Sastra dan Tanda

Alex R Nainggolan, Riau Pos, 24 Agu 2014

Perlukah sastra sebuah tanda? Perlukah sastra sebuah identitas, semacam layaknya kartu tanda penduduk, yang dilengkapi dengan jenis kelamin atau agama? Saya rasa tidak. Seperti yang pernah diungkap H.B. Jassin—berpuluh tahun lampau—bahwa sastra itu universal. Sastra itu melingkupi kemanusiaan itu sendiri, menyeluruh, tanpa perlu diberikan benteng ataupun palang yang melingkupinya. Ia bisa bertindak bodoh, kemayu, wangi, amoral, religius, dsb. Sastra dengan kekayaan kata-kata yang diberkahinya melingkupi kehidupan itu sendiri.

Baca lebih lanjut

Pernalaran

Agus Sri Danardana, Riau Pos, 17 Agu 2014

Pernalaran dapat diartikan sebagai proses bernalar, yakni kegiatan berpikir secara teratur berdasarkan aturan logika. Dalam keseharian, proses bernalar yang mengikuti aturan logika itu sering disebut (kegiatan) analisis.

Menurut para ahli, kemampuan bernalar tidak semata-mata ditentukan oleh tingkat kecerdasan seseorang. Orang yang ber-IQ tinggi belum tentu mampu bernalar jernih jika tidak terlatih. Sebaliknya, orang yang ber-IQ sedang-sedang saja dapat bernalar jernih jika rajin berlatih. Jadi, kuncinya adalah berlatih, berlatih, dan berlatih.

Baca lebih lanjut

Jebred, Jebret, dan Jepret

Beni Setia*, Riau Pos, 10 Agu 2014

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1995) memuat lema nekad dan nekat. Lema nekad (yang tidak dirinci maknanya) dirujuk ke lema nekat (yang memiliki pendadaran makna lebih rinci). Artinya, nekat dianggap sebagai bentuk yang baku, bukan nekad. Sayang, tak diterangkan asal usul kedua lema itu. Apakah nekat itu memang berasal dari bahasa Jawa, seperti biasa terujuk dalam rumusan banda nekat ‘modal nekat’. Padahal, yang sebetulnya banda itu kukuh bergabung dengan donga: banda donga ‘modal doa’.

Mengapa kita (setidaknya penulis) merasa nekad lebih baku daripada nekat? Mungkin, karena nekat bercita rasa lokal, diserap dari bahasa Jawa. Anehnya, justru banyak orang yang menjadikan hal itu sebagai acuan. Contohnya, dalam pemberitaan Final Piala AFF 2013 U-19 di Sidoarjo lalu jebret tidak ditulis dengan /d/, tetapi dengan /t/.

Baca lebih lanjut

Kembali ke Fitri

Agus Sri Danardana, Riau Pos, 3 Agu 2014

Idul Fitri (sering) dimaknai kembali ke fitrah, seperti bayi yang baru lahir, dalam keadaan suci. Mungkin karena itulah kehadirannya senantiasa disambut dengan penuh antusias oleh seluruh umat Islam. Idul Fitri dianggap sebagai hari kemenangan melawan segala hawa nafsu yang membuat manusia dalam keadaan penuh dosa.

Menurut Quraish Shihab, ada tiga macam fitrah yang harus direngkuh manusia: (1) fitrah kebenaran, dalam bentuk ilmu; (2) fitrah kebaikan, dalam bentuk etika; dan (3) fitrah keindahan, dalam bentuk seni. Perpaduan antara ilmu, etika, dan seni itulah yang membuat hidup manusia menjadi tertib, rukun, dan damai. Jika diterapkan pada penggunaan bahasa, dengan demikian, kembali ke fitrah dapat diartikan sebagai berbahasa secara benar (sesuai dengan norma/kaidah), baik (sesuai dengan situasi pemakaiannya), dan kreatif.

Baca lebih lanjut