka ia mempertimbangkan kurs: harga dari dolar—atau berapa banyak rupiah yang ia butuhkan untuk setiap satu dolar.

Baca lebih lanjut

Bahasa Indonesia dan Perempuan

Bandung Mawardi*, Majalah Tempo, 9 Nov 2015

Ilustrasi: Kongres Perempuan Indonesia I, 22 Desember 1928 (Mindtalk)

Pada 1978, Sujatin Kartowijono mengenang kejadian-kejadian bersejarah. Gairah kemodernan dan nasionalisme diejawantahkan melalui perkumpulan Wanito Utomo dan Putri Indonesia. Berita Sumpah Pemuda (1928) membuat Sujatin berdebar, tapi bersemangat memajukan bangsa. Sujatin ingin “kaum wanita harus dibangkitkan” dan “diberi semangat nasional”. Dua bulan setelah Sumpah Pemuda, Sujatin bersama para tokoh perempuan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I. Ingatan penting dari masa lalu: “… bahasa Indonesia dipergunakan dalam sambutan dan uraian.” Kaum perempuan membuktikan isi Sumpah Pemuda dengan berbahasa Indonesia!

Baca lebih lanjut

Perang Bahasa

Kasijanto Sastrodinomo*, Majalah Tempo, 2 Nov 2015

Ilustrasi bahasa di India berdasarkan jumlah penutur (Crossics)

Walau berasal dari kalangan bazar, Harishchandra tak serta-merta ingin menjadi saudagar semata. Ia memang anggota Naupatti, asosiasi pedagang di Benares, India Utara, pada masa kolonial Inggris. Namun, menurut sejarawan Inggris, C.A. Bayly, dalam Rulers, Townsmen and Bazaars: North Indian Society in the Age of British Expansion (Cambridge, 1983), Harishchandra tak segan-segan menyarankan kepada keluarganya agar menginvestasikan sebagian hartanya dalam kegiatan sastra dan budaya. Lantaran itu, ia disindir sebagai “manusia mahal” oleh para pedagang tulen, yang umumnya melulu berpikir soal laba.

Baca lebih lanjut

Ihwal Profesi dalam Sastra

Zen Hae*, Majalah Tempo, 19 Okt 2015

Ilustrasi: Last Bender

Bahasa Indonesia punya sejumlah cara dalam membentuk nomina yang bermakna “profesi” atau “pelaku”. Dari membubuhkan prefiks pe-, menempelkan aneka sufiks serapan, hingga menambahkan kata “tukang”. Sejumlah profesi dalam dunia kesusastraan mengalami semua itu: penyair, esais, novelis, cerpenis, deklamator, tukang cerita.

Baca lebih lanjut