Mahasiswa dan Menulis

Alvi Puspita*, Riau Pos, 6 Sep 2015

Ilustrasi: Temple University

Ketika mengampu Mata Kuliah Dasar Umum Bahasa Indonesia di beberapa universitas di Riau, saya meminta mahasiswa untuk membuat karangan bebas mengenai diri mereka sendiri sebagai tugas ujian tengah semester. Banyak di antara mereka yang kemudian datang kepada saya sambil mengadu bahwa mereka tidak pandai menulis. Menulis rupanya masih menjadi momok bagi kebanyakan mereka. Padahal, bukankah pelajaran bahasa Indonesia sudah diajarkan sejak di bangku sekolah dasar dan materi mengarang adalah hal yang harus dilalui?

Baca lebih lanjut

Merubah atau Mengubah?

Dessy Wahyuni*, Riau Pos, 2 Nov 2014

Berselancar di dunia maya sangat menyenangkan. Akan tetapi, ketika web browser (perangkat lunak yang berfungsi untuk menerima dan menyajikan sumber informasi) bekerja dengan lelet, kejengkelan pun timbul. Agar dapat berselancar dengan lancar, saya mengikuti saran seorang teman untuk mengganti web browser atau penjelajah di komputer jinjing saya. Untuk itu ia menyarankan saya mempelajari langkah penggantian dengan membaca artikel yang berjudul “Cara Merubah Default Web Browser Komputer”. Awalnya jidat saya agak berkerut saat membaca judul tersebut. Karena saya memilih si Rubah Api sebagai penjelajah yang konon sangat digemari saat ini, saya memaklumi kata merubah pada judul artikel yang disarankan.

Baca lebih lanjut

Me(nye)mbunyikan Sumpah

Agus Sri Danardana, Riau Pos, 26 Okt 2014

Dua data historis tercatat dalam perkembangan bahasa Indonesia (BI) ketika diterima sebagai bahasa persatuan pada 28 Oktober 1928. Pertama, perumusan naskah persiapan Sumpah Pemuda yang semula berbunyi “Kami putra-putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Melayu” (M. Yamin) diubah menjadi “Kami putra-putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia” (M. Tabrani). Kedua, prasaran Ki Hadjar Dewantara dalam Kongres Guru di Den Haag (1916) yang “meramalkan” bahwa bahasa Melayu akan menjadi bahasa persatuan di wilayah Hindia Belanda.

Baca lebih lanjut

Membaca (dan) Teks

Agus Sri Danardana, Riau Pos, 19 Okt 2014

Teks secara umum dimaknai sebagai tulisan, hasil (dari proses) menulis. Teks dapat berisi apa saja: tentang sesuatu, baik yang ada (berwujud, konkret) maupun yang tidak ada (tak berwujud, abstrak). Teks dapat berupa penggambaran, penceritaan, penjelasan, perintah, dan argumen(tasi) penulis terhadap sesuatu itu.

Baca lebih lanjut

Hattrick: Dari Cristiano Ronaldo hingga Stan Van Den Buijs

Imelda Yance*, Riau Pos, 12 Okt 2014

Dalam dua pekan terakhir, istilah hattrick, hat-trick, atau hat trick tiba-tiba marak dipakai dalam pemberitaan baik di media elektronik maupun cetak di tanah air. Kalau menyebut istilah itu, pastilah para pecinta sepak bola langsung ingat kepada bintang sepak bola Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Kali ini, bukan tentang sepak bola, tetapi bersangkut paut dengan orang nomor 1 di Bumi Lancang Kuning, Drs. H. Annas Maamun, Gubernur Riau; dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sang Gubernur tersangkut masalah hukum. Dua nama mantan Gubernur Riau, Drs. H. M. Rusli Zainal, M.P. dan H. Saleh Djasit, S.H., pun dikaitkan dengan istilah itu.

Baca lebih lanjut

Rutuk Radang Tentang Kata Tuhan

Tuhan-membusuk

T.G. Haji Syafruddin*, Riau Pos, 28 Sep 2014

Satu spanduk bertulisan “Tuhan Membusuk, Rekonstruksi Fundamentalisme Menuju Islam Kosmopolitan” terpampang di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel, Surabaya, pada 28—30 Agustus 2014. Tulisan itu menjadi tema Orientasi Cinta Almamater (Oscaar) yang dilaksanakan Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema). Tak dinyana, isi spanduk itu berakibat rutuk radang dan kutuk amuk dan hamun buruk bagi mereka. Berbagai pihak bereaksi mengkritik dan mengecamnya sebagai tindakan yang tidak layak. Front Pembela Islam (FPI) Daerah Jawa Timur pun melaporkan pihak UIN Sunan Ampel kepada kepolisian.

Baca lebih lanjut

Sembilan Kasus Salah Nalar (Bagian 1)

Agus Sri Danardana*, Riau Pos, 7 Sep 2014

Berbahasa dan bernalar (berlogika) adalah dua hal yang dapat dibedakan. Tidak semua orang yang mahir berbahasa menampakkan logikanya dalam bahasa yang digunakan. Padahal, konon, bahasa berpotensi sebagai pembangun logika.

Bernalar adalah berpikir tentang sesuatu, misalnya sebuah kenyataan, dengan berhati-hati dan teliti kemudian disusul dengan pemberian penilaian dan alasan (Purbo-Hadiwidjoyo, 1993:161). Dalam sebuah tulisan, misalnya, nalar penulis terlihat pada cara mengembangkan gagasan dalam sebuah paragraf. Nalar merupakan jiwa atau ruh paragraf, sedangkan kalimat-kalimat yang membentuk paragraf (beserta dengan ciri pola ataupun fungsi sistematikanya) hanyalah badan penampung jiwa itu. “Mens sana in corpore sano ‘dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula’,” kata pepatah.

Baca lebih lanjut

Neokolonialisme

Agus Sri Danardana, Riau Pos, 31 Agu 2014

Apa yang terjadi sekarang ini sesungguhnya hanyalah pengulangan kejadian di masa lalu dalam bentuk lain. Jika dulu ada modernisasi, sekarang ada globalisasi. Keduanya tak pelak merupakan gerakan negara-negara maju (terutama Eropa dan Amerika) yang dilakukan bersama-sama secara masif untuk mengampanyekan paham imperialisme dan kolonialisme yang dianutnya. Rasanya masih segar di ingatan bahwa pada dekade 60-an dulu, bangsa Indonesia pernah dan telah terhegemoni oleh proyek besar yang bernama modernisasi. Proyek besar yang konon mengedepankan paradigama pembangunan sebagai perspektif yang tunggal arah (unilinear) itu, dalam praktiknya, ternyata berkembang dalam bentuk westernisasi.

Baca lebih lanjut

Sastra dan Tanda

Alex R Nainggolan, Riau Pos, 24 Agu 2014

Perlukah sastra sebuah tanda? Perlukah sastra sebuah identitas, semacam layaknya kartu tanda penduduk, yang dilengkapi dengan jenis kelamin atau agama? Saya rasa tidak. Seperti yang pernah diungkap H.B. Jassin—berpuluh tahun lampau—bahwa sastra itu universal. Sastra itu melingkupi kemanusiaan itu sendiri, menyeluruh, tanpa perlu diberikan benteng ataupun palang yang melingkupinya. Ia bisa bertindak bodoh, kemayu, wangi, amoral, religius, dsb. Sastra dengan kekayaan kata-kata yang diberkahinya melingkupi kehidupan itu sendiri.

Baca lebih lanjut