Ingat, Bukan Muhrim, Ya

Ridha Kusuma Perdana* (Media Indonesia, 11 Jun 2017)

Setiap memasuki bulan suci Ramadan, selalu saja ada banyak program di media cetak dan elektronik yang sengaja disiapkan untuk menyambutnya, misalnya, acara untuk menemani umat muslim saat bersahur, berbuka, atau rubrik khusus Ramadan di media cetak. Hampir seluruh stasiun televisi juga pasti punya program khusus itu. Mereka tak mau kalah dalam menayangkannya, saling berlomba, dan penuh selama Ramadan.

Baca lebih lanjut

Imsak dan Saum

Riko Alfonso* (Media Indonesia, 4 Jun 2017)

Marhaban ya Ramadan. Seiring dengan kedatangan Ramadan, muncul pula istilah-istilah serapan dari bahasa Arab yang berhubungan dengan bulan puasa ini. Sayangnya, banyak masyarakat kita yang tidak paham dengan makna istilah tersebut sehingga kerap salah kaprah saat penggunaannya.

Dalam rubrik ini, telah pula dipaparkan beberapa kesalahpahaman berbahasa yang kerap muncul di masyarakat umum berkaitan dengan Ramadan. Salah satunya ialah istilah takjil (verba) yang artinya ‘mempercepat (dalam berbuka puasa)’, tetapi malah diartikan sebagai ‘makanan untuk berbuka puasa’.

Baca lebih lanjut

Kutemui Ribuan Kontaminasi

Henry Bachtiar*, Media Indonesia, 21 Mei 2017

Kontaminasi adalah gejala bahasa yang dalam bahasa Indonesia diistilahkan dengan keran­cuan (kekacauan). Kerancuan itu muncul karena susunan unsur bahasa yang tidak tepat, seperti morfem dan kata. Menurut J.S. Badudu, kerancuan dalam bahasa Indonesia dibedakan menjadi tiga macam: kontaminasi bentuk kata, bentuk frasa, dan bentuk kalimat.

Baca lebih lanjut

Salah Ampunan

Adang Iskandar*, Media Indonesia, 7 Mei 2017

PEMERINTAH tengah gencar melakukan pembangunan infrastruktur. Tentu saja diperlukan anggaran yang sangat besar untuk mendukung pembangunan itu. Salah satu yang diandalkan ialah penerimaan negara dari sektor pajak. Pemerintah pun, melalui Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, mengeluarkan kebijakan berupa program pengampunan pajak (tax amnesty) atau sering disebut amnesti pajak.

Baca lebih lanjut

Promo KTP-el

Suprianto Annaf (Media Indonesia, 30 Apr 2017)

Pelabelan yang menyertai kartu tanda penduduk kian semena. Di awal peralihan ke sistem elektronik, pelabelan yang menempeli KTP terkesan keinggris-inggrisan. Masif benda itu disebut E-KTP (electronic KTP). Entah sekadar gengsi-gengsian, semua seperti lupa bahwa kata asing electronic telah lama diserap dan menjadi lema dalam KBBI. Artinya, tidak seharusnya KTP dilabeli E-KTP, tetapi langsung KTP elektronik.

Baca lebih lanjut

Memandang Sebelah Mata

Riko Alfonso* (Media Indonesia, 23 Apr 2017)

Ketika saya sedang berkumpul dengan kawan-kawan beberapa waktu yang lalu, salah seorang kawan saya melontarkan wacana yang cukup menarik. Dia mempersoalkan mengenai istilah ‘memandang sebelah mata’. Menurut dia, istilah yang sering kita anggap memiliki arti ‘meremehkan’ itu tidak tepat diwujudkan dengan aktivitas memandang sebelah mata.

Baca lebih lanjut

Single dan Jomlo

Ridha Kusuma Perdana* (Media Indonesia, 16 Apr 2017)

Beberapa waktu lalu, muncul topik pembicaraan menarik di media sosial mengenai perbedaan dan persamaan kata jomlo dan single, mulai di Twitter, Instagram, Facebook, hingga Youtube. Topik tersebut pun sempat menjadi tren pada saat itu.

Namun, entah dari mana anggapan ini muncul, mereka–para netizen–mempunyai satu suara mengenai perbedaan dan persamaan kedua kata itu.

Baca lebih lanjut

Online Bersaing

Meirisa Isnaeni* (Media Indonesia, 9 Apr 2017)

Perkembangan internet yang begitu cepat telah berdampak pada semua aspek kehidupan, mulai pendidikan, budaya, sosial, hingga ekonomi. Dalam bidang pendidikan, misalnya, ada ujian nasional berbasis komputer atau dikenal sebagai ujian online. Dalam bidang sosial, ada ojek online dan taksi online yang saat ini menimbulkan kontroversi. Bidang ekonomi pun tidak mau ketinggalan, yaitu ada belanja online yang saat ini kian banyak pelakunya. Secara perlahan, pelayanan pada beberapa bidang itu pun berpindah dari dunia nyata ke dunia maya, dari offline ke online.

Baca lebih lanjut

Lengser

Henry Bachtiar (Media Indonesia, 2 Apr 2017)

Dalam beberapa artikel penulis menemukan kata lengser sehubungan dengan posisi kepala negara yang tidak lagi menjabat. Namun, ada yang terasa mengganjal ketika diksi lengser terasa pas ketika dipakai pada satu kalimat, tetapi agak ganjil dalam kalimat yang lain. Dalam kaitan tersebut, penulis menyertakan dua contoh kalimat yang memuat kata lengser sebagai perbandingan.

Baca lebih lanjut