Ingat Pesan Ibu

André Möller (KOMPAS, 12 Jan 2021)

Sudah pasti bahwa setiap usaha ikhlas untuk mencegah penyebaran virus korona merupakan usaha terhormat. Dunia rupanya tidak pernah segelap ini sejak wabah flu Spanyol merajalela sekitar seratus tahun yang lalu, dan kita tentu perlu memerangi ancaman baru ini bersama-sama. Meski begitu, ada cara menyampaikan informasi yang bisa dinilai baik, dan ada kebalikannya.

Sumber Ilustrasi: SMP Negeri 1 Plered

Baca lebih lanjut

Berjarak Sekitar Dua Jam

Pamusuk Eneste (KOMPAS, 5 Jan 2021)

Tanpa sadar kita kadang-kadang memakai kalimat yang seolah-olah benar, tetapi sesungguhnya keliru atau salah. Oleh karena itu, kalimat itu terasa janggal. Perhatikan kalimat berikut. (1) ”Wah, menarik ya, ada tempat menginap di Bogor rasa Bali dengan jarak 1,5 jam saja dari Jakarta”.

Sumber Ilustrasi: Unsplash https://unsplash.com/photos/bMP6dEh8G0A

Baca lebih lanjut

Gelontor, Kucur, ”Netes”

Kasijanto Sastrodinomo (Kompas, 15 Des 2020)

Berapakah dana atau uang yang harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk menangkal wabah yang berkecamuk? Pada awal pandemi diberitakan bahwa pemerintah telah menggelontorkan anggaran untuk mengatasi Covid-19 melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebesar Rp405 triliun lebih (Kompas.com, 31-3-2020). Selain dinyatakan dengan angka, isyarat tentang seberapa besar jumlah dana itu diperkuat kata menggelontorkan. Tak masalah jika kata itu tergolong kasar (lihat KBBI) karena sangat efektif untuk membahasakan hal-hal penting, dan mungkin rumit, bagi khalayak luas.

Baca lebih lanjut

Belantara Makna

Eko Endarmoko (Kompas, 8 Des 2020)

Menghidu rupanya tergolong kata yang agak asing bagi sebagian penutur bahasa Indonesia. Seorang teman menemukannya dalam satu klausa di sebuah tulisan, ”menghidu aroma kopi”. Dia mengira itu tipo alias salah tik sebab ungkapan yang lebih tepat menurutnya adalah ”menghirup kopi”, analog dari ”menghirup udara segar”. Benar begitu?

Baca lebih lanjut

Pelakor dan Misogini

Samsudin Berlian (KOMPAS, 30 Nov 2020)

Pelakor atau perebut laki orang berada di barisan istilah dan ungkapan yang—secara denotatif dan konotatif—menghinakan perempuan berkenaan dengan kedudukannya di dalam masyarakat bervisi laki-laki. Barisan misoginistik itu termasuk (tapi, tentu saja tidak terbatas pada) perusak rumah tangga, penggoda, janda kembang, gatal, penjual diri, dan ibu tiri.

Sumber Ilustrasi: Tribunnews

Baca lebih lanjut

Soal Klise

Eko Endarmoko (Kompas, 28 Apr 2018)

Seorang kawan pada satu hari bertanya, kenapa kita mengeja memprotes, bukan memrotes? Juga mengapa mempertinggi, bukan memertinggi? Ia berargumen, bila huruf /p/ di kedua bentuk setelah mendapat awalan /me-/ itu tidak melesap atau luluh menjadi /m/, bukankah itu berarti kaidah kpst dilaksanakan tidak secara konsisten? Ini adalah tanyaan yang sangat logis, dan sebenarnya cukup sederhana—sekalipun jawabannya saya kira tidak bisa dibilang sederhana.

Baca lebih lanjut

Kepunahan Bahasa Daerah Bisa Dicegah dengan KBBI

M. Paschalia Judith untuk Kompas

Penyerapan kata-kata dari bahasa daerah ke Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI dapat mencegah kepunahan. Akan tetapi, penyesuaian pelafalan dan jumlah editor kamus menjadi tantangan strategi ini.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Indonesia Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah memverifikasi 652 bahasa daerah di tanah air.

Baca lebih lanjut

Pascakebenaran

Samsudin Berlian (Kompas, 7 Apr 2018)

Ketika nyawa-Nya sedang ditimbang di ujung tanduk, antara bebas dan mati, Sang Guru ditanya sang hakim, “Apakah kebenaran itu?” Sang Guru diam saja. Mungkin Dia tahu, apa pun jawaban yang diberikan tidaklah berarti sebab keputusan, yakni keputusan politik, sudah selesai dijatuhkan sebelum pengadilan dimulai. Mungkin Sang Guru mafhum, di mata sang hakim dan massa penuduhnya, yang penting bukanlah kebenaran, melainkan pascakebenaran.

Baca lebih lanjut