Relik

Eko Endarmoko* (Kompas, 9 Des 2017)

Kita bacalah dua kalimat ini:

(1)”Ia mengalami rasa sakit melahirkan anak selama tiga hari tiga malam.”

(2)”Lelaki yang terpukul itu menjerit, seolah-olah telah diberi cap dengan besi (seperti hewan ternak yang ditandai), kemudian jatuh berdebum ke bumi.”

Baca lebih lanjut

Iklan

“Hoax”

Samsudin Berlian* (Kompas, 2 Des 2017)

Ternyata bukan hanya penyebar-pertama atau sumber hoax yang sulit dicari. Kata hoax itu sendiri susah ditemukan siapa bidannya. Para pakar pun tidak tahu. Hipotesis: hoax kependekan hocus, bagian pertama dari hocus-pocus. Hocus Pocus adalah nama panggung pesulap ternama di Inggris pada abad ke-17. Menurut Oxford English Dictionary, ketika pentas, si pesulap suka berucap ”Hocus pocus, tontus talontus, vade celeriter iubeo”. Artinya? Kira-kira sama dengan sim-salabim atau abrakadabra, alias celoteh tanpa arti. Bunyinya dimirip-miripkan dengan bahasa Latin supaya terdengar rahasia dan sihiria, bikin orang terpesona. Oxford Advanced Learner’s Dictionary punya varian penjelasan, bahwa asal hocus-pocus itu adalah ”hax pax max Deus adimax”, maknanya sama saja, omong kosong.

Baca lebih lanjut

Universalisme Eksklusif

Samsudin Berlian* (Kompas, 8 Jul 2017)

160418161006_1_900x600

Universalisme eksklusif saat ini hidup dan berkembang pesat di diri orang per orang, kelompok-kelompok masyarakat, dan bahkan masyarakat luas. Universalisme eksklusif dipikir-pikir, direnung-renung, ditimbang-timbang, kok terdengar seperti oksimoron. Ngomong-ngomong, oksimoron itu kira-kira seperti ungkapan ”harus mengundurkan diri” yang ditakuti banyak karyawan, atau ”rela mengantre seharian” yang dilakoni pemburu daging sapi harga diskon jelang Lebaran—kata-kata yang bermusuhan arti disandingkan seolah-olah pasangan sedang akad nikah. Padahal, kalau harus namanya dipecat; kalau mengantre artinya terpaksa. Contoh lain oksimoron adalah aksi ”pentung damai”, ”razia senyum”, atau ”operasi simpatik” terhadap warung yang buka siang hari pada bulan puasa. Nah, universalisme kok eksklusif? Eksklusif kok universal?

Baca lebih lanjut

Zalimis

Samsudin Berlian* (Kompas, 3 Jun 2017)

Telah lahir pada hari ini istilah baru yang sangat perlu dipahami dalam diskursus sosial politik Indonesia kontemporer. Berikut lema dalam “Kamus Besok Bahasa Indonesia” dan satu kutipan pencerah.

za.li.mis

1. n orang atau kelompok yang zalim; pezalim

2. n orang atau kelompok yang (dianggap) sangat melampaui batas perikemanusiaan dalam bertindak zalim

3. n orang atau kelompok yang menganut, mendukung, membela, dan atau mengembangkan ideologi zalimisme dalam politik

Baca lebih lanjut

Secara Terpisah

André Möller* (Kompas, 27 Mei 2017)

Ketika saya membaca koran berbahasa Indonesia atau menonton TV Indonesia (mengapa RRI masih begitu susah disimak secara daring?), saya sering mendengar istilah secara terpisah. Biasanya si wartawan menghubungi seorang pakar dan setelah itu secara terpisah ia menghubungi seorang pakar lain yang mendukung ataupun membantah pendapat pakar pertama. Bisa juga, pakar pertama menyatakan sesuatu, dan secara terpisah pakar kedua menyatakan hal yang sama ataupun hal terbalik. Menurut saya, istilah secara terpisah ini memiliki dua masalah: secara dan terpisah.

Baca lebih lanjut

Belajar dari Bahasa Ibrani

Ibnu Burdah*, Kompas, 20 Mei 2017

Dari dalam maupun dari luar, bahasa Indonesia mengalami tekanan yang hebat. Tekanan dari luar berupa penetrasi bahasa-bahasa dominan dunia yang makin intensif dan masif di dunia nyata maupun virtual. Media baru memperdalam penetrasi ini. Bahasa-bahasa kuat itu dahulu adalah Arab dan Belanda, sekarang Inggris, mungkin sebentar lagi Mandarin. Bahasa India dan Korea juga berpotensi untuk itu. Dari dalam, bahasa Indonesia mengalami tekanan sangat besar pula dengan meluasnya penggunaan slang yang makin mendesak ranah bahasa Indonesia baku dan sikap bangsa ini terhadap bahasanya.

Baca lebih lanjut

Celoteh

Indra Tranggono*, KOMPAS, 13 Mei 2017

Celoteh atau ocehan kini mendapat istilah baru, yaitu cuitan atau kicauan (versi Twitter) dan status (versi Facebook). Celoteh atau ocehan merupakan istilah khas yang muncul dari praktik berbahasa dalam komunikasi konvensional alias tatap muka. Dalam dunia digital, komunikasi tatap muka sering disebut komunikasi luring, luar jaringan. Yakni, komunikasi langsung, nyata (lawan dari maya), dan autentik (lawan dari semu, palsu). Di sana pihak-pihak yang berkomunikasi hadir secara manusiawi, menyosok secara multidimensional, memiliki gagasan, berperasaan, berekspresi, dan beridentitas (bukan anonim).

Baca lebih lanjut