Kutemui Ribuan Kontaminasi

Henry Bachtiar*, Media Indonesia, 21 Mei 2017

Kontaminasi adalah gejala bahasa yang dalam bahasa Indonesia diistilahkan dengan keran­cuan (kekacauan). Kerancuan itu muncul karena susunan unsur bahasa yang tidak tepat, seperti morfem dan kata. Menurut J.S. Badudu, kerancuan dalam bahasa Indonesia dibedakan menjadi tiga macam: kontaminasi bentuk kata, bentuk frasa, dan bentuk kalimat.

Baca lebih lanjut

Salah Ampunan

Adang Iskandar*, Media Indonesia, 7 Mei 2017

PEMERINTAH tengah gencar melakukan pembangunan infrastruktur. Tentu saja diperlukan anggaran yang sangat besar untuk mendukung pembangunan itu. Salah satu yang diandalkan ialah penerimaan negara dari sektor pajak. Pemerintah pun, melalui Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, mengeluarkan kebijakan berupa program pengampunan pajak (tax amnesty) atau sering disebut amnesti pajak.

Baca lebih lanjut

Pesan Konatif dari Mekah

Suprianto Annaf* (Media Indonesia, 22 Jan 2017)

Lain lubuk lain ikannya. Pepatah lama ini relevan saat kita berada di negara orang lain. Cara dan budaya tidak sama, termasuk bahasa. Tentu saja kitalah yang harus menyesuaikan dengan segala perbedaan itu. Namun, bagaimana bila negara yang kita kunjungi itu yang ‘menyesuaikan’ dengan diri kita? Tentu hal ini memunculkan sikap dan perasaan yang berbeda: serasa kita berada di negara sendiri. Hal itulah yang pertama saya rasakan ketika menginjakkan kaki di Bandara Jeddah. Deretan hologram bertuliskan ‘Selamat Datang’ di terminal kedatangan internasional menyapa dalam bahasa Indonesia.

Baca lebih lanjut

Kata Berstatus Liar

Riko Alfonso (Media Indonesia, 15 Jan 2017)

Di DKI Jakarta, kita dapat bertemu dengan sekelompok masyarakat yang tinggal di pinggiran rel kereta, kolong jembatan, atau gubuk-gubuk sempit yang berdempetan. Mereka tinggal sudah bertahun-tahun, berbaur dengan masyarakat sekitar, sehingga sudah dianggap menjadi masyarakat asli daerah itu. Akan tetapi, secara administratif, status para penduduk itu ternyata bukanlah warga DKI Jakarta. Oleh petugas dinas sosial, para penduduk tersebut disebut penduduk liar. Status tak jelas meski telah lama hidup dan berbaur dengan masyarakat asli. Karena berstatus liar, nasib mereka pun menjadi tak diperhatikan.

Baca lebih lanjut

OK OCE?

Ridha Kusuma Perdana* (Media Indonesia, 8 Jan 2017)

Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta 2017 tidak lama lagi akan mencapai puncak. Setelah berbagai polemik mewarnai perjalanannya, pilkada yang paling santer dibicarakan di Tanah Air itu akan segera dilaksanakan. Karena itu, ketiga pasangan calon pun semakin giat mempromosikan program-program mereka. Ada pasangan nomor urut satu, Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, dengan 10 program unggulan mereka, di antaranya bantuan langsung kepada golongan miskin dan kurang mampu serta pengurangan pengangguran dan penciptaan lapangan kerja. Lalu program dari pasangan calon nomor urut dua Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat, mengenai reformasi birokrasi. Yang terakhir, ada program dari pasangan calon nomor urut tiga, Anies Baswedan-Sandiaga Uno, yaitu One Kecamatan One Center for Entrepreneurship.

Baca lebih lanjut

Predator

Ridha Kusuma Perdana*, Media Indonesia, 6 Des 2015

Ilustrasi: Luca Galuzzi

Beberapa waktu lalu, masyarakat dikejutkan dengan banyaknya kasus kekerasan terhadap anak, terutama dalam hal kekerasan seksual. Mulai kasus Engeline di Bali yang dianiaya ibu tirinya, kasus penelantaran anak di Cibubur, hingga kasus terbaru di Kalideres, Jakarta Barat, yakni anak berumur 9 tahun yang tewas dan ditemukan dalam kardus serta telah mengalami kekerasan seksual. Semua kasus tersebut menjadi sorotan berbagai media di Tanah Air, baik media cetak maupun media elektronik.

Baca lebih lanjut

Catut-catutan

Suprianto Annaf*, Media Indonesia, 29 Nov 2015

Ilustrasi: Beritagar.id

Sadar atau tidak, catut-mencatut bukanlah hal asing. Namun, terkadang hal itu dianggap biasa karena ada di tengah kebiasaan. Sering pula diabaikan karena ketidaktahuan. Singkatnya, catut-mencatut pernah terjadi atau justru dialami oleh siapa pun: saya dan Anda!

Baca lebih lanjut

Mala- yang Malasuai

Riko Alfonso*, Media Indonesia, 15 Nov 2015

Ilustrasi: Daily Star

Saat rapat bujet redaksi yang salah satu isinya mengevaluasi isi semua berita–termasuk kesalahan tulisan dan istilah–di dalam koran kami, seorang kawan redaktur mencolek saya dan bertanya mengapa terdapat ketidakkonsistenan dalam penulisan kata malnutrisi. Sepengetahuan dia, istilah yang dipakai untuk mendefinisikan “tidak normal, buruk” ialah bentuk terikat mala-. Oleh karena itu, dia bertanya, mana yang sebenarnya dipakai, malnutrisi atau malanutrisi. Berdasarkan pertanyaan sederhana itu, saya pun tergerak untuk mengangkat masalah ini menjadi sebuah topik tulisan.

Baca lebih lanjut