Melecehkan Bahasa Indonesia melalui Kegiatan Literasi

Holy Adib* (Haluan, 26 Feb 2017)

Salah satu cara melecehkan bahasa Indonesia melalui kegiatan literasi adalah menyelenggarakan acara literasi, seperti diskusi dan pameran buku, dengan menamai acara tersebut menggunakan bahasa Inggris.

Salah satu acara seperti itu sedang berlangsung di Sumatra Barat (Sumbar), yakni Minang Book Fair (MBF) 2017. MBF adalah pameran buku yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar, Yayasan Gemar Membaca Indonesia (Yagemi), dan Perpustakaan Nasional RI (PNRI) di Masjid Raya Sumbar pada 24 Februari sampai dengan 5 Maret. Mereka bukan hanya menamai acaranya dengan bahasa Inggris, melainkan juga susunan kegiatannya, seperti opening ceremony, talkshow buku, launching bukuroadshow  buku Penerbit Diva, dan closing ceremony. Entah apa susahnya penyelenggaranya menggunakan upacara pembukaan, bincang-bincang atau gelar wicara buku, pertunjukan keliling atau safari keliling buku Penerbit Diva, dan upacara penutupan.

Baca lebih lanjut

Iklan

Minang Mart dan Kedai Minang

Holy Adib* (Haluan, 3 Agu 2016)

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Barat (Sumbar) berencana mengganti nama Minang Mart menjadi Kedai Minang. Menurut Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit, Minang Mart diganti karena merek itu sudah dipakai oleh pengusaha asal Minang di Bandung dan sudah didaftarkan ke Kemenkumham beberapa hari setelah Minang Mart diluncurkan di Padang (Harianhaluan.com, 31 Juli 2016).

Baca lebih lanjut

Minang Mart dan Undang-Undang Bahasa

Holy Adib* (Haluan, 19 Juli 2016)

Sejak diluncurkan pada Mei lalu, Minang Mart menuai polemik dari sisi ekonomi dan bisnis. Pro dan kontra pun bermunculan melalui sejumlah tulisan di media massa, baik berita maupun artikel. Belakangan ini, polemik tersebut sudah dingin. Barangkali orang sudah mulai lupa dengan Minang Mart. Dalam tulisan ini, saya ingin menghangatkan kembali pembahasan soal Minang Mart melalui sudut pandang bahasa.

Baca lebih lanjut