Pada Kecepatan Mereka Mengabdi

Hermien Y. Kleden* (Majalah Tempo, 22 Mei 2017)

Pesan WhatsApp ini sering muncul di layar telepon seluler saya, sepintas mirip kode-kode ilmu nujum: “klo mo mkn dtg y, jgn php pls!” Lain hari muncul teks dalam bahasa Inggris: “Hi, w r y? PS: I’ll brb & tty abt dat 2day. Tx!” Di masa awal-awal dulu, teks yang membikin migrain ini saya kira salah ketik atau typo belaka. Seorang reporter muda di kantor redaksi kami menjelaskan kepada saya, huruf-huruf itu bukanlah typo. Dia lantas “menerjemahkan”-nya dengan cepat dan enteng:

Baca lebih lanjut

Korupsi Tanpa Koruptor

Seno Gumira Ajidarma*, Majalah Tempo, 15 Mei 2017

Semenjak Komisi Pemberantasan Korupsi dibentuk pada 2003, kata “korupsi” dan “koruptor” semakin merasuk ke kosakata perbincangan, dengan nada lebih optimistis dibanding komisi-komisi sejenis semasa Orde Baru. Perbedaannya memang jelas, pada masa Orde Baru pembentukan komisi semacam itu hanyalah manuver dari rezim korup, semacam kosmetik kepantasan dalam struktur pemerintahan. Lima tahun setelah Reformasi 1998, pembentukan KPK yang dilengkapi sarana mencukupi untuk kerja investigasi, dengan hasil konkret dari saat ke saat, menghapus sinisme dan skeptisisme yang barangkali sempat muncul.

Baca lebih lanjut

Tambang Tarik, Ojek Taksi

Zen Hae*, Majalah Tempo, 8 Mei 2017

Taksi berbasis aplikasi, baik mobil maupun sepeda motor, adalah kelanjutan dari budaya sewa-menyewa dalam masyarakat kita. Di masa lalu, ketika sepeda motor dan mobil belum menjadi alat transportasi umum, orang di Nusantara menyewa bendi atau yang sejenisnya, bahkan perahu, untuk bepergian ke lain tempat. Istilah yang digunakan belum lagi “ojek” atau “taksi”, melainkan “tambang”. Dalam bahasa Indonesia dan Malaysia, tambang adalah nomina bermakna banyak. Terkait dengan transportasi, ia kurang-lebih bermakna “kendaraan yang disewakan untuk mengangkut orang atau barang”, “orang yang menumpang atau barang muatan”, dan “ongkos menumpang”.

Baca lebih lanjut

(Laki-Laki) Feminis

Hendri Yulius*, Majalah Tempo, 1 Mei 2017

Bila Hari Kartini selalu identik dengan kesetaraan gender untuk perempuan, kini sudah saatnya untuk memulai percakapan tentang isu gender dan laki-laki. Tidak mengherankan bila selama ini isu gender selalu dipersamakan dengan isu “perempuan”. Sebab, beragam wacana gender yang beredar di ruang publik selalu berkisah tentang tuntutan perempuan atas representasi jenis kelaminnya di parlemen atau kebijakan khusus untuk melindungi perempuan dari kekerasan dan pelecehan seksual. Setidaknya itulah yang muncul ke permukaan umum, yang semakin lama memperkuat asumsi bahwa istilah gender sama dengan perempuan.

Baca lebih lanjut

Menerjemahkan atau Menjinakkan Kartini?

Joss Wibisono*, Majalah Tempo, 24 Apr 2017

Menerjemahkan sebuah naskah adalah mencari padanan kata, kalimat, atau ungkapan bahasa yang digunakan dalam naskah itu ke dalam bahasa lain. Padanan di sini mensyaratkan persamaan yang setaraf, yang berimbang atau berbobot sama. Lebih dari itu, penerjemahan juga mensyaratkan pemahaman nuansa sebuah tulisan; terjemahan yang berhasil akan berhasil pula menerjemahkan nuansa sebuah karya, apalagi kalau karya itu berbobot sastra.

Baca lebih lanjut

Menjelang Tiga Tahun Kecemasan

Taufik Ikram Jamil*, Majalah Tempo, 17 Apr 2017

INILAH pesan-pesan melalui telepon seluler Abdul Wahab kepada saya yang disebutnya untuk menandai jelang tiga tahun Joko Widodo menjadi presiden. “Tentu telah banyak disimak telaah politik, hukum, dan ekonomi, yang dipenuhi kecemasan dalam waktu hampir dua tahun kepemimpinan Jokowi. Tetapi selalu pulakah engkau mendengar bagaimana ihwal serupa sebenarnya juga melanda pada penggunaan bahasa Indonesia Jokowi, terbingkai dalam ungkapan; jelang tiga tahun kecemasan?” tulis kawan saya itu lagi.

Baca lebih lanjut

Rokok dan Lain-Lain

Sapardi Djoko Damono*, Majalah Tempo, 10 Apr 2017

Beberapa tahun terakhir ini kita saksikan perubahan sikap terhadap rokok, setidaknya dalam perkara menciptakan slogan. Sebelumnya kita mengatakan rokok bisa menimbulkan penyakit jantung dan paru-paru, mengganggu kehamilan, dan sebagainya, sekarang awas-awas itu kita tarik lebih tegas lagi: MEROKOK MEMBUNUHMU, disertai gambar yang bisa saja menakutkan, jauh lebih telak dan ringkas dibanding awas-awas sebelumnya.

Baca lebih lanjut

Sekali Lagi tentang Hoax

Ahmad Sahidah*, Majalah Tempo, 27 Mar 2017

Heboh tentang hoax betul-betul makin menempatkan bahasa kita tak berdaya. Selain kamus tidak menyediakan padanan serupa yang terdiri atas empat huruf, ia menyebabkan ramai pengguna terperangkap pada pemahaman yang keliru. Lema tersebut dianggap berita tertulis yang menyebar di media sosial dan tidak didasari fakta. Dari kebiasaan ini, media massa mengekalkan kata asal tersebut, hoax. Mengingat aturan kebahasaan kita memungkinkan serapan bunyi, kadang ia juga disebut “hoaks”. Karena itu, kata auta, yang juga terdiri atas empat huruf, bisa ditawarkan sebagai padanan, mengingat kata Melayu ini adalah lawan dari kata “fakta”.

Baca lebih lanjut

Hoax atas Hoax

Bagja Hidayat*, Majalah Tempo, 20 Mar 2017

Ada salah pengertian masyarakat Indonesia dalam memakai kata hoax yang akhir-akhir ini populer di media sosial. Kata ini disematkan untuk semua pengertian tentang “kabar bohong”, “berita palsu”, “berita rekayasa”, dan “fitnah”. Padahal hoax diciptakan dalam bahasa Inggris dengan pengertian yang tak serumit itu.

Baca lebih lanjut