Konser dan Tahlil

Ahmad Sahidah (Pikiran Rakyat, 18 Jun 2017)

Istighotsah kubro Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur (9 April 2017) memantik dukungan luas dari segela penjuru. Di tengah keriuhan kelompok garis keras menyuarakan ide Islam Syariah, isu khilafah, dan aksi Bela Islam, kaum tradisionalis menyerukan kecintaan pada tanah air. Sebagai niat murni, seruan ini bergema bersama video tular (viral) yang menggambarkan ratusan ribu orang menyanyikan lagu “Syubbanul Wathon” dengan tangan bergerak di dada.

Baca lebih lanjut

Iklan

Akronim Ramadan

Encep Abdullah* (Pikiran Rakyat, 28 Mei 2017)

Ramadan adalah bulan yang penuh berkah. Salah satunya berkah akronim. Akronim yang paling populer di telinga kita, antara lain kultum, sanlat, dan bukber. Barangkali Anda menemukan akronim lain, mohon kabari saya (encepabdullah@rocketmail). Siapa tahu tulisan ini masih bisa saya edit lagi. Bila tak ada, saya lanjutkan saja.

Baca lebih lanjut

Takut Dosa

Holy Adib* (Pikiran Rakyat, 13 Nov 2016)

Masih banyak masyarakat Indonesia, terutama yang muslim, bingung menggunakan kata serapan bahasa Arab. Mereka takut berdosa bila menulis kata serapan bahasa Arab tidak sesuai dengan makhraj dalam bahasa asalnya. Sebagai contoh, mereka menulis salat dengan shalat, kalbu dengan qalbu, ustaz dengan ustadz, dan Ramadan dengan Ramadhan.

Baca lebih lanjut

Bahasa Waria

Holy Adib* (Pikiran Rakyat, 7 Agu 2016)

Dalam kehidupan sosial terdapat banyak komunitas atau kelompok, baik resmi maupun tidak resmi. Beberapa komunitas memiliki bahasa tersendiri untuk berkomunikasi antaranggota komunitas. Bahasa tersebut untuk memperkuat keakraban antaranggota atau sebagai bahasa sandi komunitas agar isi pembicaraan atau informasi yang dibincangkan dalam internal komunitas tidak diketahui oleh pihak di luar komunitas.

Baca lebih lanjut

Fonotaktik dalam Akronim

Pikiran Rakyat, 23 Des 2012. Setyadi Setyapranata, dosen Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang.

Sumber gambar: Gillian Adonis

Meskipun masalah fonotaktik dalam akronim ini sudah sering dibicarakan, baik secara “ilmiah” maupun secara populer, masih saja banyak muncul akronim yang sebenarnya menyimpang dari kaidah bahasa Indonesia yang baik.  Sayangnya, di Indonesia pembentukan akronim dilakukan hampir tanpa aturan, meskipun ada pedoman yang mengaturnya, dan juga sudah banyak sekali keluhan dan kritik tentang membanjirnya akronim jelek di masyarakat. Lebih disayangkan lagi, akronim semacam itu justru banyak dicipta oleh instansi resmi, misalnya militer, bahkan Kementerian Pendidikan Nasional yang sebenarnya paling berwenang dalam urusan bahasa nasional.

Baca lebih lanjut

Devosi, Jombrot, dan Tembolok

Pikiran Rakyat, 26 Agu 2012. Setyadi Setyapranata, dosen Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang.

Sumber gambar: DinoMite

“Devosi”, “jombrot”, dan “tembolok”, hanyalah contoh model pengindonesiaan bahasa asing yang boleh dikata mewakili tiga “aliran” penerjemahan istilah teknis. Devosi diserap dari aslinya devotion, rangkaian ritual tertentu di gereja Katolik. Mungkin pencipta istilah semacam ini yakin tidak ada kata dalam bahasa Nusantara yang tepat berpadanan dengan aslinya, baik makna, konsep, maupun bentuknya, maka diserap saja dengan dimiripkan ejaannya. Contoh yang ”sealiran” devosi, misalnya mitigasi, dan hotplat. Semboyan mereka ”Mengapa susah-susah cari terjemahan, kalau serapannya sudah dapat dipahami”. Mereka yakin bahwa cara mereka dapat memperkaya bahasa nasional, dan bahkan dapat mengarah ke ”globalisasi” bahasa kita, meskipun cara ini sering disebut terlalu mengejar bentuk (form-based) aslinya.

Baca lebih lanjut

“Summit”

Pikiran Rakyat, 13 Jun 2011. Imam Jahrudin Priyanto

KECINTAAN terhadap bahasa Indonesia harus terus ditingkatkan. Apalagi di tengah merebaknya penggunaan bahasa asing belakangan ini. Pada tingkat kecintaan yang lebih tinggi, bisa saja ada yang mempertanyakan mengapa harus menggunakan bentuk serapan padahal kata yang dimaksud ada dalam khazanah (unsur asli) bahasa Indonesia.

Saya merasa bangga ketika ada wartawan muda yang mempertanyakan mengapa banyak wartawan lebih senang menggunakan kata destinasi, selebrasi, opsi, ekspektasi, ataupun disparitas. Padahal bahasa Indonesia memiliki kata tujuan, perayaan, pilihan, harapan, ataupun kesenjangan.

Baca lebih lanjut

Pa-ra-hyang-an

Pikiran Rakyat, 25 Apr 2011. Imam Jahrudin Priyanto

SEBAGAI pengguna bahasa, sering kali kita tidak terlalu peduli terhadap asal usul kata yang kita gunakan. Misalnya parahyangan, priangan, raden, raka, rama, rayi, ratu, ataupun rahayu.

Sekarang kita kaji dulu kata parahyangan. Kata ini dipakai sebagai nama universitas swasta terkemuka di Kota Bandung dan (pernah) juga menjadi nama kereta api yang teramat populer pada rute Bandung-Jakarta atau sebaliknya. Bagaimana kata ini terbentuk?

Baca lebih lanjut

Singkatan

Pikiran Rakyat, 12 Feb 2011. Ajip Rosidi: Penulis, sastrawan.

Kegemaran bangsa kita membuat singkatan sudah sampai pada tingkat eksesif. Pada mulanya singkatan hanya dibuat untuk nama-nama lembaga atau orang. Mula-mula singkatanm terdiri atas huruf-huruf pertama nama yang bersangkutan seperti PLN dari Perusahaan Listrik Negara, PBB dari Persatuan Bangsa-Bangsa, TNI dari Tentara Nasional Indonesia, Kementerian P.P. dan K. dari Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan, Kementerian PU dari Kementerian Pekerjaan Umum, dan lain-lain. Ketika nama-nama itu berubah, singkatannya pun berubah, misalnya Kementerian P.P. dan K menjadi Kementerian P dan K karena kata pengajaran dihilangkan. Namun ketika kata kebudayaan dihilangkan (kemudian dipindahkan digabungkan dengan Kementerian Pariwisata), menjadi Departemen Pendidikan Nasional, singkatannya bukan Departemen PN, melainkan Departemen Diknas, ”dik” dari kata pendidikan dan ”nas” dari kata nasional.

Baca lebih lanjut