Belajar dari Bahasa Ibrani

Ibnu Burdah*, Kompas, 20 Mei 2017

Dari dalam maupun dari luar, bahasa Indonesia mengalami tekanan yang hebat. Tekanan dari luar berupa penetrasi bahasa-bahasa dominan dunia yang makin intensif dan masif di dunia nyata maupun virtual. Media baru memperdalam penetrasi ini. Bahasa-bahasa kuat itu dahulu adalah Arab dan Belanda, sekarang Inggris, mungkin sebentar lagi Mandarin. Bahasa India dan Korea juga berpotensi untuk itu. Dari dalam, bahasa Indonesia mengalami tekanan sangat besar pula dengan meluasnya penggunaan slang yang makin mendesak ranah bahasa Indonesia baku dan sikap bangsa ini terhadap bahasanya.

Baca lebih lanjut

Celoteh

Indra Tranggono*, KOMPAS, 13 Mei 2017

Celoteh atau ocehan kini mendapat istilah baru, yaitu cuitan atau kicauan (versi Twitter) dan status (versi Facebook). Celoteh atau ocehan merupakan istilah khas yang muncul dari praktik berbahasa dalam komunikasi konvensional alias tatap muka. Dalam dunia digital, komunikasi tatap muka sering disebut komunikasi luring, luar jaringan. Yakni, komunikasi langsung, nyata (lawan dari maya), dan autentik (lawan dari semu, palsu). Di sana pihak-pihak yang berkomunikasi hadir secara manusiawi, menyosok secara multidimensional, memiliki gagasan, berperasaan, berekspresi, dan beridentitas (bukan anonim).

Baca lebih lanjut

Memanjatkan Doa

Damiri Mahmud*, KOMPAS, 6 Mei 2017

Dalam koran dan majalah sudah jarang sekali kita membaca kontur “memanjatkan doa”, apalagi dalam media cetak di Medan. Frasa itu dihindari dan telah menjadi semacam tabu karena ulah seorang ahli bahasa yang sangat kondang suatu ketika. Logikanya begini: “Apakah doa itu sejenis beruk yang kita suruh memanjat pohon kelapa lalu sampai di atas memetik buahnya dan melemparkannya ke bawah lalu kita memungutnya?” (lihat: Kiliran Jasa Seorang Guru Bahasa, Depdiknas, Pusat Bahasa, Balai Bahasa Sumatera Utara, Medan, 2005, hlm 76). He-he-he, betul juga!

Baca lebih lanjut

Bacalah! Jangan!

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 29 Apr 2017

Sudah waktunya kita saling menasihati untuk jangan membaca terlalu banyak. Oh, ini bukan soal aktivisme. Baca melulu. Kerja kapan? Bukan, bukan itu. Sebagai pemalas besertifikat, penulis merasa bertanggung jawab menjelaskan bahwa sebagian besar, kalau bukan semua, aktivis merasa perlu, dan tampak, bekerja sangat keras superaktif sepanjang waktu karena mereka tidak bisa memikirkan cara mencapai hasil terbaik dengan tenaga dan waktu minimum. Ibaratnya, menulis kolom selama tujuh hari tujuh malam sebulan sebelum tenggat. Penulis yang cerdas akan mulai berpikir satu jam sebelum batas waktu. Hasilnya sama. Masuk koran. Esoknya dilupakan orang. Honor jumlah sama masuk rekening. Begitulah. Kolumnis rajin yang tersinggung sila pergi sana naik sepeda, biar aktif.

Baca lebih lanjut

Deviasi Bahasa Puisi

Muhammad Husein Heikal*, KOMPAS, 8 Apr 2017

Bagi penyair, ada kewenangan istimewa dalam memperlakukan bahasa yang dikenal sebagai deviasi bahasa. Dalam Buku Praktis Bahasa Indonesia (Pusat Bahasa, 2003) dijelaskan bahwa pemahaman bahasa dalam konteks media puisi tidak sama dengan pemahaman terhadap bahasa yang hidup dalam pergaulan sehari-hari. Bahasa sastra berbeda dengan bahasa pidato, buku teks, atau karya ilmiah. Bahasa dalam puisi sering menyimpang dari kaidah atau ketetapan tata bahasa yang normal. Penyimpangan ini dalam linguistik disebut deviasi bahasa. Penyimpangan itu diperbolehkan demi visi puisi sang penyair kesampaian.

Baca lebih lanjut

Maksud dan Niat

Bambang Kaswanti Purwo*, KOMPAS, 25 Mar 2017

Samakah makna kedua kata ini: maksud dan niat? Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyamakan keduanya. Salah satu makna kata maksud adalah ’niat, kehendak’ dan makna kata niat ’maksud, kehendak’. Kesinoniman kedua kata itu tampak saat digunakan berkalimat. Masing-masing dapat saling menggantikan. Di KBBI pun contohnya persis sama: maksud/niat baik.

Baca lebih lanjut

Bahasa Lepas Konteks

Bambang Kaswanti Purwo*, KOMPAS, 18 Mar 2017

Manakala menjumpai kata yang tidak diketahui maknanya, ada jalan keluar: buka kamus. Misalnya, makna kata mengeak pada terdengar olehku suara anak mengeak (novel La Hami, Marah Rusli) dapat ditelusuri pada Kamus Badudu-Zain (1994). Tercatat di situ kata ngeak berasal dari bahasa Minang dengan makna ’suara bayi yang baru lahir’.

Baca lebih lanjut